Pencarian 

KONSUMSI DAGING SATWA EKSOTIK DAN DAGING ANJING, KONTROVERSI SERTA ASPEK HUKUMNYA

Oleh : Yadi C. Sutanto – Kepala Seksi Advokasi Kesejahteraan Hewan

Sulawesi Utara mungkin terkenal di dunia dengan wisata Taman Laut Bunaken, tetapi provinsi di ujung utara Pulau Sulawesi ini juga memiliki daerah-daerah lain yang menarik untuk dikunjungi, salah satunya adalah Kota Tomohon.  Kota yang berjarak 25 kilometer terletak di sebelah Selatan dari Kota Manado dapat ditempuh hanya dalam waktu 1 jam dari Kota Manado, terkenal dengan Festival Bunga Hias Internasional (Tomohon International Flower Festival) yang digelar setiap tahun.  Kota ini terletak di ketinggian antara 900-1100 meter dari permukaan laut (mdpl), dan diapit oleh 2 gunung berapi aktif, yaitu Gunung Lokon (1.689 mdpl) dan Gunung Mahawu (1.311 mdpl) membuat Tomohon selalu bersuhu sejuk sepanjang tahun, tidak heran jika tanaman sayur, buah, dan bunga dapat tumbuh subur di Tomohon.

Hari ini Sabtu pagi dan udaranya cukup dingin tak membatasi aktifitas jual beli di Pasar Beriman Tomohon, deretan penjual menjajakan sayur dan buah segar yang berasal dari daerah-daerah di sekitar Tomohon.  Meskipun terlihat tidak berbeda dengan pasar lain yang ada di Indonesia, namun dibalik deretan penjual sayur dan buah terdapat pemandangan “unik” yang mungkin cuma ada satu-satunya di Indonesia.  Pasar Beriman Tomohon juga terkenal sebagai pasar ekstrim yang menjual daging satwa eksotik terutama jenis babi hutan, ular, tikus, dan paniki atau kelelawar, termasuk juga hewan yang dianggap sebagian besar orang sebagai hewan kesayangan yaitu anjing dan kucing.

Kontroversial

Keberadaan pasar ekstrim Tomohon memang menimbulkan polemik.  Gelombang protes dari komunitas pencinta hewan terus dilakukan untuk membangun opini publik sekaligus menggalang dukungan untuk pelarangan penjualan hewan-hewan itu.  Namun seakan melawan derasnya gelombang protes tersebut, bisnis daging satwa eksotik dalam beberapa tahun terakhir malah cenderung meningkat.  Meskipun tidak ada statistik resmi tentang bisnis ini, tapi makin mudahnya kita menjumpai restoran yang menawarkan menu daging satwa eksotik, bahkan penjualan daging satwa eksotik di Sulawesi Utara sudah berhasil menembus jaringan ritel modern, adalah bukti bahwa bisnis daging satwa eksotik semakin meningkat.

Penjualan daging hewan eksotik di Tomohon

Bukan hanya penjualan daging satwa eksotik (babi hutan, ular, tikus, dan paniki atau kelelawar) yang menimbulkan kontroversi, sama halnya terhadap peningkatan penjualan daging anjing yang terjadi tidak hanya di Sulawesi Utara tetapi juga di bagian Indonesia lainnya.  Setiap hari ada sekitar 40 ekor anjing yang disembelih di Jakarta, yang berasal dari Sukabumi, Jawa Barat. Selain Jakarta daerah Surakarta, Jawa Tengah merupakan konsumen daging anjing terbesar (1).  Meningkatnya konsumsi daging anjing di Indonesia telah memicu protes yang tidak hanya datang dari dalam negeri tetapi juga dari luar negeri.  Tidak sedikit pemerintah daerah yang kesulitan mencari dasar pelarangan penjualan daging anjing, terlebih di daerah yang menganggap konsumsi daging anjing merupakan bagian dari budaya. 

Tomohon 11

Aspek Hukum Penjualan Daging Satwa Eksotik dan Daging Anjing

Pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar telah diatur dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam (terutama diatur dalam Pasal 36) dan lebih lanjut diatur melalui Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 1999 (dalam Pasal 11, 18, 19 dan 43).  Dalam Undang-Undang tersebut, satwa digolongkan ke dalam jenis satwa yang dilindungi dan satwa yang tidak dilindungi.  Meskipun perdagangan satwa liar yang tidak dilindungi pada prinsipnya dapat dibenarkan, namun perlu diingat, praktek perdagangan tersebut harus selalu tunduk pada kepentingan yang lebih besar yaitu “pelestarian lingkungan hidup”.  Pengendalian perdagangan satwa liar harus disesuaikan dengan ketentuan konvensi internasional seperti CITES dan upaya konservasi lainnya, sehingga selalu terbuka kemungkinan jenis satwa liar tertentu yang berubah status dari kondisi yang “tidak dilindungi” menjadi harus “dilindungi” atau sebaliknya.

Tomohon 21

Terkait dengan isu perdagangan daging anjing yang masih terjadi di beberapa wilayah Indonesia, meskipun sampai saat ini belum ada aturan yang secara eksplisit melarang perdagangan daging anjing, akan tetapi terdapat beberapa pendekatan aturan yang dapat digunakan untuk membatasi perdagangan daging anjing, seperti:

1.         Definisi Pangan

Bahwa dalam Undang-Undang yang mengatur tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan (UU No. 18/2009 Juncto UU No. 41/2014), memang tidak secara jelas mengatur mengenai jenis-jenis hewan yang dapat disembelih dan dikonsumsi.  Akan tetapi, definisi “pangan” sebagaimana didefinisikan dalam Undang-Undang No. 18/2012 tentang Pangan sebagai segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati produk pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan, perairan, dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan Pangan, bahan baku Pangan, dan bahan lainnya yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan/atau pembuatan makanan atau minuman.  Jika merujuk pada definisi ini, maka daging anjing tidak termasuk kategori pangan karena anjing tidak termasuk kategori produk peternakan ataupun kehutanan.

2.         Aspek Kesejahteraan Hewan

Proses penyembelihan hewan harus dilakukan dengan sebaik-baiknya sehingga hewan bebas dari rasa sakit, rasa takut dan tertekan, penganiayaan serta penyalahgunaan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No. 18/2009 Juncto Undang-Undang No. 41/2014, serta diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintan No. 95/2012 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Kesejahteraan Hewan.  Proses pemotongan anjing umumnya dilakukan dengan cara-cara yang menyakitkan dan dianiaya, sehingga dapat dikategorikan pelanggaran terhadap kesejahteraan hewan dan dapat dipidana sesuai dengan Pasal 91B Undang-Undang No. 41/2014 dan Pasal 302 KUHP.

3.         Aspek Zoonosis dan Keamanan Pangan

Salah satu latar belakang masyarakat mengkonsumsi daging anjing adalah adanya mitos terkait manfaat kesehatan dari mengkonsumsi daging anjing.  Food and Agriculture Organization (FAO) menyatakan, 70% dari penyakit yang baru muncul pada manusia (emerging infectious diseases) dalam kurun waktu puluhan tahun terakhir adalah penyakit yang berasal dari hewan (zoonosis) dan hal ini sebagian besar disebabkan oleh upaya manusia untuk mencari sumber makanan yang berasal dari hewan (2).  Oleh sebab itu perlu dilakukan edukasi masyarakat untuk mematahkan mitos tersebut, serta mengedukasi bahwa daging anjing bukan hanya tidak layak untuk dikonsumsi manusia (bukan kategori pangan) tetapi juga berisiko membawa penyakit seperti E. coli, Salmonella, Kolera dan Trichinellosis.  Disamping itu, penanganan anjing mulai dari penangkapan sampai proses penyembelihan di daerah endemis Rabies akan meningkatkan risiko pekerja terpapar oleh Rabies dan memperparah penyebaran Rabies (3,4).

4.         Aspek Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Hewan

a.      Pada daerah yang merupakan daerah endemis Rabies, maka penjualan anjing/daging anjing dapat dibatasi/dilarang sebagaimana diatur dalam UU 18/2009 Bab V, Bagian Kesatu tentang Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit Hewan, serta sebagaimana diatur lebih lanjut oleh PP No. 47/2014 tentang Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit Hewan. 

b.   Pada daerah yang merupakan daerah bebas Rabies yang menerima pasokan anjing/daging anjing dari daerah tertular/terduga tertular Rabies, maka pelarangan perdagangan daging anjing dapat dilakukan sesuai Pasal 46 ayat (5) bahwa setiap orang dilarang mengeluarkan dan/atau memasukkan hewan, produk hewan, dan/atau media yang dimungkinkan membawa penyakit hewan lainnya dari daerah tertular dan/atau terduga ke daerah bebas.  Pelanggaran terhadap ketentuan ini diancam dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) sesuai dengan Pasal 89 ayat (2) UU 18/2009.

c.       Lalu lintas anjing yang dilakukan umumnya tidak sesuai prosedur dan melalui jalur – jalur tanpa pengawasan, sehingga berisiko menjadi penyebar zoonosis dan penyakit hewan.  Oleh sebab itu, pembatasan peredaran daging anjing dapat dilakukan dengan mengidentifikasi jalur distribusi anjing konsumsi dan memperketat pengawasan lalu lintas anjing di sepanjang jalur distribusi.

Upaya Pemerintah

Ditengah gencarnya protes menuntut tindakan terhadap perdagangan daging satwa eksotik dan daging anjing yang terus muncul ditengah masyarakat, Pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan terkait perlu membangun komitmen bersama untuk mengatasi masalah tersebut.  Komunikasi antar Pemerintah dan masyarakat/konsumen harus terus dilakukan untuk mensosialisasikan risiko terkait konsumsi  daging satwa eksotik dan daging anjing baik risiko penyakit zoonosa maupun risiko hukum terkait pelanggaran terhadap kesejahteraan hewan serta pelanggaran terhadap upaya pengendalian dan pemberantasan penyakit hewan yang dilakukan pemerintah.

Khusus tentang pelarangan konsumsi daging anjing, tantangan terbesar saat ini di Indonesia adalah masih terdapat budaya lokal di daerah tertentu yang mendukung konsumsi daging anjing, sehingga pemerintah perlu berhati-hati dalam mengatur hal tersebut.  Salah satu strategi yang harus dilakukan adalah mengubah persepsi budaya lokal tersebut melalui pendekatan/edukasi pada generasi muda bahwa daging anjing bukan pangan sehingga perubahan dapat dicapai meskipun secara bertahap.

"With knowing comes caring, with caring comes change."  

                                                                        - Manuel Bustelo

 

DAFTAR PUSTAKA

1     https://metro.tempo.co/read/704704/jakarta-kota-terbesar-konsumsi-daging-anjing-di-indonesia

2    Food and Agriculture Organization of the United Nations, World Livestock 2013: Changing Disease Landscapes. Roma, 2013 (http://www.fao.org/docrep/019/i3440e/i3440e.pdf)

3   Odeh LE, Umoh JU, Dzikwi AA. Assessment of risk of possible exposure to rabies among processors and consumers of dog meat in Zaria and Kafanchan, Kaduna state, NigeriaGlob J HealthSci. 2013 Nov 3;6(1):142–153. [PubMed]

4   Ekanem E, Eyong K, Philip-Ephraim E, Eyong M, Adams E, Asindi A. Stray dog trade fuelled by dog meat consumption as a risk factor for rabies infection in Calabar, southern NigeriaAfr Health Sci. 2013 Dec;13(4):1170–1173. [PMC free article] [PubMed]

Sekapur Sirih 

Drh. Syamsul Maarif M.Si

Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh,

Kami dengan rasa gembira menyambut partisipasi Anda di situs web kami. Sejalan dengan semakin berkembangnya tuntutan masyarakat terhadap fungsi dan peran Kesehatan Masyarakat Veteriner serta seiring kemajuan teknologi informasi saat ini maka situs ini akan kami gunakan untuk melayani dan menghubungkan Anda dengan Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Read more: Sekapur Sirih

 

Polling Kesmavet 

Menjadi Direktorat yang Mampu Mewujudkan Pelayanan Kesehatan Masyarakat Veteriner Profesional dalam Menjamin Kesehatan dan Ketentraman Bathin Masyarakat.

Visi Kesmavet-Paspa

Pengunjung 

We have 7 guests and no members online

Video 

Pengelolaan dan Pelaksanaan Kurban Yang Benar, Aman, dan Nyaman ------------------------------------------------------------- Cara Memilih Hewan Kurban Yang Baik ------------------------------------------------------------- Metode Perobohan dan Pemotongan Hewan (Sapi) ------------------------------------------------------------- Desain Fasilitas Pemotongan Hewan Kurban(Portable) ------------------------------------------------------------- Pemeriksaan Antemortem Postmortem ------------------------------------------------------------- Kesejahteraan Hewan Kurban ------------------------------------------------------------- Nomor Kontrol Veteriner (NKV) ------------------------------------------------------------- Dialog Penerapan Kesejahteraan Hewan ------------------------------------------------------------- Waspada Penyakit Zoonosis ------------------------------------------------------------- Ayam dan Hormon ------------------------------------------------------------- Penggunaan Antimikrobial Yang Bijak -------------------------------------------------------------

Sebaran Pengunjung