Pencarian 

Kesmavet Produk.pnghewan.pngim1

Beranda

Media Website Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner menerima tulisan yang dikirim ke alamat redaksi melalui email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. . Tulisan bersifat orisinil, aktual dan informatif tentang kesehatan masyarakat veteriner diketik rapi 1,5 spasi. Panjang tulisan 2-3 halaman diketik format *.doc(words file) maksimal 7000 karakter termasuk spasi. Foto pendukung minimal 2 buah  dengan ukuran masing-masing maksimal sebesar 2MB. Sebelum diterbitkan tulisan di review dan disunting oleh Tim redaksi tanpa merubah isinya.  Perlu kami sampaikan sebelumnya pengiriman tulisan gratis dan tidak tersedia honor bagi penulis. 

BAGAIMANA MENCEGAH MIKROBA DALAM PANGAN SIAP SAJI(READY TO EAT FOOD)

Oleh: Drh. Andi Eka Putra (Medik Veteriner Pertama)

PENDAHULUAN

Pangan siap makan (ready to eat food/RTE) adalah pangan yang siap untuk dikonsumsi dan tidak perlu dimasak yang biasanya disimpan dalam pendingin atau pada suhu kamar. Contoh pangan RTE adalah daging, sushi, sayur-sayuran dan buah-buahan. Perubahan gaya hidup membuat tingkat konsumsi akan pangan ini sangat tinggi, namun hal ini dapat berpotensi memperbesar resiko tercemar mikroorganisme patogen yang terkandung di dalamnya. Proses penanganan pangan tanpa dimasak ini memungkinkan hidup dan berkembangnya mikroorganisme patogen yang membahayakan keamanan pangan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mikroorganisme patogen yang sering ditemukan pada pangan RTE adalahClostridium botulinum, Escherichia coli, Salmonella spp., Listeria monocytogens, Yersinia enterocolitica, Staphylococcus aureus, Shigella spp., Bacillus cereus danCampylobacter jejuni yang termasuk ke dalam food borne.

RTE 1

 

Contoh pangan ready to eat food

Listeria monocytogens

Listeria monocytogens dapat menyebabkan penyakit serius pada manusia dan biasanya ditularkan melalui pangan. L. Monocytogens dapat tumbuh atau bertahan hidup bahkan dalam kondisi dingin. Oleh karena itu penting untuk mengelola kebersihan dan membatasi masa simpan bahan pangan siap makan (RTE) dan produk olahan. Listeria sp. berbentuk batang (Krauss et al. 2003), berukuran kecil dan termasuk bakteri gram positif. Motilitas umum bakteri ini pada suhu 20-25°C, dengan pH 4,5-9,2. Listeria tumbuh baik pada lingkungan yang memiliki tekanan oksigen rendah dan tumbuh pada aktivitas air di bawah 0,93. Bakteri ini bersifat aerobik, mikroaerofilik, fakultatif anaerobik, katalase positif, memfermentasi glukosa dan oksidasi negatif. Pertumbuhan Listeria sp. Akan meningkat dengan adanya glukosa.

Listeriosis

Listeriosis merupakan suatu penyakit yang dapat menunjukkkan berbagai gejala klinis. Beberapa penelitian menyatakan sebagian besar infeksi berasal dari pangan yang terkontaminasi. Kasus listeriosis pada manusia telah dilaporkan di berbagai negara dengan memiliki tingkat kematian cukup tinggi mencapai 20%. Sekitar tahun 1942 Listeria diisolasi dari tentara yang mengalami meningitis dan pada tahun 1972 L. Monocytogenes diduga menjadi penyebab keguguran. Menurut dokumen standar pemeriksaan L. Monocytogenes pada pangan tahun 2003, genus Listeria memiliki 6 spesies, yaitu L. Monocytogenes, L. Innocua, L. Seeligeri, L. Welshimeri, L. Ivanovii, dan L. Grayi. Dari keenam spesies tersebut, diketahui hanya L. Monocytogenes yang bersifat patogen terhadap manusia apabila mengontaminasi pangan atau minuman yang dikonsumsi.

Eschericia coli

Genus eschericia pertama kali ditemukan oleh seorang dokter anak berkebangsaan Jerman yang juga mengisolasi spesies Eschericia coli. Selain itu juga ditemukan lima spesies lainnya yaitu E. albertii, E. blattae, E. fergusonii, E. hermanni, dan E. vulneris. E. coli merupakan yang paling patogen. Bakteri ini biasa ditemukan pada mikroflora intestinal hewan berdarah panas dan manusia. E. coli yang patogen dapan menyebabkan berbagai penyakit antara lain gastroenteritis, disentri, infeksi saluran kemih, septisemia, pneumonia dan meningitis.

RTE 2

Contoh pangan ready to eat food

PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN

Pencegahan listeriosis dan infeksi E. coli pada manusia meliputi pencegahan mengonsumsi pangan yang terkontaminasi dan pencegahan penularan antar manusia. Pencegahan meliputi mengurangi kontaminasi pangan dari kotoran hewan dan memasak pangan sampai matang dengan suhu yang cukup. Pencegahan juga memerlukan biaya lintas sektoral yang melibatkan pemerintah, industrI pangan dan konsumen. Dalam hal ini, pihak harus industri bertanggung jawab untuk mengikuti peraturan praktek higiene dan mematuhi aturan yang dibentuk oleh pemerintah. Industri pangan harus menyadari pentingnya keamanan pangan dan mencari cara untuk memastikan keamanan produk seperti penerapan HACCP.

PEMBAHASAN

Pangan siap makan (RTE) tidak perlu dimasak atau dipanaskan sebelum dikonsumsi. Hal ini menyebabkan tingginya jumlah mikroorganisme patogen yang dapat berkembang dalam pangan dikarenakan pengolahan, pemanasan yang tidak sempurna serta kontaminasi sekunder memlalui cemaran dari alat yang digunakan untuk pengolahan seperti papan, pisau dan lainnya. RTE food merupakan pangan yang sering terkontaminasi dan dari segi resiko pangan jenis ini memiliki resiko yang tinggi terhadap penyakit seperti listeriosis. Pangan RTE terdiri atas berbagai bahan pangan, dan disimpan dengan cara dan kondisi yang berbeda, dan siap dikonsumsi tanpa pengolahan terlebih dahulu. Beberapa contoh ready to eat food diantaranya sosis siap makan, salad, sandwich, semi soft cheeses, pate dan ikan asap. Pangan yang dapat dikaitkan dengan transmisi mikroorganisme kebanyakan berasal dari pangan siap saji. Sumber cemaran tidak hanya berasal dari pangan tetapi juga karena faktor lain seperti jenis pangan, kemasan, mesin yang digunakan, suhu penyimpanan, kurangnya penerapan HACCP yang efektif dan kurangnya pengetahuan tentang mutu pangan yang baik

Kehadiran mikroorganisme seperti E. coli dalam produk pangan RTE menunjukkan adanya kontaminasi sekunder. Coliform dan E. coli merupakan mikroorganisme yang paling sering ditemukan mengontaminasi pangan RTE. Mikroorganisme ini biasanya ditemukan dari pangan berupa produk daging dan pangan laut, dan sayur-sayuran. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh I Made (2008) terhadap cemaran E. coli pada daging, wadah air dan tempat pengolahan pangan di pedagang kaki lima, restoran dan rumah makan menunjukkan bahwa kontaminasi E. coli pada bahan pangan memperoleh nilai tertinggi yaitu 40%.Sejumlah penelitian menunjukkan kontaminasi E. coli berasal dari pangan. Penelitian di Bangkok menunjukkan bahwa bakteri coloiform ditemukan lebih dari 50% pada pangan.

Listeria monocytogens juga merupakan salah satu bakteri yang banyak dtemukan pada pangan. Pangan yang berpotensi sebagai media penularan bakteri ini yaitu susu yang tidak dipasteurisasi, keju lunak, telur mentah, daging mentah, seafood serta sayuran dan buah-buahan yang tidak dimasak ( Lorber 2007). Kontaminasi utama pada susu terjadi secara vertikal. Pada daging sumber kontaminasi berasal dari sisia feses yang ikut masuk ke dalam tempat pemotongan, sedangkan pada telur berasal dari kerabang telur.Manusia yang mengonsumsi pangan terkontaminasi L. Monocytogenes akan mengalami demam, nyeri otot, mual dan diare. Orang dewasa dan anak-anak yang sehat jarang jatuh sakit karena mengonsumsi pangan terkontaminasi L. Monocytogenes. Peluang terjadinya gangguan kesehatan lebih banyak pada wanita hamil dan orang dengan sistem imun yang terganggu.

Sekitar akhir tahun 1970-an penyakit ini menjadi wabah foodborne disease di Amerika Utara (Bhunia 2008). Pada tahun 1985 di California, Amerika Serikat, sebanyak 142 orang menderita meningitis akibat listeria sp dan menyebabkan kematian pada 48 orang setelah mengonsumsi keju yang berasal dari susu yang tidak dipasteurisasi. Penyakit klinis yang disebabkan oleh L. Monocytogenes lebih sering dilaporkan oleh dokter hewan berupa meninggoensefalitis pada ruminansia.        

KESIMPULAN

Mengingat pangan Ready to eat food (RTE) tanpa dimasak terlebih dahulu, sehingga proses penanganan seperti ini dapat menjadi sumber cemaran penyakit (foodborne disease) karena dengan keadaan pangan yang seperti ini sangat memungkinkan untuk perkembangan mikroorganisme yang menjadi sumber penyakit. Listeriosis dan kolibasilosis adalah contoh penyakit yang sering ditimbulkan karena mengonsumsi Ready to Eat food.

DAFTAR PUSTAKA

Bhunia AK. 2008. Foodborne Microbial Pathogens. New York: Springer sci.

Krauss H, Weber A, Appel M, Enders B, Isenberg HD, Schiefer HG, Slenczka W. 2003. Zoonoses: Infectious Disease Transsmissible from Animals to Humans. Washington DC: ASM Pr.

Lorber B. 2007. Listeriosis. Di dalam Goldfine H, Shen H, editor. Listeria monocytogenes: Pathogenesis and Host Response. New York: Springer sci. Hlm 13-32.

Que-King Wei, Shu Ling Hwang, dan Tong-Rong Chen. 2005. Microbiological quality of ready to eat food product in southern taiwan. J food drug analysis 14:68-73.

Warapa M, Wipawade O, Siripon S, Nitaya P, Phattaphorn C, Tanaporn B. 2010. Risk evaluation of popular ready to eat food sold in bangkok. As. J. Food Ag-Ind 3(01):75-81.

Biswas S, Parvez MAK, Shafiquzzaman M, Nahar S, Rahman MN. 2010. Isolation and characterization of eschericia coli in ready to eat foods vended in islamic university, kushtia. J. Bio Sci 18:99-103.

Penerapan Kesejahteraan Hewan Pada Kuda

Oleh : Subdit Kesejahteraan Hewan - Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner

Kuda telah dimanfaatkan manusia sebagai salah satu hewan kesayangan, hewan pekerja, dan ternak pedaging. Dalam dunia olahraga kuda juga mendapatkan porsinya dalam cabang olahraga ketangkasan berkuda (equestrian) dan pacuan kuda yang dipertandingkan secara nasional/internasional, misalnya PON, Olimpiade, Asian Games, dan Sea Games. Selain itu kuda juga digunakan dalam kontes-kontes serta panahan dengan menaiki kuda. Berbagai asosiasi maupun organisasi yang menyangkut segala hal tentang kuda telah berkembang di seluruh dunia.

Kuda 1

Ilustrasi olahraga ketangkasan berkuda /equestrian (Sumber: Hidayatullah A.,2017)

         Pada tahun 2018 lalu Indonesia terpilih sebagai tuan rumah Asian Games ke XVIII telah diselenggarakan pada tanggal 18 Agustus sampai dengan 2 September 2018 di dua kota besar yaitu Jakarta dan Palembang. Segala persiapan sedang dilakukan oleh pemerintah dalam rangka mensukseskan penyelenggaraan acara tersebut meliputi sarana-prasarana dan persyaratan teknis yang mendukung acara tersebut termasuk persyaratan Equine Disease Free Zone (EDFZ) sebagai syarat utama penyelenggaraan event olah raga berkuda. Berkaitan dengan persyaratan teknis tersebut penerapan kesejahteraan hewan merupakan salah satu persyaratan yang harus dipenuhi. Kesejahteraanhewan didefinisikan sebagai segala urusan yang berhubungan dengan keadaan fisik dan mental hewan menurut ukuran perilaku alami hewan yang perlu diterapkan dan ditegakkan untuk melindungi hewan dari perlakuan setiap orang yang tidak layak terhadap hewan yang dimanfaatkan manusia. 

       Penerapan kesejahteraan hewan dalam pemeliharaan kuda olahraga, kuda kesayangan, sebagai kuda pekerja, dan ternak pedagingberlandaskan pada pemenuhan 5 prinsip kebebasan hewan (five freedom) :

1. Bebas dari rasa haus dan lapar(Freedom from hunger and thirst)

2. Bebas dari rasa tidak nyaman (Freedom from discomfort)

3. Bebas dari luka cedera, sakit, dan penyakit(Freedom from pain, injury and disease)

4. Bebas dari rasa takut dan tertekan(Freedom from fear and distress)

5. Bebas mengekspresikan perilaku alami(Freedom to express natural behaviour)

Beberapa poin penting yang harus diperhatikan dalam penerapan kesejahteraan hewan pada kuda terkait point-point five freedom tersebut antara lain:

Pemahaman Perilaku Kuda

        Sebelum menerapkan kesejahteraan hewan kita perlu mengetahui dan memahami perilaku alamiah hewan tersebut. Pemahaman perilaku kuda penting untuk mengetahui kondisi fisik dan mental kuda. Pemahaman karakteristik pada kuda yang penting diketahui minimal terkait dengan adanya indikasi ketidaknyamanan/rasa sakit, ketakutan/kecemasan, dan indikasi stress.

       Kuda secara alamiahnya merupakan hewan yang lebih nyaman dalam kelompok sehingga sedapat mungkin dipelihara bersama kuda lainnya agar dapat bersosialisasi. Namun pada kuda yang memiliki sifat agresif dapat dipelihara secara terpisah terutama jenis kuda jantan. Kuda membutuhkan exercise yang cukup secara rutin.Kuda yang merasa tidak nyaman ditandai dengan perubahan perilaku menekan kepala, menggertakkan gigi, menggeram, menjatuhkan pakan, menggelengkan kepala, menendang perut, dan lain-lain. Dari ketidaknyamanan tersebut dapat menyebabkan kuda menjadi merasa ketakutan menghindari manusia dan malas untuk bekerja bahkan berhenti ketika dipasang muatan terutama pada kuda pekerja. Pada saat inilah sering terjadi kesalah pahaman pemilik/perawat kuda hingga melakukan perbuatan kasar seperti memukul/mencambuk secara berlebihan dengan harapan kuda mau bekerja dan ternyata tetap tidak mau. Kuda yang malas bekerja mungkin juga disebabkan karena sedang sakit. Kuda yang berperilaku agresif bisa saja dapat saja berperilaku seperti ini. Kuda yang mengalami stress ditandai dengan berbagai macam tingkahlaku menggigit kandang, berjalan bolak-balik di kandang, dan defekasi.

Pemberian Pakan Dan Air

       Kuda harus memiliki akses air minum yang bersih setiap saat (ad libitum). Saat cuaca panas kebutuhan air dapat meningkat. Setelah exercise kuda perlu diberi tambahan air minum. Kuda dalam kondisi laktasi juga membutuhkan lebih banyak air. Oleh karena itu air minum perlu disediakan secara kontinue dan berlebih (ad-libitum). Kuda mendapatkan akses makan dan air minum yang cukup untuk menjaga kesehatan tubuh kuda. Kuda adalah pemakan rumput dengan jumlah kecil tetapi sering.Selain rumput kuda juga dapat diberi hay dan konsentrat. Namun pemberian konsentrat berlebihan dapat menyebabkan gangguan pencernaan dan laminitis (peradangan jaringan kuku). Pemberian pakan pada kuda harus cukup sesuai dengan kondisi alaminya dan pada waktu yang teratur serta dilakukan secara bertahap.

      Kuda pekerja sebaiknya disediakan akses pakan yang berimbang dengan kualitas yang cukup sesuai dengan kebutuhan fisiologisnya yang mendukung pekerjaannya. Pakan berkontribusi penting terhadap kondisi tubuh kuda yang terkait erat dengan penyakit, stress, ketidaknyamanan, dan perilaku abnormal kuda. Pemilik/perawat kuda sebaiknya membiarkan kuda merumput/beristirahat untuk makan dengan hijuan berserta yang baik untuk pencernaan. Hijauan yang dicacah bisa juga disediakan bila tidak memungkinkan merumput. Hijauan kering dapat disediakan bila hijauan tidak tersedia. Air juga sangat penting bagi kuda pekerja yang harus disediakan secara teratur dan cukup sesuai dengan kebutuhan fisiologis/pekerjaannya.

Perlindungan Dari Gangguan

       Kuda secara alami merupakan hewan liar yang hidup di dataran terbuka, setelah didomestikasi oleh manusia naluri alamiah (insting) kuda untuk menyelamatkan diri dari predator masih tetap ada. Kuda membutuhkan waktu tertentu untuk berada di padang penggembalaan.Mengurung kuda dalam kandang secara terus menerus akan menimbulkan rasa tertekan pada kuda. Kurangnya interaksi sosial dan ruang gerak akan menyebabkan stress dan distress pada kuda. Tidak semua kuda memerlukan kandang, tergantung dari jenis dan bangsa(breed) kuda. Pada beberapa jenis kuda yang berbulu tebal dengan pemeliharaan ekstensif tanpa dikandangkan sepanjang tahun dapat dilakukan. Namun, pada kuda tua maupun baru lahir kandang atau tempat berlindung sangat diperlukan.

        Kandang kuda harus dibuat senyaman mungkin bagi kuda, terbuat dari bahan yang kuat dan tidak berbahaya bagi kuda, memiliki ventilasi dan pencahayaan yang cukup, lantai kandang tidak licin dan memiliki system drainase yang baik. Kandang kuda harus dapat memberikan perlindungan terhadap cuaca ekstrim, predator, dan luka sehingga kuda dapat beristirahat dengan nyaman.

Kuda 2

Illustrasi Kandang dengan ventilasi dan cahaya yang cukup

(Sumber : Cerulli P., 2017)

           Pada kuda pekerja, sebaiknya kuda tidak berada dalam kandang (indoor) dalam waktu yang lama karena akan menimbulkan stres pada kuda. Perawat hewan harus memahami kondisi kuda pekerja terhadap lingkungannya sehingga kuda tidak menderita stres panas dan stres dingin. Perawat harus terlatih mengatasi keadaan hipertermia ketika tidak tersedia bantuan dokter hewan. Pencegahan dapat dilakukan misalnya dengan cara menyediakan tempat berteduh, menyiapkan air minum, menghindari bekerja pada saat suhu tinggi. Indikator dari ketidakmampuan kuda untuk bekerja termasuk adanya stres panas, kelelahan, kondisi tubuh yang kurang fit dan kehilangan berat badan. Luka karena pemasangan harnes dan respon dari perilaku melawan, misalnya terhadap harnes atau peralatan.

Penanganan/Handling Kuda

           Penanganan/handling kuda harus dilakukan tanpa kekerasan dan tidak menimbulkan stress pada kuda yang dilakukan oleh orang terlatih dan kompeten. Perawat kuda harus mampu menangani kuda dengan baik menghilangkan praktik penanganan kuda yang tidak aman/manusiawi dan meningkatkan praktik manajemen penanganan kuda dengan baik. Hal terpenting terkait penanganan kuda yaitu terkait perawatan kaki/kuku, pengikatan, dan pemasangan harnessing yang tidak menimbulkan luka saat menarik beban. Peralatan yang dipergunakan misalnya tali terbuat dari bahan yang tidak menyebabkan sakit atau luka, dilarang menggunakan tongkat/cambuk yang dapat menyakiti.

Kuda 3

Kuda pekerja sedang menarik beban (Sumber : Hidayat W., 2010)

Pada kuda pekerja pertimbangan memperkerjakan kuda juga sangat penting terkait dengan beban yang diberikan. Kuda umumnya bekerja maksimal 6 jam perhari dan diberikan waktu istirahat minimal satu atau dua hari penuh dalam tujuh hari. Pertimbangan lain juga diberikan pada kuda yang dipekerjakan terutama saat cuaca panas dengan memberikan waktu istirahat dan ketersediaan air minum.

kuda 4 rez

Kuda pekerja sedang istirahat sebaiknya di tempat yang teduh

Penanganan kuda setelah tidak digunakan (sudah afkir/pensiun); kuda yang sudah tua tidak dimanfaatkan juga harus dirawat dengan baik hingga mati, artinya kuda juga harus diberikan kecukupan makan dan minum, perawatan gigi dan kaki, vaksinasi, perlindungan (penghangat), dll seperti layaknya kuda yang masih produktif.

Biosekuriti DanKesehatan Hewan

Salah satu prinsip kesejahteraan hewan yang harus diterapkan adalah bebas dari luka cedera, sakit, dan penyakit. Biosekuriti penting dalam mencegah dan menangani penyakit pada kuda. Pencegahan dan pengobatan segera dilakukan dengan cepat bila ditemukan luka, infeksi, infestasi, dan penyakit. Setiap kuda yang sakit harus dipisahkan dari kuda yang sehat. Jika kuda dipelihara dengan sitem padang penggembalaan, sistem rotasi harus diterapkan untuk menghindari infestasi parasit seperti caplak. Untuk meningkatkan kekebalan terhadap penyakit tertentu kuda harus diberikan vaksinasi contohnya vaksinasi terhadap penyakit tetanus, herpes, dan equine influenza. Untuk menjaga kesehatannya kuda juga harus dijaga kebersihannya dan di lakukan perawatan khusus. Perawatan gigi dan kuku perlu dilakukan secara rutin pada kuda. Salah satu penyakit yang sering menyerang bagian teracak/kuku kuda yaitu adalah laminitis. Laminitis merupakan radang pada kuku kuda yang dapat disebabkan buruknya perawatan pada kuku kuda disamping dapat dipicu oleh faktor predisposisi yang lainnya seperti pakan.

Pada kuda pekerja, pemilik/perawat kuda pekerja harus memahami kudanya yang sedang menderita gejala penyakit, stress dan luka. Perawat/pemilik harus segera menanganinya jika perawat menduga ada penyakit dan tidak dapat mengatasinya harus mencari saran dari dokter hewan.

Mematikan Kuda Yang Sesuai Dengan Kaidah Kesejahteraan Hewan

Mematikan kuda dilakukan pada kuda-kuda yang pengalami penderitaan berkepanjangan misalnya sakit/cedera yang tak dapat disembuhkan, dan stress yang berkepanjangan (distress). Hal ini merupakan pilihan terakhir jika tidak ada solusi sehingga dapat dilakukan dengan cara suntik mati menggunakan obat bius atau menggunakan tembakan senjata dengan ukuran peluru yang pas dan SDM yang terlatih. Untuk kuda pekerja yang sudah tidak berfungsi sebagaimana mestinya tidak boleh diterlantarkan harus tetap dirawat dengan baik atau menentukan pilihan lain yang perlu dipertimbangkan. Pemotongan kuda juga dapat dilakukan dengan alasan tertentu, misalnya kuda komersial yang digunakan sebagai kuda potong untuk diambil dagingnya (Sumber : horse spot Irlandia).

Aturan Penerapan Kesejahteraan Hewan Kuda Pada Kompetisi(disarikan dari berbagai sumber)

Aturan penerapan kesejahteraan hewan kuda sangat spesifik, contohnya dalam olahraga kuda ketangkasan (equestrian) telah diatus dalam FEI (Federation Equestrian International)14th Edition 2018.

1.    Secara umum penerapan kesejahteraan hewan pada kuda meliputi manajemen pemeliharaan kuda, metode latihan, perawatan kaki/kuku/sepatu, transportasi, dan perlakuan saat transit. Dalam hal transportasi kuda yang di pindahkan dengan jarak di atas 65 km dan lebih dari 8 jam harus dilakukan oleh orang dengan kompetensi khusus. Ketentuan terkait penerapan kesejahteraan hewan secara umum berlaku untuk semua perjalanan hewan.Fasilitas kendaraan, loading dan unloading dan pananganan kuda harus dirancang untuk menghindari cidera. Pada saat kuda ditransportasikan dan saat event olahraga berkuda berlangsung, kuda harus mendapatkan pakan, air dan istirahat yang cukup.Kuda tidak boleh ditinggalkan sendiri kecuali jika berada di tempat penampungan / trailer, dan diketahui berperilaku jinak.Untuk alasan keamanan, kuda hanya boleh diikatkan ke sebuah trailer/horsebox dalam waktu yang tidak lama dan cepat dilepaskan (Sumber ; FEI dan British Horse Society). Prinsip penerapan kesejahteraan hewan selama hewan ditransportasikan terutama dalam perjalanan jauh bahwa kuda bebas dari rasa cedera, fasilitas angkut tidak terlalu padat, kuda tidak boleh kurang istirahat/kelelahan, kurang makan dan minum, dan kuda terhindar dari kemungkinan penyakit yang menyerang pada kuda (Horse sport Irlandia).

2.    Penerapan kesejahteraan hewan pada saat event berlangsung meliputi persiapan :

-   Area kompetisi; area kompetisi didesain aman untuk perlombaan kuda

-   Arena/lapangan; lapangan/tanah yang dipijak kuda dirawat yang memudahkan kuda berjalan dan tidak menimbulkan cedera

- Kondisi cuaca; pada saat kompetisi berlangsung menghindari lokasi yang memiliki cuaca ekstrem, yang mengancam kesejahteraan dan keamanan kuda. Persiapan harus dilakukan untuk menjaga kuda dalam kondisi yang stabil dan peralatan yang mendukung setelah kuda kompetisi

-   Kandang/stable; kandang aman, nyaman, sirkulasi udara lancar, bersih dan tidak terlalu padat. Pembersihan area dan ketersediaan air harus selalu dijaga.

3.    Menjaga kebugaraan kuda saat perlombaan meliputi :

-  Kuda harus mendapatkan masa istirahat yang cukup antara masa latihan dan saat bertanding, juga selama perjalanan/transportasi

-  Status kesehatan; menentukan kuda untuk boleh dipertandingkan/tidak sesuai anjuran dokter hewan penanggungjawab

-  Penggunaan obat-obatan dan doping saat pertandingan merupakan isu pelanggaran kesesejahteraan hewan. setelah kuda dilakukan pengobatan dipastikan hewan benar-benar

   pulih sebelum pertandingan

-   Tindakan operasi yang dilakukan pada kuda/atlitnya dalam kompetisi tidak diijnkan hingga benar-benar sembuh

-   Kuda bunting tidak boleh mengikuti kompetisi setelah bunting 4 bulan

-   Penyalahgunaan penggunaan cambuk/alat pacu tidak diperkenankan

-   Penunggang yang memakai taji (spurs) harus mengerti cara memakai, menerapkan dan menggunakan taji dengan benar. Disain spurs tidak boleh menyakiti kuda.

Kuda 5

Illustrasi salah satu disain spurs (sumber : Falkingham L., 2016)

Kesimpulan

        Dari uraian singkat penerapan kesejahteraan hewan kuda diatas dapat disimpulkan bahwa :Penerapan kesejahteraan hewan dalam pemeliharaan kuda mencakup untuk olahraga, kuda kesayangan, sebagai kuda pekerja, dan ternak pedaging harus dilandaskan pada pemenuhan 5 prinsip kebebasan hewan (five freedom).Penerapan kesrawan pada kuda melibatkan koordinasi yang baik terhadap pemilik/perawat kuda, peralatan yang dipergunakan, perilaku kuda, dan kondisi lingkungan yang mendukung. Aturan penerapan kesejahteraan hewan kuda yang tersedia saat ini sangat spesifik misalnya aturan yang ada saat ini tentang olahraga kuda ketangkasan (equestrian) telah diatur dalam FEI dan panduan penerapan kesejahteraan hewan pada kuda pekerja pada OIE (Terresterial Animal Health Code). Implementasi penerapan kesejahteraan hewan pada kuda membutuhkan kerjasama dan pemahaman yang mendalam dari seluruh komponen yang terlibat.

DAFTAR PUSTAKA

BHS, 2018.The British Horse Society Guidelines for the Welfare of Horses and Ponies at Events.Diunduh pada 21 Mei 2018. Tersedia pada : www.bhs.org.uk

Cerulli P., 2017. 15 Amazing Horse Barns You Could Probably Live In. http://www.wideopenpets.com/15-amazing-horse-barns-probably-live/

Defra. 2009. Code of Practice for the Welfare of Horses, Ponies, Donkeys and their Hybirds.https://www.gov.uk/government/uploads/system/uploads/attachment_data/file/69389/pb13334-cop-horse-091204.pdf.

Falkingham L., 2016. Which are the best spurs for dressage?. Diunduh Pada 21 Mei 2018. Tersedia pada : http://www.horseandhound.co.uk/features/best-spurs-dressage-534763

FEI, 2013. Fei Code Of Conduct For The Welfare Of The Horse 2013, (diunduh pada 2018,20 April) tersedia pada : https://inside.fei.org/system/files/Code_of_Conduct_Welfare _Horse_1Jan2013.pdf

FEI, 2018. Veterinary Regulations. 14th Edition 2018, effective 1 January 2018 Switzerland

Hidayat W. Angkutan Tradisional. Diunduh pada 21 April 2018. Tersedia pada : https://www.antarafoto.com/bisnis/v1288085417/angkutan-tradisional

Hidayatullah A., 2017. INASGOC Uji Coba Dua Venue Berkuda Asian Games 2018. Diunduh pada 21 April 2018. Tersedia pada : https://www.suara.com/news/2017/10/14/025501/inasgoc-uji-coba-dua-venue-berkuda-asian-games-2018

KBHH, 2017.The Five Freedoms (Keeping Britain Horse Healthy/KBHH).Diunduh pada 26 Oktober 2017. Tersedia pada : https://www.healthyhorses.co.uk/horse-health/five-freedoms.

OIE, 2017. Teresterial Animal Health Code 2017 (Diunduh pada 2018, April 17) Tersedia pada :http://www.oie.int/international-standard-setting/terrestrial-code/access-online/

 

 

PENGAWASAN DAN PENEGAKAN HUKUM SECARA MULTIDOOR PADA KASUS PEREDARAN DAGING CELENG ILEGAL

Oleh: Drh. Widarto, MP *) Drh. Anis Trisna Fitrianti, MSi **)

Pendahuluan

Indonesia sebagai Negara hukum harus menjadikan hukum sebagai pedoman yang utama dalam hal menyelesaikan berbagai masalah termasuk penyelesaian masalah dalam hal penanganan kejahatan. Berbagai bentuk kejahatan dapat menimpa korban baik secara perorangan, kelompok hingga Negara. Kejahatan atau penyimpangan bisa saja terjadi secara bersamaan (korporasi) sehingga dalam penanganan penyidikan tindak pidana di persangkakan dengan persangkaan komulatif.

Dalam penyidikan suatu tindak pidana dapat melibatkan beberapa instansi terkait yang terlibat secara bersama sesuai dengan undang-undang yang menjadi dasar hukumnya dan kewenangannya. Saat ini telah banyak tindak pidana yang menyangkut di berbagai bidang seperti bidang kehutanan, pertambangan, perkebunan, pertanian, peternakan, lingkungan hidup, penataan ruang, dan lain-lain yang ditangani melalui pendekatan multi undang-undang atau dikenal dengan istilah multidoor.

Tujuan dari penegakan hukum melalui pendekatan multidoor adalah agar penanganan perkara dapat dilaksanakan lebih optimal dengan sanksi pidana yang maksimal sehingga dapat memberikan efek jera bagi para pelakunya.

Dalam rangka meningkatkan kinerja dan kerjasama penanganan perkara secara multidooroleh PPNS, maka Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menginisisasi dengan mengadakan workshop Peningkatan Kapasitas Penyidik Pegawai Negeri Sipil(PPNS) dalam Penanganan Tindak PidanaMelalui Pendekatan Multidoor pada tanggal 29-30 Agustus 2018 di Bogor.

Telah disepakati hasil pertemuan tersebut bahwa Kementerian/Lembaga dapat mengusulkan penanganan perkara prioritas yang dapat ditangani oleh PPNS secara multidoor. Terkait hal ini, PPNS Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan mengusulkan salah satu perkara yang dapat ditangani secara multidoor yaitu“penanganan peredaran daging celeng ilegal di Indonesia”.

Apa Itu Multidoor???

Secara singkat, pendekatan multidoor dapat diartikan sebagai pendekatan penegakan hukum atas rangkaian atau gabungan tindak pidana yang mengandalkan berbagai peraturan perundangan. Pada prinsipnya, pendekatan multidoordapat dipahami sebagai bentuk kerjasama antar penegak hukum dalam mengatasi kejahatan dengan menggunakan dasar pendekatan berbagai peraturan dan perundang-undangan yang ada. Kejahatan tersebut diselidiki dengan menggunakan beberapa dimensi hukum, bertujuan untuk memperkuat penanganan kasus dan membuat penegakan hukum akan lebih efektif.

Tujuan pendekatanmultidooryaitu untuk meminimalkan kemungkinan pelaku melarikan diri dari sanksi yang lebih berat karena keterbatasan satu peraturan atau hukum. Tujuan lainnya yaitu untuk mengenakan sanksi pada otak kejahatan atau orang yang bekerja di belakang layar (penyandang dana) serta memberikan efek jera dan memaksimalkan pengembalian kerugian negara akibat suatu kejahatan.

Sekilas Tentang Celeng dan Daging Celeng

Babi hutan atau celeng (Sus scrofa) merupakan nenek moyang babi liar yang menurunkan babi ternak (Sus domesticus). Babi hutan termasuk salah satu satwa yang mendunia yang berasal dari benua Eropa dan Asia, termasuk di Indonesia.Babi hutan atau celeng (Sus scrofa Linnaeus) menjadi nenek moyang babi domestik (Sus domesticus) yang banyak diternakkan hingga sekarang.

Secara global, populasi babi hutan tidak terancam, bahkan berlimpah. Bahkan di berbagai tempat termasuk di Indonesia hewan ini dianggap sebagai hama perkebunan dan pertanian. International Union for Conservation of Nature(IUCN)Redlistmenggolongkan babi hutan ke dalam status least concern dan di Indonesia tidak termasuk hewan yang dilindungi. Satwa liar baik dari habitat alam maupun hasil penangkaran dapat dimanfaatkan di dalam budidaya untuk menghasilkan hewan peliharaan sepanjang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan tentang konservasi satwa liar.

Di Indonesia, daging babi hutan atau celeng diperoleh dari hasil buruan yang merupakan hama pengganggu tanaman yang umumnya berasal dari daerah Sumatera meliputi Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Sumatera, Selatan dan Lampung.Daerah tujuan daging celengadalah pulau Jawa terutama Banten, Jabodetabek bahkan sampai ke Kalimantan.

Daging celeng merupakan sumber hayati yang dapat dimanfaatkan untuk pakan satwa kebun binatang, sebagai bahan pangan untuk komunitas tertentu, dan bahkan dapat berpotensi sebagai komoditas ekspor.Oleh karena itu perlu pembinaan dan pengawasan yang dilakukan secara komperhensif dari hulu sampai hilir oleh instansi/lembaga yang terkait agar dapat maksimal.

Pembinaan dan Pengawasan Peredaran Daging Celeng

Pembinaan dan pengawasan peredaran daging celeng dapat dilakukandi daerah asal, di tempat pengeluaran atau pemasukan, dan di daerah tujuan. Kegiatan ini dilakukan oleh instansi/dinas yang berwenang, yaitu:

1.    Pembinaan di daerah asal dilakukan dengan membina dan mengawasiunit usaha, meliputi:

a. Penanganan daging celeng (pengiriman ke lokasi RPH-Babi atau kepengumpul, penanganan babi hutan hasil buruan, pemeriksaan post mortem, penandaan/label, penanganan karkas, pengemasan, penyimpanan, dan pengangkutan);

b.   Pengujian laboratorium;

c.    Sertifikasi (Sertifikat Veteriner);

d.   Pembinaan dan Sertifikasi NKV;

e.   Rekomendasi Pengeluaran

f.     Kontrak dengan pembeli.

2.    Pengawasan di tempat pengeluaran atau pemasukan dilakukan tindakan karantina.

3.    Pembinaan dan pengawasan di daerah tujuanmeliputi:

a.  pembinaan unit usaha distributor/gudang penyimpanan dingin (cold storage);

b.  Tempat penjualan/kios daging;

c.  Pengujian laboratorium;

d.  Pembinaan dan Sertifikasi NKV cold storage;

e.  Rekomendasi pemasukan;

f.    Pengawasan secara terpadu dengan instansi terkait

Penegakan Hukum Secara Multidoor pada Peredaran Daging Celeng Ilegal

Kasus peredaran daging celeng ilegal dapat berupa pembohongan terhadap konsumen yaitu pengoplosan daging celeng dengan daging sapi dan pemalsuan daging celeng sebagai daging sapi serta pemalsuan terhadap dokumen persyaratan. Penanganan perkara peredaran daging celeng ilegal dapat dilakukan oleh PPNS dari Kementerian/Lembaga terkait dengan sanksi sesuai dengan multi undang-undang (multidoor) dari hulu sampai hilir.

*) Medik Veteriner Madya/Koordinator PPNS Ditjen PKH

**) Medik Veteriner Muda/PPNSDitjen PKH

 

Sekapur Sirih 

Drh. Syamsul Maarif M.Si

Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh,

Kami dengan rasa gembira menyambut partisipasi Anda di situs web kami. Sejalan dengan semakin berkembangnya tuntutan masyarakat terhadap fungsi dan peran Kesehatan Masyarakat Veteriner serta seiring kemajuan teknologi informasi saat ini maka situs ini akan kami gunakan untuk melayani dan menghubungkan Anda dengan Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Read more: Sekapur Sirih

 

Polling Kesmavet 

Menjadi Direktorat yang Mampu Mewujudkan Pelayanan Kesehatan Masyarakat Veteriner Profesional dalam Menjamin Kesehatan dan Ketentraman Bathin Masyarakat.

Visi Kesmavet-Paspa

Pengunjung 

We have 24 guests and no members online

Video 

Pengelolaan dan Pelaksanaan Kurban Yang Benar, Aman, dan Nyaman ------------------------------------------------------------- Cara Memilih Hewan Kurban Yang Baik ------------------------------------------------------------- Metode Perobohan dan Pemotongan Hewan (Sapi) ------------------------------------------------------------- Desain Fasilitas Pemotongan Hewan Kurban(Portable) ------------------------------------------------------------- Pemeriksaan Antemortem Postmortem ------------------------------------------------------------- Kesejahteraan Hewan Kurban ------------------------------------------------------------- Nomor Kontrol Veteriner (NKV) ------------------------------------------------------------- Dialog Penerapan Kesejahteraan Hewan ------------------------------------------------------------- Waspada Penyakit Zoonosis ------------------------------------------------------------- Ayam dan Hormon ------------------------------------------------------------- Penggunaan Antimikrobial Yang Bijak -------------------------------------------------------------

Sebaran Pengunjung