SATGAS POS KOMANDO SIAGA PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN SIAP IKUT MENGANTISIPASI ERUPSI GUNUNG AGUNG

Category: Beranda
Created on Tuesday, 03 October 2017 10:33
Hits: 436

Tindakan antisipasi kemungkinan terjadinya erupsi Gunung Agung membuat prihatin berbagai pihak untuk ikut bersama-sama mengambil peranan masing-masing. Berbagai bantuan berupa fisik dan psikis perlu dipersiapkan dalam antisipasi kejadian erupsi Gunung Agung dengan cara bergotong-royong. Penyelamatan utama adalah penyelamatan terhadap nyawa manusia sehingga untuk mengantisipasinya penduduk di daerah terdampak wajib relokasikan ke tempat pengungsian yang lebih aman. Langkah berikutnya adalah penyelamatan terkait semua harta benda yang di dalamnya termasuk ternak-ternak hidup dan nyawa hewan kesayangan maupun hewan liar/eksotik. Dalam hal ini penanganan ternak di daerah terdampak bencana dibutuhkan penanganan yang cepat, tepat, dan terkoordinasi dengan baik. Seluruh elemen harus bahu-membahu untuk mengatasi kondisi tersebut sesuai dengan peranannya masing-masing.

Satgas Pos Komando Siaga Peternakan dan Kesehatan Hewan Antisipasi Erupsi Gunung Agung yang terdiri dari Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali, dan Dinas Pertanian Kab. Karangasem juga bekerjasama dengan berbagai pihak seperti PDHI (Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia), Fakultas Peternakan UGM, Pakultas Peternakan UNUD, Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI), Gabungan Pengusaha Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo), Forum Pimpinan Perguruan Tinggi Peternakan Indonesia, Perhimpunan Sarjana Sosial Ekonomi Peternakan Indonesia, dan Asosiasi Ilmu Nutrisi Indonesia serta tak kalah penting berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Bali sat

Suasana tenda, pengungsi, gudang sembako, dan ternak yang diselamatkan

Upaya real yang sudah dilakukan Tim Satgas Peternakan dan Kesehatan Hewan adalah membentuk Satgas Peternakan dan Kesehatan Hewan, melakukan evakuasi ternak, melakukan penyiapan pembuatan kandang penampungan ternak, memberikan bantuan (dari berbagai bidang tugas lingkup Kementan), ikut memfasilitasi mendistribusikan bantuan, membuka pelayanan kesehatan hewan bekerjasama dengan PDHI, membuat edaran kepada dinas kab/kota untuk menstok pakan ternak sebanyak mungkin antisipasi terjadinya erupsi. Target sapi rencana yang diselamatkan yaitu 20.000 ekor sapi yang berasal dari wilayah terdampak. Total ternak yang sudah dievakuasi sampai tanggal 3 Oktober 2017 sebanyak 4.678 dengan rincian Sapi (4.053 ekor), kambing (459 ekor) dan babi (166 ekor) yg tersebar di 7 Kabupaten di 41 titik lokasi tempat penampungan.

Berbagai kendala muncul di lapangan terkait kesulitan-kesulitan Tim dalam mengantisipasi kondisi tersebut yaitu kurangnya tenaga untuk mengevakuasi, pengawasan, perawatan ternak/hewan kesayangan di tempat pengungsian, kurangnya pakan dan bahan untuk membuat kandang sementara. Sebagai ilustrasi prediksi Kebutuhan konsentrat sapi untuk 1 bulan sebanyak 1.200 ton dan Sudah tersedia 70 ton, kebutuhan pakan hijauan 15.000 ton. Saat ini baru tersedia (rumput gajah 3 ton + 2 truk, jerami 2,5 ton + 9 truk + 5 engkel) dan sebagian juga masih disediakan secara mandiri oleh para peternak dan berbagai pihak yang ikut mendukung.Walaupun demikian fakta dilapangan juga menunjukkan bahwa tidak semua peternak memperbolehkan ternaknya direlokasi ke tempat lain karena pemilik masih megganggap kondisi Gunung Agung masih aman dan cenderung  membaik. Pemilik ternak yang menolak ternaknya dibawa turun masih setiap hari memberi pakan ke kandang mereka, memang akses mencari rumput menajdi  terbatas karena banyak desa-desa rawan sudah ditutup dan tidak boleh masuk. Untuk ternak yang tidak berada di tempat penampungan pemerintah tidak dapat memberi bantuan pakan begitu saja karena semua bantuan harus diberikan melalui BNPB (terkait akuntabilitas yang baik).

Disamping hewan ternak, hewan kesayangan juga tak luput dari perhatian berbagai pihak untuk diselamatkan. Banyak anjing yang tertinggal di desa rawan bencana yang sudah di tutup, pemiliknya telah mengungsi, anjing ini adalah anjing yang sehari-hari dilepas liar, untuk anjing yang sehari hari benar-benar dipelihara sudah dievakuasi bersama pemilik. Disisi lain hewan kesayangan yang dilepas liarkan tersebut sesuai nalurinya akan dapat mengamankan dirinya menuju tempat yang lebih aman jika suatu saat terjadi bencana.

Sampai saat ini Tim satgas masih terus berupaya mengantisipasi segala kemungkinan-kemungkinan dalam upaya mewujudkan tujuan tersebut. Langkah tindak lanjut yang dilakukan diantaranya mempercepat proses evakuasi dan relokasi ternak dari daerah rawan bencana ke tempat-tempat penampungan yg telah ditetapkan, mendata/mengidentifikasi jenis dan jumlah populasi ternak di desa-desa terdampak dan jumlah yg sudah dan belum dievakuasi, melakukan pengawasan dan penanganan terhadap kesehatan dan kesejahteraan ternak ditempat penampungan, terus memfasilitasi para pihak dalam memberikan kontribusi (non tunai) terutama untuk pakan dan kendaraan angkut untuk evakuasi ternak, koordinasi dengan BNPB tentang terkait kebutuhan sarpras.

Disamping itu, Tim juga melakukan identifikasi ternak secara lebih rinci dengan memperhatikan berat badan dan jantan/betina, untuk penjualan sapi diprioritaskan sapi jantan, adapun sapi betina hanya dijual untuk tetap dipelihara di Bali terkait peraturan yang ada. Melakukan pendataan anjing di pengungsian yang diusahakan oleh petugas Tagana dari Kemensos atau Pendamping Desa dariKemendes, serta melalui PJ2 tempat pengungsian.Meminta Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali untuk membuat edaran melarang para relawan/LSM memasuki area berbahaya untuk sekedar memberi pakan hewan yang ditinggal pengungsi mengingat membahayakan nyawa relawan/LSM itu sendiri. Untuk layanan penanganan evakuasi ternak dan kesehatan hewan serta informasi lainnya dapat menghubungi Hotline Nomor : 081238632084 yang dapat diakses 24 jam. Semoga bermanfaat dan suasana segera kembali normal, terimaksih(red’17).

работа в одессе