Pencarian 

Beranda

Media Website Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner menerima tulisan yang dikirim ke alamat redaksi melalui email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. . Tulisan bersifat orisinil, aktual dan informatif tentang kesehatan masyarakat veteriner diketik rapi 1,5 spasi. Panjang tulisan 2-3 halaman diketik format *.doc(words file) maksimal 7000 karakter termasuk spasi. Foto pendukung minimal 2 buah  dengan ukuran masing-masing maksimal sebesar 2MB. Sebelum diterbitkan tulisan di review dan disunting oleh Tim redaksi tanpa merubah isinya.  Perlu kami sampaikan sebelumnya pengiriman tulisan gratis dan tidak tersedia honor bagi penulis. 

“OIE Regional Workshop on Vector Borne Disease in the Asia Pacific Region” Incheon-Korea

Pendahuluan

Indonesia merupakan negara tropis yang kaya akan biodiversifitas plasmanutfah baik tumbuhan maupun serangga (arthropoda) yang dapat berpotensi sebagai vektor penyakit. Penyakit tular vektor (Vector borne disease/VBD) dapat menimbulkan dampak yang serius bagi manusia, kesehatan hewan, kesejahteraan hewan, keamanan pangan, perdagangan dan kemiskinan. Dari sekitar 17% penyakit menular, 25% diantaranya merupakan penyakit baru yang bersifat tular vektor. Sifat penyakitnya tidak hanya menyerang satu jenis spesies saja tetapi dapat bersifat multi spesies. Jenis vektor penyakit yang terdapat disekitar kita kebanyakan merupakan golongan arthropoda (serangga) seperti nyamuk, kutu, tungau, lalat, kecoa, lalat pasir, dll. Distribusi, transmisi, dan kejadian meluasnya penyakit yang disebabkan oleh vektor kadang tidak diketahui secara pasti. Bisa jadi terkait kepekaan hospes, iklim, dan lingkungan habitat dalam melangsungkan siklus hidup vektor. Hubungan antara lingkungan, vektor, hospes dan pathogen menjadi sangat penting dalam epidemiologi penyakit tular vektor. Banyak hal yang dapat mempengaruhi status penyakit bersumber vektor seperti perubahan iklim, perubahan habitat, kontak manusia dan hewan liar, perdagangan, dan penggunaan insektisida untuk mengendalikan populasi vektor sehingga menimbulkan dampak resistensi. Kegiatan worksop ini dilakukan bertujuan untuk saling berbagi pengalaman terkait kejadian penyakit khususnya di regional Asia-Pasifik; mempelajari kejadian kasus di suatu negara, diskusi bersama menemukan solusi dalam menghadapi penyakit bersumber tular vektor, dan mengidentifikasi kemungkinan isu yang dapat dijadikan prioritas di negara masing-masing.

Korea

Pelaksanaan Kegiatan Workshop

Workshop dilaksanakan pada tanggal 10-11 September 2018 di Nest Hotel, Incheon, Korea Selatan yang diselenggarakan oleh OIE bekerjasama dengan pemerintah Korea Selatan. Kegiatan workshop tersebut dihadiri perwakilan delegasi dari beberapa negara yaitu Korea Selatan, Australia, Bangladesh, Brunei, Bhutan, Kamboja, China, Fiji, Iran, India, Jepang, Laos, Malaysia, Indonesia, Mongolia, Myanmar, Nepal, Sri langka, New Caledonia, New Zealand, Thailand, Vanuatu, Vietnam, dan Singapura. Workshop dilakukan dengan sesi materi, diskusi, dan sesi poster dengan mengundang sejumlah ahli dibidang penyakit tular vektor yaitu Dr. Debbie Eagles (The animal Health Laboratory/AAHL) Australia, Dr. Upik Kesumawati Hadi (FKH-IPB), Dr. Chang-Kweng Lim (National Institude of Infection Diseases/NIID), Dr. Tohru Yanase (National Institute of Animal Health (NIAH), Dr. Indrawati Sendow (Indonesian Research Center for Veterinary Sciences (IVETRI), Prof. Joon-Seok Chae (Seoul National University), Dr. Jong Yul Roh (Korea Centers for Disease Control & Prevention/KCDC), Dr. Dongkun Yang (Animal and Plant Quarantine Agency (APQA), dan Kementerian Pertanian, Pangan dan Urusan Pedesaan (MAFRA) Korea. Hasil pelaksanaan kegiatan workshop ini adalah :

1. Sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan bahwa sub topik yang dibahas dalam pertemuan workshop ini meliputi : update situasi terkini kondisi penyakit tular vektor di kawasan Asia-Pasifik, pengalaman melakukan kegiatan surveillance vektor, pola distribusi dan muncuilnya penyakit bersumber vektor, pengalaman menghadapi penyakit vektor di beberapa negara, dan diskusi bersama dengan praktisi/ahli.

2. Dari hasil diskusi bersama dengan delegasi yang berasal dari beberapa negara tersebut ada beberapa point penting yang menjadi perhatian yaitu :

a.     Sampai saat ini ada beberapa penyakit prioritas yang perlu diwaspadai bersifat tular vektor yang sering terjadi di kawasan Asia–Pasifik yaitu babesia, trypanosoma, blue tongue, theileria, Bovine Ephemeral Fever (BEF), akabane, Scmallenberg, Old world screw worm (miasis), palyam, dan penyakit-penyakit tular vektor pada hewan kesayangan. Disamping itu beberapa penyakit yang juga muncul adalah Japanese Enchepalitis (JE), West Nile Virus, African Swine Fever (ASF), Severe Fever with Thrombocytopenia Syndrome (SFTS), Leismania, dan Scrup typhus.  

b.   Dalam upaya mengantisipasi munculnya penyakit yang bersifat endemis maupun exotic perlu dilakukan kegiatan surveillans. Surveillans yang dilakukan yaitu surveillans terhadap penyakit dan surveillans terhadap vektornya. Surveillance terhadap vektor minimal mendapatkan data terkait jenis, stadium, kepadatan populasi, dan distribusinya. Surveillans terhadap penyakit hewan merupakan pengumpulan data-data sampel hasil pemeriksaan laboratorium. Dari hasil surveillans vektor dan penyakit ini di harapkan dapat dengan mudah mengambil tindakan mengantisipasi kejadian penyakit bersumber tular vektor.

c.   Pentingnya peningkatan kemampuan teknis diagnosis bagi petugas. Hal ini mencakup kemampuan laboratorium, sumber daya (peningkatan kemampuan sumber daya), dan saling bertukar informasi data dalam perkembangan diagnosis.

d.   Penerapan konsep One Health”. One Health merupakan kolaborasi bersama dalam upaya meningkatkan kesehatan manusia, hewan dan lingkungan agar terhindar dari penyakit. Dalam mewujudkan konsep one health ini membutuhkan kerjasama yang baik lintas sektor terutama antara kesehatan manusia dan kesehatan hewan.

Kesimpulan

Seiring dengan perubahan iklim secara global dan perdagangan bebas, kegiatan Workshop ini penting dilakukan secara periodik untuk mendapatkan informasi update situasi terkini penyakit bersumber vektor di beberapa negara khususnya kawasan Asia-Pasifik. Untuk meningkatkan kewaspadaan dini terhadap ancaman penyakit yang bersumber vektor di Indonesia perlu dilakukan surveillance secara periodik (bulanan dalam satu tahun) untuk melihat fluktuasi berbagai ragam vektor dan surveillance terhadap penyakit. Kita ketahui bersama bahwa vektor (arthropoda) erat kaitanya dengan perubahan iklim dan kondisi geografis yang dapat mempengaruhi dinamika populasi vektor.Antisipasi dini mencegah penyakit akan lebih memberikan keuntungan daripada setelah terjadinya wabah penyakit hal ini dapat memutus rantai penyakit dari jalur vektor (red-2018).

Meningkatkan Kompetensi Pengawas Kesmavet Menjadi Lebih Profesional

Dalam rangka melindungi konsumen dalam negeri dan meningkatkan daya saing produk lokal untuk menembus pasar global perlu dilakukanpeningkatan pemeriksaan keamanan pangan, penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) dan penerapan persyaratan teknis kesehatan masyarakat veteriner.Peredaran produk asal hewan yang beredar di masyarakat juga harus terjamin kwalitasnya. Dalam proses penjaminan ini tak terlepas dari peran fungsi Pengawas Kesmavet yang  melakukan tugasnya dalam upaya pengamanan produk di titik-titik rawan dari hulu sampai hilir. Pengawasan dilakukan terhadap produk yang beredar di pasaran baik terhadap produk lokal maupun impor. Pengawasan juga dilakukan dengan menerapkan prinsip kehati-hatian (precautionary measures), risiko yang dapat diterima (acceptable risk) dan berbasis analisa risiko khususnya dalam pemasukan produk hewan asal luar negeri.

Wasmavet 2018 2

Oleh karena itu  untuk melaksanakan prinsip tersebut  diperlukan dukungan Sumber Daya Manusia (SDM) yang profesional dan memiliki kompetensi yang baik serta sistem/mekanisme kerja yang memadai. Untuk ituDirektorat kesehatan masyarakat Veteriner menyelenggarakan Bimbingan Teknis bagiPengawas Kesmavetdi daerah yang diselenggarkan atas kerjasama dengan Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinagara-Bogor pada tanggal 7-10  Agustus di Balai Pelatihan Peternakan dan Ketahanan Pangan, Cikole, Lembang. Kegiatan ini dikuti oleh 58 peserta Dokter Hewan yang berasal dari 19 provinsi yang merupakan target sertifikasi NKV (DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Timur, DIY, Jawa Tengah,  Lampung, Bengkulu, Sumatra Selatan, Sumatra Barat, Sumatra Utara,  Riau, Kepulauan Riau, Kalimantan Selatan,Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Gorontalo, Bali, Papua) dan Unit Pelaksana Teknis lingkup Kementerian Pertanian yaitu : BPKPH Cinagara, Balai Veteriner Subang dan Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Produk Hewan (BPMSPH).

Wasmavet 2018 1

 

Kegiatan Bimbingan teknis ini dilaksanakan dengan metode pemaparan materi dan diskusi serta kunjungan lapangan. Materi yang disampaikan dalam kegiatan ini meliputi : materi kebijakan dan teori yang disampaikan oleh pakar.Dalam melakukan praktek kunjungan lapangpeserta dibagi menjadi beberapa kelompok yaitu unit usaha penjualan, pengolahan produk hewan, tempat budidaya unggas petelur dan produksi telur konsumsi, Rumah Potong Hewan Unggas (RPH-U), Rumah Potong Hewan Ruminansia (RPH-R), unit usaha produk hewan non pangan, unit budidaya hewan perah, unit pengolahan susu dan gudang berpendingin (Cold Storage).

Wasmavet 2018

 

Kegiatan Bimbingan Teknis Pengawas Kesmavet ini dilakukan agar peserta mampu memahami bersama kebijakan-kebijakan teknis terbaru yang telah ada dan saling berbagi informasi terkait masalah teknis terbaru yang pada saatnya peserta diharapkan mampu mengatasi/mengantisipasi isu-isu terbaru di lapngan khususnya dalam pengaruh perdagangan bebas.Disamping itu  diperlukan  masukan-masukan dari daerah terkait kendala-kendala teknis yang dihadapi dalam melaksankan pegawasan kesmavet.Setelah mengikuti kegiatan Bimbingan Teknis Pengawas Kesmavet ini peserta diharapkan mampu menjalankan tugasnya dengan baik di lapangan dan dapat terjaminnya keamanan produk hewan yang beredar di masyarakat (Red’18).

UPAYA PEMERINTAH DALAM MENERAPKAN KESEJAHTERAAN HEWAN DI INDONESIA

Koordinasi Kesrawan 2018

Koordinasi Nasional Kesejahteraan Hewan 1-3 Agustus 2018

Kesejahteraan hewan bukanlah isu baru di Indonesia karena telah diakui oleh hukum pidana sejak zaman colonial dan dituangkan juga dalam perundangan RI.Dukungan Menteri Pertanian terhadap Deklarasi Kesejahteraan Hewan (UDAW) di PBB menjadi bentuk dukungan politis terhadap penerapan kesejahteraan hewan di Indonesia. Kesejahteraan Hewan didefinisikan sebagai segala urusan yang berhubungan dengan keadaan fisik dan mental hewan menurut ukuran perilaku alami hewan yang perlu diterapkan dan ditegakkan untuk melindungi hewan dari perlakuan setiap orang yang tidak layak terhadap hewan yang dimanfaatkan manusia. Sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 Juncto Undang - Undang 41 Tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan bahwa penyelenggaraan kesejahteraan hewan dilaksanakan oleh pemerintah dan pemerintah daerah bersama masyarakat.

Kesejahteraan hewan saat ini merupakan salah satu isu penting yang menjadi perhatian dunia. Dalam perjanjian WTO-GATT Article XX General Exceptions dimungkinkan bahwa suatu Negara dapat melakukan pembatasan perdagangan atas dasar kepentingan melindungi moral publik, dalam hal ini kesejahteraan hewan dilihat sebagai bagian dari nilai moral dan etika. Hal ini sebenarnya merupakan tantangan dan peluang bagi Indonesia dalam upaya meningkatkan daya saing produk hewan nasional melalui pemenuhan aspek kesejahteraan hewan.

Upaya pemerintah yang telah dilakukan dalam meningkatkan penerapan kesejahteraan hewan dan pencegahan tindakan kekejaman terhadap hewan dilakukan melalui kegiatan peningkatan pemahaman dan kesadaran masyarakat (Komunikasi, Informasi, dan Edukasi/KIE), bimbingan teknis/pelatihan pada ternak/non ternak, pengawasan, dan pembinaan kesejahteraan hewan melalui dinas terkait serta melakukan pengawasan lalulintas perdagangan hewan.

Dalam menyikapi isu-isu yang beredar terkait penerapan kesejahteraan hewan di Indonesia, Ditjen Perternakan dan Kesehatan Hewan menyelenggarakan Pertemuan Koordinasi Nasional Kesejahteraan Hewan tanggal 1-3 Agustus 2018 di Bogor yang dihadiri oleh Dinas teknis terkait di Propinsi /Kabupaten /Kota, Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia(PDHI), akademisi, pelaku usaha dan LSM. Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Drh. Syamsul Ma’arif MSi dalam sambutannya menyampaikan bahwa “Implementasi kesejahteraan hewan dalam dunia perdagangan global menjadikan tantangan tersendiri dan dapat berpotensi menjadi hambatan perdagangan suatu negara. Oleh karena itu Indonesia harus mampu menerapkan kesejahteraan hewan untuk meningkatkan daya saing produk hewan nasional”.

Lebih lanjut disampaikan bahwa “Tantangan dalam penerapan kesejahteraan hewan di Indonesia yaitu dasar hukum pidana yang belum kuat terkait pelanggaran kesejahteraan hewan, isu kesejahteraan hewan yang belum dianggap prioritas baik bagi pemerintah dan pemerintah daerah, sampai kurangnya jumlah dan kompetensi SDM terkait kesejahteraan hewan. Walaupun demikian perlahan kesadaran masyarakat terhadap isu kesejahteraan hewan mulai ada”.

Pemerintah juga menyadari bahwa penerapan kesejahteraan hewan di Indonesia belum maksimal. Oleh karena itu pemerintah terus berupaya membangun kerjasama dengan pihak – pihak yang sejalan dengan semangat meningkatkan penerapan kesejahteraan hewan di Indonesia agar menjadi lebih baik. Diperlukan waktu yang cukup untuk menyadarkan masyarakat dalam menyikapi isu-isu penyimpangan penerapan kesejahteraan hewan yang terjadi dilapangan.

Reformasi hukum, khususnya KUHP juga diperlukan mengingat masih rendahnya hukuman yang ditetapkan terkait pelanggaran terhadap prinsip kesejahteraan hewan, sehingga perlindungan hukum terhadap aspek kesejahteraan hewan sesuai dengan tuntutan jaman / keadaan pada saat ini. Semoga bermanfaat (red’18).

Sekapur Sirih 

Drh. Syamsul Maarif M.Si

Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh,

Kami dengan rasa gembira menyambut partisipasi Anda di situs web kami. Sejalan dengan semakin berkembangnya tuntutan masyarakat terhadap fungsi dan peran Kesehatan Masyarakat Veteriner serta seiring kemajuan teknologi informasi saat ini maka situs ini akan kami gunakan untuk melayani dan menghubungkan Anda dengan Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Read more: Sekapur Sirih

 

Polling Kesmavet 

Menjadi Direktorat yang Mampu Mewujudkan Pelayanan Kesehatan Masyarakat Veteriner Profesional dalam Menjamin Kesehatan dan Ketentraman Bathin Masyarakat.

Visi Kesmavet-Paspa

Pengunjung 

We have 18 guests and no members online

Video 

Pengelolaan dan Pelaksanaan Kurban Yang Benar, Aman, dan Nyaman ------------------------------------------------------------- Cara Memilih Hewan Kurban Yang Baik ------------------------------------------------------------- Metode Perobohan dan Pemotongan Hewan (Sapi) ------------------------------------------------------------- Desain Fasilitas Pemotongan Hewan Kurban(Portable) ------------------------------------------------------------- Pemeriksaan Antemortem Postmortem ------------------------------------------------------------- Kesejahteraan Hewan Kurban ------------------------------------------------------------- Nomor Kontrol Veteriner (NKV) ------------------------------------------------------------- Dialog Penerapan Kesejahteraan Hewan ------------------------------------------------------------- Waspada Penyakit Zoonosis ------------------------------------------------------------- Ayam dan Hormon ------------------------------------------------------------- Penggunaan Antimikrobial Yang Bijak -------------------------------------------------------------

Sebaran Pengunjung