Pencarian 

Kesmavet Produk.pnghewan.pngim1

Beranda

Media Website Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner menerima tulisan yang dikirim ke alamat redaksi melalui email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. . Tulisan bersifat orisinil, aktual dan informatif tentang kesehatan masyarakat veteriner diketik rapi 1,5 spasi. Panjang tulisan 2-3 halaman diketik format *.doc(words file) maksimal 7000 karakter termasuk spasi. Foto pendukung minimal 2 buah  dengan ukuran masing-masing maksimal sebesar 2MB. Sebelum diterbitkan tulisan di review dan disunting oleh Tim redaksi tanpa merubah isinya.  Perlu kami sampaikan sebelumnya pengiriman tulisan gratis dan tidak tersedia honor bagi penulis. 

Penertiban Pemotongan Ternak Di Luar RPH

Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 juncto Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan telah mengamanatkan bahwa daging yang diedarkan untuk dikonsumsi masyarakat harus diproduksi di rumah potong hewan (RPH) dimana proses penyembelihannya telah sesuai dengan persyaratan teknis kesehatan masyarakat veteriner serta didalamnya telah terpenuhinya aspek kesejahteraan hewan dan kehalalan.

RPH 3

Gambar 1. Persiapan menuju lokasi penertiban

Dalam menjamin keamanan dan kelayakan daging yang dikonsumsi masyarakat, daging hasil pemotongan harus melalui pemeriksaan ante-post mortem yang dilakukan di RPH oleh dokter hewan atau paramedik veteriner (keurmaster). Dengan demikian pemotongan yang dilaksanakan di luar RPH (tempat pemotongan hewan liar) sudah tidak dibolehkan karena pemotongan ternak diluar RPH tidak ada pengawasan petugas yang menjamin keamanan dan kelayakan daging hasil produksinya. Selain sebagai tempat transformasi dari ternak hidup menjadi daging yang ASUH, RPH juga dapat berfungsi sebagai tempat pencegahan penularan penyakit hewan menular dan zoonosis.Disamping itu terkait dengan program khusus pemerintah dalam upaya mempercepat peningkatan populasi sapi dan kerbau (UPSUS SIWAB), RPH juga berfungsi sebagai pengendalian pemotongan ternak betina produktif.

RPH 1

gambar 2. Pembinaan

Kegiatan ini telah mendapat dukungan dari Kepolisian Negara Republik Indonesia melalui nota perjanjian kerjasama antara Kapolri dengan Menteri Pertanian Nomor: 0900/HK.230/f/2017 dan nomor: B/44/v/2017 tanggal 9 Mei 2017 tentang pengendalian pemotongan ternak ruminansia betina produktif. Ruang lingkup perjanjian kerjasama tersebut meliputi; tukar menukar data dan/atau informasi, bantuan pengamanan, peningkatan sumber daya manusia, dan pembinaan masyarakat. Sedangkan kegiatan pengendalian pemotongan ternak ruminansia betina produktif meliputi sosialisasi dan pengawasan di beberapa lokasi yaitu RPH, tempat penampungan ternak/jagal, pasar ternak, check poin, serta penertiban pemotongan hewan di luar RPH atau tempat pemotongan illegal.

RPH 4

Gambar 3. Tempat pemotongan hewan di luar RPH

Salah satu contoh bentuk implementasi kegiatan kerjasama tersebut pada tanggal 27 Oktober 2017 telah dilakukan pembinaan(razia) oleh Tim Terpadu di Jambi yang dipimpin oleh Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Jambi (Ir Damiri). Kegiatan ini melibatkan Polda Jambi, Polresta Jambi, Kepala UPTD RPH Kota Jambi, dan PPNS Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. Bentuk aksi nyata kegiatan tersebut meliputi penertiban 2 tempat pemotongan hewan di luar RPH dan pemeriksaan dokumen Surat Keterangan Kesehatan Produk Hewan (Daging) yang akan masuk di Pasar Angso Duo Jambi. Kegiatan ini merupakan bentuk sinergitas antara Dinas dengan Polri dan instansi terkait untuk menjamin ketenteraman bathin masyarakat dalam mengkonsumsi daging yang ASUH. Kegiatan ini akan terus dilakukan untuk menggiring para jagal agar memotong hewan di RPH dan semoga dapat dicontoh di daerah lainnya(drh.Widarto’2017).

MARI KITA WUJUDKAN INDONESIA BEBAS RABIES!!

Louis Pasteur seorang ahli mikrobiologi dan kima yang berasal dari Perancis mengembangkan vaksin rabies (pertama kali) hingga di akhir usianya pada tanggal 28 September 1895. Karena jasa-jasanya tersebut tanggal 28 September dijadikan sebagai hari bersejarah bebas rabies. Sebenarnya hari rabies sedunia ini dirayakan dalam upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mencegah penyakit rabies yang dapat berpotensi sebagai penyakit zoonosis (penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia dan sebaliknya).

Rabies merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh virus rabies, genus Lyssavirus, di dalam keluarga Rhabdoviridae. Anjing peliharaan adalah reservoir virus yang paling umum, dengan lebih dari 95% kematian manusia disebabkan oleh gigitan anjing, disamping hewan liar lain yang dapat berpotensi menularkan rabies seperti kucing, kelelawar, kera, dll. Virus dengan mudah ditransmisikan melalui air liur hewan yang menderita rabies ke dalam luka (misalnya gigitan hewan). Bersama sirkulasi peredaran darah virus yang telah masuk ke dalam tubuh tersebut mencapai targetnya yaitu otak manusia dan bereplikasi lebih lanjut hingga menimbulkan gejala klinis seperti encephalitis dan paralisa, hingga melanjut yang berkhibat fatal.

Rabies Sukabumi 1

Dalam memperingari hari bebas rabies Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan menyelenggarakan serangkaian kegiatan yang merupakan salah satu upaya mewujudkan Indonesia bebas rabies. Kegiatan utamanya yaitu : seminar nasional yang bertemakan rabies  yang dilaksanakan di BPMSPH-Bogor tanggal 6 Oktober 2017.  Puncak rangkaian acara selanjutnya dilaksanakan di Sukabumi pada tanggal 7-8 Oktober 2017, Dengan kegiatan berupa Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) kepada pelajar SD /SMP, pramuka, kader PKK/Posyandu; vaksinasi masal rabies, vaksinasi petugas teknis/lapang, bantuan vaksinasi rabies, kemah bakti veteriner serta lomba menggambar dan mewarnai tingkat pelajar.

Rabies Sukabumi 2

 

Seluruh pemangku kepentingan terlibat dan saling mendukung dalam upaya mengendalikan rabies seperti FAO, OIE, WHO, GARC, dll. Berbagai strategi dilakukan dalam upaya mengendalilan rabies yaitu vaksinasi, pembatasan populasi/eliminasi, dan peningkatan kesadaran masyarakat. Setiap perkembangan kegiatan yang telah dilakukan harus di data dengan baik dan terus dilakukan monitoring dan evaluasi. Sehingga efektifitas dan optimalisi seluruh sumber daya yang terlibat dalam upaya mencengah rabies dapat tercapai(red’17). 

PERTEMUAN EVALUASI UPSUS SIWAB PROVINSI JAWA TENGAH

Dalam rangka mengakselerasi pencapaian target peningkatan populasi ternak, Menteri Pertanian RI melalui Peraturan Menteri Pertanian Nomor 48/Permentan/PK.210/10/2016 tentang Upaya Khusus Percepatan Peningkatan Populasi Sapi dan Kerbau Bunting yang telah dicanangkan dalam bentuk UPSUS SIWAB, yaitu program percepatan peningkatan populasi sapi dan kerbau dalam rangka pemenuhan daging sapi dan kerbau di dalam negeri yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan beserta jajarannya.

Jateng 1

UPSUS SIWAB merupakan suatu kegiatan yang terintegrasi dalam rangka percepatan peningkatan populasi sapi dan kerbau secara masif dan serentak, melalui pendekatan sistem manajemen reproduksi.  Melalui UPSUS SIWAB, pada akhir tahun 2017 ditargetkan 4 (empat) juta ekor Sapi dan Kerbau menjadi akseptor yang akan dilakukan Inseminasi Buatan (IB)/kawin suntik, dimana 3 juta ekor diantaranya ditargetkan bunting. Hal tersebut tentunya harus didukung oleh status kesehatan reproduksi ternak dan terjaganya populasi ternak betina yang masih produktif di seluruh Indonesia terutama daerah sentra-sentra ternak. Propinsi Jawa Tengah merupakan salah satu target kegiatan yang berpotensi dalam mendukung program tersebut dimana target realisasi kegiatan Inseminasi Buatan (IB) paling tinggi secara nasional sedangkan target kebuntingan masih perlu ditingkatkan. Oleh karena itu perlu diadakan evaluasi pelaksanaan kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 4-5 Oktober 2017 di Surakarta-Jawa Tengah.  

Pertemuan ini dibuka oleh Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner dan dihadiri oleh perwakilan Dinas Kab/Kota yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan dilingkup Provinsi Jawa Tengah. Sementara dari pusat dihadiri perwakilan dari Direktorat Kesmavet, Direktorat Pakan, Direktorat PPHNak, Direktorat Bibit dan Produksi, BVet Subang, BET Cipelang, BBvet Wates, Seknas Upsus SIWAB dan Balai Karantina Pertanian Kelas I Semarang. Dengan adanya pertemuan ini diharapkan dapat memberikan masukan pengambil kebijakan dan gambaran daerah-daerah yang berhasil melaksankaan kegiatan sehingga dapat dicontoh oleh wilayah yang lain.

Jateng 2

 

Berbagai permasalahan muncul dilapangan dan perlu di ambil langkah yang tepat diantaranya masih rendahnya angka kebuntingan yang disebabkan karena keterbatasan SDM dan waktu  petugas untuk melakukan Inseminasi buatan(IB)/Petugas Pemeriksa Kebuntingan (PKB)/Asisten Teknik Reproduksi (ATR) dan keterbatasan alokasi dana yang tersedia dalam melaksanakan PKB (Kabupaten Wonosobo). Langkah-langkah yang perlu diambil yaitu perlunya Tim terpadu antara pusat/daerah, mengumpulkan ternak dalam satu lokasi, membuat jadwal lapangan, dan penyiapan anggaran. Permasalahan lain yang muncul terkait administrasi pelaporan kegiatan, keterbatasan ketersediaan N2, dan kemampuan SDM.Sulosi yangperlu dipertimbangkan pendanaan terkait pelaporan kelahiran, menginventarisir kebutuhan N2 cair, perbaikan sistem ISIKHNAS, reffresing petugas IB, PKB dan ATR. Dengan diaadakannya pertemuan ini diharapkan dapat memberikan pemecahan dalam memperlancar pelaksanaan kegiatan UPSUS SIWAB. Semoga bermanfaat (Red’17).

Sekapur Sirih 

Drh. Syamsul Maarif M.Si

Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh,

Kami dengan rasa gembira menyambut partisipasi Anda di situs web kami. Sejalan dengan semakin berkembangnya tuntutan masyarakat terhadap fungsi dan peran Kesehatan Masyarakat Veteriner serta seiring kemajuan teknologi informasi saat ini maka situs ini akan kami gunakan untuk melayani dan menghubungkan Anda dengan Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Read more: Sekapur Sirih

 

Polling Kesmavet 

Menjadi Direktorat yang Mampu Mewujudkan Pelayanan Kesehatan Masyarakat Veteriner Profesional dalam Menjamin Kesehatan dan Ketentraman Bathin Masyarakat.

Visi Kesmavet-Paspa

Pengunjung 

We have 42 guests and no members online

Video 

Pengelolaan dan Pelaksanaan Kurban Yang Benar, Aman, dan Nyaman ------------------------------------------------------------- Cara Memilih Hewan Kurban Yang Baik ------------------------------------------------------------- Metode Perobohan dan Pemotongan Hewan (Sapi) ------------------------------------------------------------- Desain Fasilitas Pemotongan Hewan Kurban(Portable) ------------------------------------------------------------- Pemeriksaan Antemortem Postmortem ------------------------------------------------------------- Kesejahteraan Hewan Kurban ------------------------------------------------------------- Nomor Kontrol Veteriner (NKV) ------------------------------------------------------------- Dialog Penerapan Kesejahteraan Hewan ------------------------------------------------------------- Waspada Penyakit Zoonosis ------------------------------------------------------------- Ayam dan Hormon ------------------------------------------------------------- Penggunaan Antimikrobial Yang Bijak -------------------------------------------------------------

Sebaran Pengunjung