Pencarian 

Kesmavet Produk.pnghewan.pngim1

Beranda

Media Website Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner menerima tulisan yang dikirim ke alamat redaksi melalui email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. . Tulisan bersifat orisinil, aktual dan informatif tentang kesehatan masyarakat veteriner diketik rapi 1,5 spasi. Panjang tulisan 2-3 halaman diketik format *.doc(words file) maksimal 7000 karakter termasuk spasi. Foto pendukung minimal 2 buah  dengan ukuran masing-masing maksimal sebesar 2MB. Sebelum diterbitkan tulisan di review dan disunting oleh Tim redaksi tanpa merubah isinya.  Perlu kami sampaikan sebelumnya pengiriman tulisan gratis dan tidak tersedia honor bagi penulis. 

PERTEMUAN EVALUASI UPSUS SIWAB PROVINSI JAWA TENGAH

Dalam rangka mengakselerasi pencapaian target peningkatan populasi ternak, Menteri Pertanian RI melalui Peraturan Menteri Pertanian Nomor 48/Permentan/PK.210/10/2016 tentang Upaya Khusus Percepatan Peningkatan Populasi Sapi dan Kerbau Bunting yang telah dicanangkan dalam bentuk UPSUS SIWAB, yaitu program percepatan peningkatan populasi sapi dan kerbau dalam rangka pemenuhan daging sapi dan kerbau di dalam negeri yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan beserta jajarannya.

Jateng 1

UPSUS SIWAB merupakan suatu kegiatan yang terintegrasi dalam rangka percepatan peningkatan populasi sapi dan kerbau secara masif dan serentak, melalui pendekatan sistem manajemen reproduksi.  Melalui UPSUS SIWAB, pada akhir tahun 2017 ditargetkan 4 (empat) juta ekor Sapi dan Kerbau menjadi akseptor yang akan dilakukan Inseminasi Buatan (IB)/kawin suntik, dimana 3 juta ekor diantaranya ditargetkan bunting. Hal tersebut tentunya harus didukung oleh status kesehatan reproduksi ternak dan terjaganya populasi ternak betina yang masih produktif di seluruh Indonesia terutama daerah sentra-sentra ternak. Propinsi Jawa Tengah merupakan salah satu target kegiatan yang berpotensi dalam mendukung program tersebut dimana target realisasi kegiatan Inseminasi Buatan (IB) paling tinggi secara nasional sedangkan target kebuntingan masih perlu ditingkatkan. Oleh karena itu perlu diadakan evaluasi pelaksanaan kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 4-5 Oktober 2017 di Surakarta-Jawa Tengah.  

Pertemuan ini dibuka oleh Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner dan dihadiri oleh perwakilan Dinas Kab/Kota yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan dilingkup Provinsi Jawa Tengah. Sementara dari pusat dihadiri perwakilan dari Direktorat Kesmavet, Direktorat Pakan, Direktorat PPHNak, Direktorat Bibit dan Produksi, BVet Subang, BET Cipelang, BBvet Wates, Seknas Upsus SIWAB dan Balai Karantina Pertanian Kelas I Semarang. Dengan adanya pertemuan ini diharapkan dapat memberikan masukan pengambil kebijakan dan gambaran daerah-daerah yang berhasil melaksankaan kegiatan sehingga dapat dicontoh oleh wilayah yang lain.

Jateng 2

 

Berbagai permasalahan muncul dilapangan dan perlu di ambil langkah yang tepat diantaranya masih rendahnya angka kebuntingan yang disebabkan karena keterbatasan SDM dan waktu  petugas untuk melakukan Inseminasi buatan(IB)/Petugas Pemeriksa Kebuntingan (PKB)/Asisten Teknik Reproduksi (ATR) dan keterbatasan alokasi dana yang tersedia dalam melaksanakan PKB (Kabupaten Wonosobo). Langkah-langkah yang perlu diambil yaitu perlunya Tim terpadu antara pusat/daerah, mengumpulkan ternak dalam satu lokasi, membuat jadwal lapangan, dan penyiapan anggaran. Permasalahan lain yang muncul terkait administrasi pelaporan kegiatan, keterbatasan ketersediaan N2, dan kemampuan SDM.Sulosi yangperlu dipertimbangkan pendanaan terkait pelaporan kelahiran, menginventarisir kebutuhan N2 cair, perbaikan sistem ISIKHNAS, reffresing petugas IB, PKB dan ATR. Dengan diaadakannya pertemuan ini diharapkan dapat memberikan pemecahan dalam memperlancar pelaksanaan kegiatan UPSUS SIWAB. Semoga bermanfaat (Red’17).

SATGAS POS KOMANDO SIAGA PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN SIAP IKUT MENGANTISIPASI ERUPSI GUNUNG AGUNG

Tindakan antisipasi kemungkinan terjadinya erupsi Gunung Agung membuat prihatin berbagai pihak untuk ikut bersama-sama mengambil peranan masing-masing. Berbagai bantuan berupa fisik dan psikis perlu dipersiapkan dalam antisipasi kejadian erupsi Gunung Agung dengan cara bergotong-royong. Penyelamatan utama adalah penyelamatan terhadap nyawa manusia sehingga untuk mengantisipasinya penduduk di daerah terdampak wajib relokasikan ke tempat pengungsian yang lebih aman. Langkah berikutnya adalah penyelamatan terkait semua harta benda yang di dalamnya termasuk ternak-ternak hidup dan nyawa hewan kesayangan maupun hewan liar/eksotik. Dalam hal ini penanganan ternak di daerah terdampak bencana dibutuhkan penanganan yang cepat, tepat, dan terkoordinasi dengan baik. Seluruh elemen harus bahu-membahu untuk mengatasi kondisi tersebut sesuai dengan peranannya masing-masing.

Satgas Pos Komando Siaga Peternakan dan Kesehatan Hewan Antisipasi Erupsi Gunung Agung yang terdiri dari Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali, dan Dinas Pertanian Kab. Karangasem juga bekerjasama dengan berbagai pihak seperti PDHI (Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia), Fakultas Peternakan UGM, Pakultas Peternakan UNUD, Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI), Gabungan Pengusaha Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo), Forum Pimpinan Perguruan Tinggi Peternakan Indonesia, Perhimpunan Sarjana Sosial Ekonomi Peternakan Indonesia, dan Asosiasi Ilmu Nutrisi Indonesia serta tak kalah penting berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Bali sat

Suasana tenda, pengungsi, gudang sembako, dan ternak yang diselamatkan

Upaya real yang sudah dilakukan Tim Satgas Peternakan dan Kesehatan Hewan adalah membentuk Satgas Peternakan dan Kesehatan Hewan, melakukan evakuasi ternak, melakukan penyiapan pembuatan kandang penampungan ternak, memberikan bantuan (dari berbagai bidang tugas lingkup Kementan), ikut memfasilitasi mendistribusikan bantuan, membuka pelayanan kesehatan hewan bekerjasama dengan PDHI, membuat edaran kepada dinas kab/kota untuk menstok pakan ternak sebanyak mungkin antisipasi terjadinya erupsi. Target sapi rencana yang diselamatkan yaitu 20.000 ekor sapi yang berasal dari wilayah terdampak. Total ternak yang sudah dievakuasi sampai tanggal 3 Oktober 2017 sebanyak 4.678 dengan rincian Sapi (4.053 ekor), kambing (459 ekor) dan babi (166 ekor) yg tersebar di 7 Kabupaten di 41 titik lokasi tempat penampungan.

Berbagai kendala muncul di lapangan terkait kesulitan-kesulitan Tim dalam mengantisipasi kondisi tersebut yaitu kurangnya tenaga untuk mengevakuasi, pengawasan, perawatan ternak/hewan kesayangan di tempat pengungsian, kurangnya pakan dan bahan untuk membuat kandang sementara. Sebagai ilustrasi prediksi Kebutuhan konsentrat sapi untuk 1 bulan sebanyak 1.200 ton dan Sudah tersedia 70 ton, kebutuhan pakan hijauan 15.000 ton. Saat ini baru tersedia (rumput gajah 3 ton + 2 truk, jerami 2,5 ton + 9 truk + 5 engkel) dan sebagian juga masih disediakan secara mandiri oleh para peternak dan berbagai pihak yang ikut mendukung.Walaupun demikian fakta dilapangan juga menunjukkan bahwa tidak semua peternak memperbolehkan ternaknya direlokasi ke tempat lain karena pemilik masih megganggap kondisi Gunung Agung masih aman dan cenderung  membaik. Pemilik ternak yang menolak ternaknya dibawa turun masih setiap hari memberi pakan ke kandang mereka, memang akses mencari rumput menajdi  terbatas karena banyak desa-desa rawan sudah ditutup dan tidak boleh masuk. Untuk ternak yang tidak berada di tempat penampungan pemerintah tidak dapat memberi bantuan pakan begitu saja karena semua bantuan harus diberikan melalui BNPB (terkait akuntabilitas yang baik).

Disamping hewan ternak, hewan kesayangan juga tak luput dari perhatian berbagai pihak untuk diselamatkan. Banyak anjing yang tertinggal di desa rawan bencana yang sudah di tutup, pemiliknya telah mengungsi, anjing ini adalah anjing yang sehari-hari dilepas liar, untuk anjing yang sehari hari benar-benar dipelihara sudah dievakuasi bersama pemilik. Disisi lain hewan kesayangan yang dilepas liarkan tersebut sesuai nalurinya akan dapat mengamankan dirinya menuju tempat yang lebih aman jika suatu saat terjadi bencana.

Sampai saat ini Tim satgas masih terus berupaya mengantisipasi segala kemungkinan-kemungkinan dalam upaya mewujudkan tujuan tersebut. Langkah tindak lanjut yang dilakukan diantaranya mempercepat proses evakuasi dan relokasi ternak dari daerah rawan bencana ke tempat-tempat penampungan yg telah ditetapkan, mendata/mengidentifikasi jenis dan jumlah populasi ternak di desa-desa terdampak dan jumlah yg sudah dan belum dievakuasi, melakukan pengawasan dan penanganan terhadap kesehatan dan kesejahteraan ternak ditempat penampungan, terus memfasilitasi para pihak dalam memberikan kontribusi (non tunai) terutama untuk pakan dan kendaraan angkut untuk evakuasi ternak, koordinasi dengan BNPB tentang terkait kebutuhan sarpras.

Disamping itu, Tim juga melakukan identifikasi ternak secara lebih rinci dengan memperhatikan berat badan dan jantan/betina, untuk penjualan sapi diprioritaskan sapi jantan, adapun sapi betina hanya dijual untuk tetap dipelihara di Bali terkait peraturan yang ada. Melakukan pendataan anjing di pengungsian yang diusahakan oleh petugas Tagana dari Kemensos atau Pendamping Desa dariKemendes, serta melalui PJ2 tempat pengungsian.Meminta Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali untuk membuat edaran melarang para relawan/LSM memasuki area berbahaya untuk sekedar memberi pakan hewan yang ditinggal pengungsi mengingat membahayakan nyawa relawan/LSM itu sendiri. Untuk layanan penanganan evakuasi ternak dan kesehatan hewan serta informasi lainnya dapat menghubungi Hotline Nomor : 081238632084 yang dapat diakses 24 jam. Semoga bermanfaat dan suasana segera kembali normal, terimaksih(red’17).

PENILAIAN PENGENDALIAN INTERN (PI) KEGIATAN LINGKUP DITJEN PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN

PI 1 1Dalam upaya mengoptimalkan implementasi Pengendalian Intern (PI) kegiatan pada pelaksanaan program kegiatan di lingkup Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH), maka Tim Satlak PI Ditjen PKH melaksanakan penilaian PI pada seluruh kegiatan di Ditjen PKH di masing-masing Sub Direktorat dan Bagian Sekretariat Ditjen PKH. Kegiatan penilaian PI merupakan bentuk monitoring perkembangan pelaksanaan kegiatan sekaligus evaluasi dalam rangka memberikan early warning perbaikan pelaksanaan kegiatan bulan berikutnya dan/atau memberikan rekomendasi penyempurnaan pelaksanaan program/ kegiatan tahun 2018, baik dari manajemen maupun aspek teknis. Dalam rangka persiapan pelaksanaan penilaian PI maka Tim Satlak PI Direktorat Kesmavet bersama-sama dengan para penanggung jawab kegiatan subdit Direktorat Kesmavet telah melakukan rapat koordinasi pada hari Kamis tanggal 28 September 2017 di ruang rapat Direktorat Kesmavet. Penilaian PI kegiatan dilaksanakan serentak pada tanggal 2 Oktober 2017 di masing-masing Sub Direktorat lingkup PKH dan pada tanggal 3 Oktober 2017 di Bagian Sekretariat Ditjen PKH. Untuk menjaga kebebasan pelaksanaan penilaian, maka kegiatan penilaian tersebut dilakukan oleh Tim Satlak PI secara silang lintas Direktorat/Bagian lain yang berbeda. Penilaian PI dilakukan terhadap 5 unsur Sistem Pengendalian Intern (SPI) yaitu Lingkungan Pengendalian, Penilaian Risiko, Kegiatan Pengendalian, Informasi dan Komunikasi, dan Pemantauan.

PI 2Entry meeting penilaian PI dilaksanakan pada hari Senin tanggal 2 Oktober 2017 jam 09:00 WIB yang dipimpin langsung oleh Dirjen PKH Drh. I Ketut Diarmita, MP dan arahan juga disampaikan oleh Inspektur IV dari Inspektorat Jenderal Kementerian Pertanian. Penyampaian hasil penilaian tersebut akan disampaikan melalui exit meeting pada hari Rabu tanggal 4 Oktober 2017 yang merupakan serangkaian kegiatan yang tak terpisahkan. Semoga kegiatan ini dapat memberikan manfaat untuk pengembangan berbaikan organisasi di tahun-tahun mendatang khususnya lingkup Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (Red’17).

Sekapur Sirih 

Drh. Syamsul Maarif M.Si

Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh,

Kami dengan rasa gembira menyambut partisipasi Anda di situs web kami. Sejalan dengan semakin berkembangnya tuntutan masyarakat terhadap fungsi dan peran Kesehatan Masyarakat Veteriner serta seiring kemajuan teknologi informasi saat ini maka situs ini akan kami gunakan untuk melayani dan menghubungkan Anda dengan Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Read more: Sekapur Sirih

 

Polling Kesmavet 

Menjadi Direktorat yang Mampu Mewujudkan Pelayanan Kesehatan Masyarakat Veteriner Profesional dalam Menjamin Kesehatan dan Ketentraman Bathin Masyarakat.

Visi Kesmavet-Paspa

Pengunjung 

We have 9 guests and no members online

Video 

Pengelolaan dan Pelaksanaan Kurban Yang Benar, Aman, dan Nyaman ------------------------------------------------------------- Cara Memilih Hewan Kurban Yang Baik ------------------------------------------------------------- Metode Perobohan dan Pemotongan Hewan (Sapi) ------------------------------------------------------------- Desain Fasilitas Pemotongan Hewan Kurban(Portable) ------------------------------------------------------------- Pemeriksaan Antemortem Postmortem ------------------------------------------------------------- Kesejahteraan Hewan Kurban ------------------------------------------------------------- Nomor Kontrol Veteriner (NKV) ------------------------------------------------------------- Dialog Penerapan Kesejahteraan Hewan ------------------------------------------------------------- Waspada Penyakit Zoonosis ------------------------------------------------------------- Ayam dan Hormon ------------------------------------------------------------- Penggunaan Antimikrobial Yang Bijak -------------------------------------------------------------

Sebaran Pengunjung