Pencarian 

Kesmavet Produk.pnghewan.pngim1

Beranda

Media Website Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner menerima tulisan yang dikirim ke alamat redaksi melalui email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. . Tulisan bersifat orisinil, aktual dan informatif tentang kesehatan masyarakat veteriner diketik rapi 1,5 spasi. Panjang tulisan 2-3 halaman diketik format *.doc(words file) maksimal 7000 karakter termasuk spasi. Foto pendukung minimal 2 buah  dengan ukuran masing-masing maksimal sebesar 2MB. Sebelum diterbitkan tulisan di review dan disunting oleh Tim redaksi tanpa merubah isinya.  Perlu kami sampaikan sebelumnya pengiriman tulisan gratis dan tidak tersedia honor bagi penulis. 

PENGAWASAN TERPADU PEMASUKAN PRODUK HEWAN DI WILAYAH PERBATASAN NKRI

Oleh :

1. Drh. Nuraina (Fungsional Medik Veteriner Muda)

2. Drh. Eka Handayani, M.Si (Kepala Seksi Pengawasan Peredaran)

Dalam rangka menjamin keamanan produk hewan yang aman, sehat, utuh dan halal bagi yang dipersyaratkan Pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya berkewajiban untuk melaksanakan pengawasan produk hewan. Hal ini sesuai dengan amanat Undang-undang Nomor 18 Tahun 2009 jo Undang-Undang Nomor 41 tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan dan Peraturan Pemerintah Nomor 95 tahun 2012 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner.

was 3

 

Produk Hewan yang beredar di wilayah Negara Republik Indonesia terutama di wilayah perbatasan Negara, perlu dilakukan pengawasan dengan melibatkan berbagai instansi secara terpadu meliputi Kementerian Pertanian, BPOM, BPJPH, LPPOM MUI, dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan dinas provinsi/kabupaten/kota, serta Tim Satgas Pangan, PPNS, Kepolisian dan instansi terkait lainnya. Dengan demikian petugas dapat megambil langkah yang tepat sesuai dengan kewenangannya.

Pengawasan terpadu ini bertujuan untuk mengkoordinasikan mekanisme jalannya pengawasan terpadu keamanan produk hewan. Pengawasan juga dilakukan dalam rangka pemenuhan persyaratan teknis pemasukan produk hewan dari luar negeri terkait aspek keamanan dan peredarannya. Selain itu pengawasan juga diharapkan dapat mengsinergikan kegiatan pengawasan dengan instansi terkait yang berwenang dalam upaya menjamin keamanan produk hewan yang beredar di wilayah Negara Republik Indonesia terutama diperbatasan Negara.

was 2

Mengapa perlu dilakukan pengawasan terpadu di perbatasan Negara Republik Indonesia? Aspek keamanan pangan merupakan tuntutan dari masyarakat yang semakin maju dan modern dalam dunia perdagangan bebas. Produk hewan yang berupa pangan asal hewan (daging, susu dan produk telur) maupun produk hewan non pangan (kulit, bulu, tulang) yang beredar di wilayah Negara Republik Indonesia selain diproduksi di dalam negeri, juga diimpor dari beberapa negara melalui pintu-pintu pemasukan yang sudah ditentukan oleh pemerintah. Namun demikian untuk mengantisipasi pemasukan produk hewan illegal terutama di daerah perbatasan perlu dilakukan pengawasan yang lebih intensif dalam rangka memberikan jaminan keamanan produk yang beredar. Seiring dengan berkembangnya teknologi dibidang industri pangan dalam hal perdagangan bebas kebutuhan produk hewan semakin meningkat. Pemasukan produk hewan juga dimungkinkan masuk secara illegal melalui pintu masuk yang tidak resmi (pelabuhan tikus) yang lepas dari pengawasan petugas.

Oleh karena itu perlu melakukan pengawasan secara terpadu oleh petugas sesuai dengan kewenangannya. Di gerbang pemasukan (bandara dan pelabuhan) resmi biasanya sudah ada petugas karantina dan beacukai yang memeriksa pemasukan barang. Petugas Pengawas Kesmavet, Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan bekerjasama dengan Penyidik Polri serta instansi lain terkait juga melakukan pengawasan terhadap peredarannya.

was 1

Petugas Tim pengawasan terpadu biasanya melakukan pemeriksaan dokumen, pemeriksaan kondisi fisik barang, dan wawancara dengan penanggung pelaku usaha dengan yang didukung dengan ceklist yang sudah disediakan. Jika semua persyaratan telah lengkap maka produk hewan tersebut dapat dipastikan aman dan dapat diedarkan. Apabila persyaratan dinyatakan tidak lengkap maka produk hewan tersebut belum dapat dipastikan aman bagi masyarakat dan dimungkinkan masuk melalui jalur-jalur yang tidak resmi. Oleh karena itu maka perlu dilakukan pengawasan terpadu secara rutin dan berkala sesuai dengan tahap-tahap pelaksanaan pengawasan di wilayah perbatasan(red 19).

Reportase Pelaksanaan Kegiatan Workshop Kesejahteraan Hewan Se Asia-Pasifik di Bali, Indonesia

 “Penerapan kesejahteraan hewan akan bersifat EVOLUSI bukan REVOLUSI”, hal ini menjadi sebuah semangat bersama untuk mewujudkan bangsa yang memiliki generasi penerus yang bermartabat dengan memperlakukan hewannya dengan baik. Penerapan kesejahteraan hewan dimaknai sebagai sebuah tindakan pendekatan pemahaman yang selaras antara aspek hukum, etik dan sains kepada makhluk yang sentiens (mampu merasa).

Dalam kesempatan ini Indonesia sebagai tuan rumah dalam penyelenggaraan workshop vocal point kesejahteraan hewan se-Asia Pasifik yang dilaksananakan pada tanggal 11-14 November 2019 di Bali. Kegiatan ini diselenggarakan oleh OIE (Office Internationale des Epizooties) bekerjasama dengan Kementerian Pertanian Cq. Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner) yang dihadiri oleh 50 orang peserta yang berasal dari 28 negara dikawasan Asia-Pasifik yang terdiri atas anggota vocal point kesejahteraan hewan, panitia OIE, NGOs, dan ahli dibidang kesejahteraan hewan.

Kegiatan pertemuan ini dibuka secara resmi oleh Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner yang diwakili oleh Kepala Subdit Kesejahteraan Hewan (drh. Hastho Yulianto, MM). Dalam sambutannya Hastho Yulianto mengungkapkan bahwa “untuk menerapkan kesejahteraan hewan di Indonesia perlu memperhatikan berbagai dimensi, seperti aspek hukum, sosial, budaya, ekonomi, politik, dan bahkan unsur SARA”. Pemerintah juga telah melakukan berbagi upaya untuk meningkatkan penerapan kesejahteraan hewan di Indonesia melalui kegiatan-kegiatan : penguatan legislasi, komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE), melatih petugas Animal Welfare Officer (AWO), dan menjalin kerjasama lintas sektor termasuk masyarakat dalam mengimplemantasikan kesejahteraan hewan.

Kegiatan workshop ini dilakukan dengan pemaparan materi, diskusi, simulasi kelompok sesuai dengan isu terkini, dan praktik kunjungan lapangan. Materi inti yang diangkat dalam pertemuan workshop ini yaitu Regional Animal Welfare Strategy (RAWS), penerapan kesejahteraan hewan dalam mengendalikan poulasi anjing liar, saat hewan ditransportasikan, kuda pekerja, kesejahteraan hewan pada pembunuhan reptil, peternakan babi dan kesejahteraan hewan dalam pemeliharaan unggas.

Oie Pertemuan ok

Kegiatan Pelaksanaan Workshop

Selama hari pertama sampai ke tiga beberapa delegasi mendapatkan kesempatan berbagi pengalamannya dalam menerapkan kesejahteraan hewan di negaranya. Pada hari pertama Indonesia mendapat kesempatan berbagi pengalan tentang manajemen populasi anjing liar yang merupakan implementasi panduan OIE Terestrial Animal Health Code(TAHC) Chapter 7.7. Effective Implementation of Stray Dog Population Control. Sedangkan pada hari ke dua  Indonesia mendapatkan kesempatan untuk berbagi pengalaman tentang penerapan kesejahteraan hewan dalam transportasi laut yang merupakan implementasi panduan OIE Chapter. 7.2. Transport of Animal by Sea.

Oie Kandang ok

Praktik Lapangan di BPTU-HPT Denpasar

Pada hari ke empat dilakukan kunjungan lapang di salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan yaitu BPTU-HPT Denpasar yang terletak di Pulukan, Jembrana-Bali. Disini Peserta mendapatkan kesempatan mengamati implementasi kesejahteraan hewan pada peternakan sebagaimana panduan OIE Terestrial Animal Health Code (TAHC) Chapter. 7.9. Animal Welfare and Beef Cattle Production Systems. Di akhir acara pelaksanaan kegiatan, seluruh peserta merasa senang dan bangga mendapat kesempatan belajar bersama tentang kesejahteraan hewan di Indonesia. Semoga dilain kesempatan kegiatan serupa dapat kembali terlaksana dan bermanfaat (Red.19)

BAGAIMANA MENCEGAH MIKROBA DALAM PANGAN SIAP SAJI(READY TO EAT FOOD)

Oleh: Drh. Andi Eka Putra (Medik Veteriner Pertama)

PENDAHULUAN

Pangan siap makan (ready to eat food/RTE) adalah pangan yang siap untuk dikonsumsi dan tidak perlu dimasak yang biasanya disimpan dalam pendingin atau pada suhu kamar. Contoh pangan RTE adalah daging, sushi, sayur-sayuran dan buah-buahan. Perubahan gaya hidup membuat tingkat konsumsi akan pangan ini sangat tinggi, namun hal ini dapat berpotensi memperbesar resiko tercemar mikroorganisme patogen yang terkandung di dalamnya. Proses penanganan pangan tanpa dimasak ini memungkinkan hidup dan berkembangnya mikroorganisme patogen yang membahayakan keamanan pangan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mikroorganisme patogen yang sering ditemukan pada pangan RTE adalahClostridium botulinum, Escherichia coli, Salmonella spp., Listeria monocytogens, Yersinia enterocolitica, Staphylococcus aureus, Shigella spp., Bacillus cereus danCampylobacter jejuni yang termasuk ke dalam food borne.

RTE 1

 

Contoh pangan ready to eat food

Listeria monocytogens

Listeria monocytogens dapat menyebabkan penyakit serius pada manusia dan biasanya ditularkan melalui pangan. L. Monocytogens dapat tumbuh atau bertahan hidup bahkan dalam kondisi dingin. Oleh karena itu penting untuk mengelola kebersihan dan membatasi masa simpan bahan pangan siap makan (RTE) dan produk olahan. Listeria sp. berbentuk batang (Krauss et al. 2003), berukuran kecil dan termasuk bakteri gram positif. Motilitas umum bakteri ini pada suhu 20-25°C, dengan pH 4,5-9,2. Listeria tumbuh baik pada lingkungan yang memiliki tekanan oksigen rendah dan tumbuh pada aktivitas air di bawah 0,93. Bakteri ini bersifat aerobik, mikroaerofilik, fakultatif anaerobik, katalase positif, memfermentasi glukosa dan oksidasi negatif. Pertumbuhan Listeria sp. Akan meningkat dengan adanya glukosa.

Listeriosis

Listeriosis merupakan suatu penyakit yang dapat menunjukkkan berbagai gejala klinis. Beberapa penelitian menyatakan sebagian besar infeksi berasal dari pangan yang terkontaminasi. Kasus listeriosis pada manusia telah dilaporkan di berbagai negara dengan memiliki tingkat kematian cukup tinggi mencapai 20%. Sekitar tahun 1942 Listeria diisolasi dari tentara yang mengalami meningitis dan pada tahun 1972 L. Monocytogenes diduga menjadi penyebab keguguran. Menurut dokumen standar pemeriksaan L. Monocytogenes pada pangan tahun 2003, genus Listeria memiliki 6 spesies, yaitu L. Monocytogenes, L. Innocua, L. Seeligeri, L. Welshimeri, L. Ivanovii, dan L. Grayi. Dari keenam spesies tersebut, diketahui hanya L. Monocytogenes yang bersifat patogen terhadap manusia apabila mengontaminasi pangan atau minuman yang dikonsumsi.

Eschericia coli

Genus eschericia pertama kali ditemukan oleh seorang dokter anak berkebangsaan Jerman yang juga mengisolasi spesies Eschericia coli. Selain itu juga ditemukan lima spesies lainnya yaitu E. albertii, E. blattae, E. fergusonii, E. hermanni, dan E. vulneris. E. coli merupakan yang paling patogen. Bakteri ini biasa ditemukan pada mikroflora intestinal hewan berdarah panas dan manusia. E. coli yang patogen dapan menyebabkan berbagai penyakit antara lain gastroenteritis, disentri, infeksi saluran kemih, septisemia, pneumonia dan meningitis.

RTE 2

Contoh pangan ready to eat food

PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN

Pencegahan listeriosis dan infeksi E. coli pada manusia meliputi pencegahan mengonsumsi pangan yang terkontaminasi dan pencegahan penularan antar manusia. Pencegahan meliputi mengurangi kontaminasi pangan dari kotoran hewan dan memasak pangan sampai matang dengan suhu yang cukup. Pencegahan juga memerlukan biaya lintas sektoral yang melibatkan pemerintah, industrI pangan dan konsumen. Dalam hal ini, pihak harus industri bertanggung jawab untuk mengikuti peraturan praktek higiene dan mematuhi aturan yang dibentuk oleh pemerintah. Industri pangan harus menyadari pentingnya keamanan pangan dan mencari cara untuk memastikan keamanan produk seperti penerapan HACCP.

PEMBAHASAN

Pangan siap makan (RTE) tidak perlu dimasak atau dipanaskan sebelum dikonsumsi. Hal ini menyebabkan tingginya jumlah mikroorganisme patogen yang dapat berkembang dalam pangan dikarenakan pengolahan, pemanasan yang tidak sempurna serta kontaminasi sekunder memlalui cemaran dari alat yang digunakan untuk pengolahan seperti papan, pisau dan lainnya. RTE food merupakan pangan yang sering terkontaminasi dan dari segi resiko pangan jenis ini memiliki resiko yang tinggi terhadap penyakit seperti listeriosis. Pangan RTE terdiri atas berbagai bahan pangan, dan disimpan dengan cara dan kondisi yang berbeda, dan siap dikonsumsi tanpa pengolahan terlebih dahulu. Beberapa contoh ready to eat food diantaranya sosis siap makan, salad, sandwich, semi soft cheeses, pate dan ikan asap. Pangan yang dapat dikaitkan dengan transmisi mikroorganisme kebanyakan berasal dari pangan siap saji. Sumber cemaran tidak hanya berasal dari pangan tetapi juga karena faktor lain seperti jenis pangan, kemasan, mesin yang digunakan, suhu penyimpanan, kurangnya penerapan HACCP yang efektif dan kurangnya pengetahuan tentang mutu pangan yang baik

Kehadiran mikroorganisme seperti E. coli dalam produk pangan RTE menunjukkan adanya kontaminasi sekunder. Coliform dan E. coli merupakan mikroorganisme yang paling sering ditemukan mengontaminasi pangan RTE. Mikroorganisme ini biasanya ditemukan dari pangan berupa produk daging dan pangan laut, dan sayur-sayuran. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh I Made (2008) terhadap cemaran E. coli pada daging, wadah air dan tempat pengolahan pangan di pedagang kaki lima, restoran dan rumah makan menunjukkan bahwa kontaminasi E. coli pada bahan pangan memperoleh nilai tertinggi yaitu 40%.Sejumlah penelitian menunjukkan kontaminasi E. coli berasal dari pangan. Penelitian di Bangkok menunjukkan bahwa bakteri coloiform ditemukan lebih dari 50% pada pangan.

Listeria monocytogens juga merupakan salah satu bakteri yang banyak dtemukan pada pangan. Pangan yang berpotensi sebagai media penularan bakteri ini yaitu susu yang tidak dipasteurisasi, keju lunak, telur mentah, daging mentah, seafood serta sayuran dan buah-buahan yang tidak dimasak ( Lorber 2007). Kontaminasi utama pada susu terjadi secara vertikal. Pada daging sumber kontaminasi berasal dari sisia feses yang ikut masuk ke dalam tempat pemotongan, sedangkan pada telur berasal dari kerabang telur.Manusia yang mengonsumsi pangan terkontaminasi L. Monocytogenes akan mengalami demam, nyeri otot, mual dan diare. Orang dewasa dan anak-anak yang sehat jarang jatuh sakit karena mengonsumsi pangan terkontaminasi L. Monocytogenes. Peluang terjadinya gangguan kesehatan lebih banyak pada wanita hamil dan orang dengan sistem imun yang terganggu.

Sekitar akhir tahun 1970-an penyakit ini menjadi wabah foodborne disease di Amerika Utara (Bhunia 2008). Pada tahun 1985 di California, Amerika Serikat, sebanyak 142 orang menderita meningitis akibat listeria sp dan menyebabkan kematian pada 48 orang setelah mengonsumsi keju yang berasal dari susu yang tidak dipasteurisasi. Penyakit klinis yang disebabkan oleh L. Monocytogenes lebih sering dilaporkan oleh dokter hewan berupa meninggoensefalitis pada ruminansia.        

KESIMPULAN

Mengingat pangan Ready to eat food (RTE) tanpa dimasak terlebih dahulu, sehingga proses penanganan seperti ini dapat menjadi sumber cemaran penyakit (foodborne disease) karena dengan keadaan pangan yang seperti ini sangat memungkinkan untuk perkembangan mikroorganisme yang menjadi sumber penyakit. Listeriosis dan kolibasilosis adalah contoh penyakit yang sering ditimbulkan karena mengonsumsi Ready to Eat food.

DAFTAR PUSTAKA

Bhunia AK. 2008. Foodborne Microbial Pathogens. New York: Springer sci.

Krauss H, Weber A, Appel M, Enders B, Isenberg HD, Schiefer HG, Slenczka W. 2003. Zoonoses: Infectious Disease Transsmissible from Animals to Humans. Washington DC: ASM Pr.

Lorber B. 2007. Listeriosis. Di dalam Goldfine H, Shen H, editor. Listeria monocytogenes: Pathogenesis and Host Response. New York: Springer sci. Hlm 13-32.

Que-King Wei, Shu Ling Hwang, dan Tong-Rong Chen. 2005. Microbiological quality of ready to eat food product in southern taiwan. J food drug analysis 14:68-73.

Warapa M, Wipawade O, Siripon S, Nitaya P, Phattaphorn C, Tanaporn B. 2010. Risk evaluation of popular ready to eat food sold in bangkok. As. J. Food Ag-Ind 3(01):75-81.

Biswas S, Parvez MAK, Shafiquzzaman M, Nahar S, Rahman MN. 2010. Isolation and characterization of eschericia coli in ready to eat foods vended in islamic university, kushtia. J. Bio Sci 18:99-103.

Sekapur Sirih 

Drh. Syamsul Maarif M.Si

Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh,

Kami dengan rasa gembira menyambut partisipasi Anda di situs web kami. Sejalan dengan semakin berkembangnya tuntutan masyarakat terhadap fungsi dan peran Kesehatan Masyarakat Veteriner serta seiring kemajuan teknologi informasi saat ini maka situs ini akan kami gunakan untuk melayani dan menghubungkan Anda dengan Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Read more: Sekapur Sirih

 

Polling Kesmavet 

Menjadi Direktorat yang Mampu Mewujudkan Pelayanan Kesehatan Masyarakat Veteriner Profesional dalam Menjamin Kesehatan dan Ketentraman Bathin Masyarakat.

Visi Kesmavet-Paspa

Pengunjung 

We have 14 guests and no members online

Video 

Pengelolaan dan Pelaksanaan Kurban Yang Benar, Aman, dan Nyaman ------------------------------------------------------------- Cara Memilih Hewan Kurban Yang Baik ------------------------------------------------------------- Metode Perobohan dan Pemotongan Hewan (Sapi) ------------------------------------------------------------- Desain Fasilitas Pemotongan Hewan Kurban(Portable) ------------------------------------------------------------- Pemeriksaan Antemortem Postmortem ------------------------------------------------------------- Kesejahteraan Hewan Kurban ------------------------------------------------------------- Nomor Kontrol Veteriner (NKV) ------------------------------------------------------------- Dialog Penerapan Kesejahteraan Hewan ------------------------------------------------------------- Waspada Penyakit Zoonosis ------------------------------------------------------------- Ayam dan Hormon ------------------------------------------------------------- Penggunaan Antimikrobial Yang Bijak -------------------------------------------------------------

Sebaran Pengunjung