Pencarian 

Kesmavet Produk.pnghewan.pngim1

Beranda

Media Website Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner menerima tulisan yang dikirim ke alamat redaksi melalui email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. . Tulisan bersifat orisinil, aktual dan informatif tentang kesehatan masyarakat veteriner diketik rapi 1,5 spasi. Panjang tulisan 2-3 halaman diketik format *.doc(words file) maksimal 7000 karakter termasuk spasi. Foto pendukung minimal 2 buah  dengan ukuran masing-masing maksimal sebesar 2MB. Sebelum diterbitkan tulisan di review dan disunting oleh Tim redaksi tanpa merubah isinya.  Perlu kami sampaikan sebelumnya pengiriman tulisan gratis dan tidak tersedia honor bagi penulis. 

Berbagi Kasih Melalui Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) Kesejahteraan Hewan di HUT Ke-3 Indonesia Rare Disorders (IRD) Community

Mendekatkan Hewan Kesayangan dengan Anak-anak Berkebutuhan Khusus dan Kelainan Langka

Indonesia rare disorders (IRD) merupakan komunitas bagi penyandang maupun keluarga dengan kelainan langka (rare disorders) di Indonesia. Dalam rangka HUT ke-3 Komunitas IRD yang dilaksanakan pada tanggal 30 September 2018 di Scientia Park Serpong, Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner dan  beberapa komunitas Pet Lovers (anjing, Sugar glider, landak, ayam hias, reptil) di undang untuk dapat berpartisipasi dalam acara tersebut. Komunitas IRD berkeinginan untuk mendekatkan hewan kesayangan dengan anak berkebutuhan khusus dan kelainan langka. Melalui acara ini, Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner berkeinginan berbagi kasih melalui KIE Kesejahteraan Hewan kepada anak-anak tersebut. Dengan mengenalkan hewan kesayangan kepada anak-anak dapat memberikan energi positif yang dapat mempengaruhi emosional, sensorik, motorik, dan perilakunya.

IRD 1

Bagaimana anak-anak berkebutuhan kusus ini dapat berani mendekatkan diri dan memperlakukan hewan dengan baik merupakan praktik implementasi nilai-nilai kesejahteraan hewan. Kesejahteraan hewan dalam definisinya merupakan segala urusan yang berhubungan dengan keadaan fisik dan mental hewan menurut ukuran perilaku alaminya yang perlu diterapkan dan ditegakkan untuk melindungi hewan dari setiap perlakuan yang tidak layak. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa aspek kesejahteraan hewan dalam pandangan global telah berkembang pesat dengan segala konsekuensinya yang dapat berdampak terhadap kebijakan perdagangan nasional, citra bangsa beradab yang dapat mempengaruhi tatanan hubungan antar bangsa serta secara ilmiah terbukti dapat berhubungan dengan produktivitas hewan. Kesejahteraan hewan juga merupakan dimensi etis, sosial, budaya berbasis sciencetifik (dapat dibuktikan secara keilmuan) yang memiliki banyak manfaat baik bagi hewan dan manusia.

IRD 1 1

 

Beberapa tahun terakhir isu kesejahteraan hewan mulai tumbuh di masyarakat di Indonesia. Hal ini dapat kita lihat dengan banyaknya berita terkait kesejahteaan hewan baik dalam media lokal maupun internasional. Oleh karena itu Indonesia perlu segera melaksanakan penataan berbagai hal terkait dengan aspek penerapan kesejahteraan hewan baik dalam hal regulasi maupun implementasinya. Hal ini merupakan tanggung jawab kita bersamadalam hal upaya penyelenggaraan kesejahtearan hewan baik sebagai pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat sesuai dengan amanat Undang-undang nomor 18 tahun 2009 jo Undang-undang Nomor 41 tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesejahteraan Hewan pasal 67.

IRD 1 2

Pembentukan karakter dan kepribadian bangsa juga harus dimulai sejak usia dini yaitu pada masa kanak-kanak. Anak bangsa sebagai generasi penerus yang akan mewarisi budaya bangsa yang memiliki kepribadian dan sikap yang manusiawi terhadap hewan akan menjadi penerus bangsa yang lebih peka dan bertanggung jawab terhadap kelangsungan sumber daya dan budaya bangsa. Aspek kesejahteraan hewan menjadi salah satu faktor kunci dalam pembuatan kebijakan yang berkemanusiaan dan peduli lingkungan. Oleh karena itu, melalui acara bertema: Let’s Fun with Petsdi Banten 2018, perlu memberikan edukasi sedini mungkin kepada anak-anak berkebutuhan khusus terkait penerapan kesejahteraan hewan, yaitu bagaimana memperlakukan hewan sebaik mungkin dengan memperhatikan 5 prinsip kesejahteraan hewan:

1.  Bebas dari lapar dan haus;menyediakan air minum (ad libitum) dan pakan yang cukup bagi hewan untuk memenuhi kebutuhan fisiologis hewan;

2.  Bebas dari rasa ketidaknyamanan;menyediakan lingkungan yang sesuai mulai dari kandang dan tempat istirahat, dan lingkungan sekitar pemeliharaan yang aman dan nyaman;

3. Bebas dari rasa sakit, luka atau penyakit; memperlakukan/menangani hewan dengan baik menghindarkan hewan dari rasa sakit, luka, dan penyakit yang mengancam kesehatan hewan;

4. Bebas dari rasa takut dan tertekan;memastikan hewan tehindar dari tindakan kekerasan yang dapat menimbulkan rasa takut bagi hewan yang dapat mempengaruhi mental hewan sehingga hewan menjadi stress (distress)/tertekan;

5.  Bebas mengekspresikan perilaku alaminya; memberikan kebebasan bagi hewan untuk mengekspresikan tingkah laku alamiahnya sebagai hewan misalnya memberikan ruang gerak yang cukup, naluri perilaku/kebiasaan hewan, mengindari tindakan ekspoitasi terhadap hewan yang menyebabkan perubahan perilaku alami hewan.

Dengan KIE Kesrawan ini diharapkan saudara dan anak-anak yang tergabung dalam komunitas IRD dapat menjadi model dan duta untuk penerapan kesejahteraan hewan. Dengan memberikan contoh dalam memperlakukan hewan yang baik sesuai dengan lima prinsip kesejahteraan hewan secara perlahan akan membentuk karakter anak baik secara emosional, sensorik, sosial dan budaya. Interaksi dan sosialisasi dengan hewan dapat membawa pengaruh positif terhadap perkembangan perilaku sosial pada anak usia sekolah. Hal ini juga dapat memainkan peran penting dalam mencegah kekerasan di sekolah maupun di lingkungan mereka bermain.Seluruh pihak optimis dan memberikan dukungan penerapan kesejahteraan hewan di Indonesia, meskipun kesejahteraan hewan sampai saat ini masih dianggap isu yang baru. Kita semua yakin bahwa kesejahteraan hewan  merupakan isu penting yang dapat meningkatkan citra moral dan citra bangsa di mata dunia(red’18).

Menyikapi Perdagangan/Peredaran Daging Anjing di Indonesia

Anjing merupakan hewan kesayangan yang tidak layak untuk di jadikan hewan konsumsi. Walaupun sampai saat ini konsumsi daging anjing oleh kalangan tertentu masih terjadi di beberapa wilayah di Indonesia seperti di Sumatera Utara, Maluku, DKI, Solo, Jogjakarta, Sulawesi Utara. Hal ini merupakan tantangan tersendiri bagi pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat  untuk melakukan pembatasan dalam rangka pengawasan perdagangan/peredaran daging anjing. Sebagian besar masyarakat sepakat untuk tidak mengkonsumsi daging anjing karena berbagai alasan seperti penyakit, aspek kehalalan, perasaan (sentiens) mengingat anjing adalah hewan kesayangan, aspek kesejahteraan hewan, dll.  

Disisi lain aspek hak asasi manusia sebagai pedagang daging anjing juga perlu diperhatikan, seorang pedagang daging anjing yang sudah sekian lama menjalani pekerjaannya sebagai penjual daging demi menghidupi dirinya dan keluarganya harus beralih profesi mencari alternative pekerjaan lain. Hal ini berkaitan dengan hak asasi sebagai manusia dalam hal mendapatkan penghidupan yang layak sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945 pasal 27 “Setiap warga negara berhak mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan”.  

Walaupun demikian ditilik dari peraturan perundang-undangan yang berlaku bahwa  tidak ada aturan yang spesifik mengatur tentang perdagangan daging anjing di Indonesia. Namun demikian beberapa peraturan perundangan dapat dijadikan pendekatan dalam upaya memperketat perdagangan daging anjing di Indonesia. Peraturan perundangan tersebut tersebut yaitu KUHAP pasal 302, Undang-Undang Nomor 18 tahun 2009 jo Undang-Undang Nomor 41 tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, Undang-undang nomor 18 tahun 2012 tentang Pangan, Peraturan Pemerintah Nomor 95 tahun 2012 tentang Kesehatan masyarakat Veteriner dan kesejahteraan Hewan, Peraturan Pemerintah Nomor 47 tahun 2014 tentang Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit Hewan, Peraturan Pemerintah Nomor 82 tentang Karantina Hewan dll. (penjelasannya dapat di akses dalam tulisan sebelumnya berjudul Konsumsi Daging Satwa Eksotik Dan Daging Anjing Kontroversi Serta Aspek Hukumnya. Ketentuan pidananya juga dapat dilihat dalam Undang-Undang Nomor 18 tahun 2009 Jo Undang-undang Nomor 41 tahun 2014 pasal 91(b); Undang-Undang Nomor 18 tahun 2012 tentang Pangan Pasal  135, dan KUHP pasal 302.

Perdagangan/peredaran daging anjing menyangkut berbagai aspek kehidupan yang sangat komplek seperti hukum, sosial budaya, ekonomi, SARA, penyakit, dan keamanan pangan serta definisi pangan. Mengingat perdagangan daging anjing menyangkut multi dimensi yang sangat komplek tersebut pemerintah perlu berhati-hati dalam mengatur perdagangan/peredaran daging anjing di Indonesia. sebagai contoh dari aspek penyakit daging anjing untuk konsumsi dapat berpotensi menyebarkan penyakit zoonotik yang berdampak  negatif bagi kesehatan hewan, manusia, dan lingkunganya seperti rabies, trichinelosis, salmonella, dll. Dalam upaya meningkatkan pengawasan perdagangan daging anjing pemerintah telah membuat Surat Edaran tentang Peningkatan Terhadap Pengawasan Peredaran/Perdagangan Daging Anjing. Dengan upaya ini diharapkan pemerintah dan pemerintah daerah bersama masyarakat dapat lebih bersinergi dalam upaya memperketat pengawasan perdagangan dan atau peredaran daging anjing(red’18).  

“OIE Regional Workshop on Vector Borne Disease in the Asia Pacific Region” Incheon-Korea

Pendahuluan

Indonesia merupakan negara tropis yang kaya akan biodiversifitas plasmanutfah baik tumbuhan maupun serangga (arthropoda) yang dapat berpotensi sebagai vektor penyakit. Penyakit tular vektor (Vector borne disease/VBD) dapat menimbulkan dampak yang serius bagi manusia, kesehatan hewan, kesejahteraan hewan, keamanan pangan, perdagangan dan kemiskinan. Dari sekitar 17% penyakit menular, 25% diantaranya merupakan penyakit baru yang bersifat tular vektor. Sifat penyakitnya tidak hanya menyerang satu jenis spesies saja tetapi dapat bersifat multi spesies. Jenis vektor penyakit yang terdapat disekitar kita kebanyakan merupakan golongan arthropoda (serangga) seperti nyamuk, kutu, tungau, lalat, kecoa, lalat pasir, dll. Distribusi, transmisi, dan kejadian meluasnya penyakit yang disebabkan oleh vektor kadang tidak diketahui secara pasti. Bisa jadi terkait kepekaan hospes, iklim, dan lingkungan habitat dalam melangsungkan siklus hidup vektor. Hubungan antara lingkungan, vektor, hospes dan pathogen menjadi sangat penting dalam epidemiologi penyakit tular vektor. Banyak hal yang dapat mempengaruhi status penyakit bersumber vektor seperti perubahan iklim, perubahan habitat, kontak manusia dan hewan liar, perdagangan, dan penggunaan insektisida untuk mengendalikan populasi vektor sehingga menimbulkan dampak resistensi. Kegiatan worksop ini dilakukan bertujuan untuk saling berbagi pengalaman terkait kejadian penyakit khususnya di regional Asia-Pasifik; mempelajari kejadian kasus di suatu negara, diskusi bersama menemukan solusi dalam menghadapi penyakit bersumber tular vektor, dan mengidentifikasi kemungkinan isu yang dapat dijadikan prioritas di negara masing-masing.

Korea

Pelaksanaan Kegiatan Workshop

Workshop dilaksanakan pada tanggal 10-11 September 2018 di Nest Hotel, Incheon, Korea Selatan yang diselenggarakan oleh OIE bekerjasama dengan pemerintah Korea Selatan. Kegiatan workshop tersebut dihadiri perwakilan delegasi dari beberapa negara yaitu Korea Selatan, Australia, Bangladesh, Brunei, Bhutan, Kamboja, China, Fiji, Iran, India, Jepang, Laos, Malaysia, Indonesia, Mongolia, Myanmar, Nepal, Sri langka, New Caledonia, New Zealand, Thailand, Vanuatu, Vietnam, dan Singapura. Workshop dilakukan dengan sesi materi, diskusi, dan sesi poster dengan mengundang sejumlah ahli dibidang penyakit tular vektor yaitu Dr. Debbie Eagles (The animal Health Laboratory/AAHL) Australia, Dr. Upik Kesumawati Hadi (FKH-IPB), Dr. Chang-Kweng Lim (National Institude of Infection Diseases/NIID), Dr. Tohru Yanase (National Institute of Animal Health (NIAH), Dr. Indrawati Sendow (Indonesian Research Center for Veterinary Sciences (IVETRI), Prof. Joon-Seok Chae (Seoul National University), Dr. Jong Yul Roh (Korea Centers for Disease Control & Prevention/KCDC), Dr. Dongkun Yang (Animal and Plant Quarantine Agency (APQA), dan Kementerian Pertanian, Pangan dan Urusan Pedesaan (MAFRA) Korea. Hasil pelaksanaan kegiatan workshop ini adalah :

1. Sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan bahwa sub topik yang dibahas dalam pertemuan workshop ini meliputi : update situasi terkini kondisi penyakit tular vektor di kawasan Asia-Pasifik, pengalaman melakukan kegiatan surveillance vektor, pola distribusi dan muncuilnya penyakit bersumber vektor, pengalaman menghadapi penyakit vektor di beberapa negara, dan diskusi bersama dengan praktisi/ahli.

2. Dari hasil diskusi bersama dengan delegasi yang berasal dari beberapa negara tersebut ada beberapa point penting yang menjadi perhatian yaitu :

a.     Sampai saat ini ada beberapa penyakit prioritas yang perlu diwaspadai bersifat tular vektor yang sering terjadi di kawasan Asia–Pasifik yaitu babesia, trypanosoma, blue tongue, theileria, Bovine Ephemeral Fever (BEF), akabane, Scmallenberg, Old world screw worm (miasis), palyam, dan penyakit-penyakit tular vektor pada hewan kesayangan. Disamping itu beberapa penyakit yang juga muncul adalah Japanese Enchepalitis (JE), West Nile Virus, African Swine Fever (ASF), Severe Fever with Thrombocytopenia Syndrome (SFTS), Leismania, dan Scrup typhus.  

b.   Dalam upaya mengantisipasi munculnya penyakit yang bersifat endemis maupun exotic perlu dilakukan kegiatan surveillans. Surveillans yang dilakukan yaitu surveillans terhadap penyakit dan surveillans terhadap vektornya. Surveillance terhadap vektor minimal mendapatkan data terkait jenis, stadium, kepadatan populasi, dan distribusinya. Surveillans terhadap penyakit hewan merupakan pengumpulan data-data sampel hasil pemeriksaan laboratorium. Dari hasil surveillans vektor dan penyakit ini di harapkan dapat dengan mudah mengambil tindakan mengantisipasi kejadian penyakit bersumber tular vektor.

c.   Pentingnya peningkatan kemampuan teknis diagnosis bagi petugas. Hal ini mencakup kemampuan laboratorium, sumber daya (peningkatan kemampuan sumber daya), dan saling bertukar informasi data dalam perkembangan diagnosis.

d.   Penerapan konsep One Health”. One Health merupakan kolaborasi bersama dalam upaya meningkatkan kesehatan manusia, hewan dan lingkungan agar terhindar dari penyakit. Dalam mewujudkan konsep one health ini membutuhkan kerjasama yang baik lintas sektor terutama antara kesehatan manusia dan kesehatan hewan.

Kesimpulan

Seiring dengan perubahan iklim secara global dan perdagangan bebas, kegiatan Workshop ini penting dilakukan secara periodik untuk mendapatkan informasi update situasi terkini penyakit bersumber vektor di beberapa negara khususnya kawasan Asia-Pasifik. Untuk meningkatkan kewaspadaan dini terhadap ancaman penyakit yang bersumber vektor di Indonesia perlu dilakukan surveillance secara periodik (bulanan dalam satu tahun) untuk melihat fluktuasi berbagai ragam vektor dan surveillance terhadap penyakit. Kita ketahui bersama bahwa vektor (arthropoda) erat kaitanya dengan perubahan iklim dan kondisi geografis yang dapat mempengaruhi dinamika populasi vektor.Antisipasi dini mencegah penyakit akan lebih memberikan keuntungan daripada setelah terjadinya wabah penyakit hal ini dapat memutus rantai penyakit dari jalur vektor (red-2018).

Sekapur Sirih 

IMG 20170919 151033

Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh,

Kami dengan rasa gembira menyambut partisipasi Anda di situs web kami. Sejalan dengan semakin berkembangnya tuntutan masyarakat terhadap fungsi dan peran Kesehatan Masyarakat Veteriner serta seiring kemajuan teknologi informasi saat ini maka situs ini akan kami gunakan untuk melayani dan menghubungkan Anda dengan Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Read more: Sekapur Sirih

 

Polling Kesmavet 

Menjadi Direktorat yang Mampu Mewujudkan Pelayanan Kesehatan Masyarakat Veteriner Profesional dalam Menjamin Kesehatan dan Ketentraman Bathin Masyarakat.

Visi Kesmavet-Paspa

Pengunjung 

We have 5 guests and no members online

Video 

Pengelolaan dan Pelaksanaan Kurban Yang Benar, Aman, dan Nyaman ------------------------------------------------------------- Cara Memilih Hewan Kurban Yang Baik ------------------------------------------------------------- Metode Perobohan dan Pemotongan Hewan (Sapi) ------------------------------------------------------------- Desain Fasilitas Pemotongan Hewan Kurban(Portable) ------------------------------------------------------------- Pemeriksaan Antemortem Postmortem ------------------------------------------------------------- Kesejahteraan Hewan Kurban ------------------------------------------------------------- Nomor Kontrol Veteriner (NKV) ------------------------------------------------------------- Dialog Penerapan Kesejahteraan Hewan ------------------------------------------------------------- Waspada Penyakit Zoonosis ------------------------------------------------------------- Ayam dan Hormon ------------------------------------------------------------- Penggunaan Antimikrobial Yang Bijak -------------------------------------------------------------

Sebaran Pengunjung