Pencarian 

Kesmavet Produk.pnghewan.pngim1

Beranda

Media Website Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner menerima tulisan yang dikirim ke alamat redaksi melalui email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. . Tulisan bersifat orisinil, aktual dan informatif tentang kesehatan masyarakat veteriner diketik rapi 1,5 spasi. Panjang tulisan 2-3 halaman diketik format *.doc(words file) maksimal 7000 karakter termasuk spasi. Foto pendukung minimal 2 buah  dengan ukuran masing-masing maksimal sebesar 2MB. Sebelum diterbitkan tulisan di review dan disunting oleh Tim redaksi tanpa merubah isinya.  Perlu kami sampaikan sebelumnya pengiriman tulisan gratis dan tidak tersedia honor bagi penulis. 

MANFAAT KAPAL TERNAK DAN ASPEK KESEJAHTERAAN HEWANNYA

Pendahuluan

Kondisi geografis Indonesia yang terdiri atas daratan dan lautan menuntut sarana transportasi laut, udara, dan darat yang baik untuk mengangkut penumpang, benda hidup, dan barang. Sebagai moda transportasi yang cocok untuk memindahkan hewan/ternak antar pulau pilihan alternatifnya adalah menggunakan kapal atau pesawat. Namun bila menggunakan pesawat biaya sangat mahal dan kurang efisien. Bisa juga menggunakan kendaraan angkut truk apabila tersedia sarana jembatan penyeberangan antar pulau. Namun, selama ini transportasi ternak antar pulau biasanya menggunakan jasa kapal barang dimana aspek kesejahteraan hewan seringkali diabaikan. Kesejahteraan hewan saat ini menjadi sorotan publik bahkan dunia internasional khususnya dalam pengangkutan ternak. Sebagai contohnya dalam berita di Australia Plus ABC menyebutkan 2400 ekor domba mati terjadi saat pengiriman dari Fremantle, Australia Barat menuju ke Timur Tengah dari jumlah total pengiriman sebanyak 64.000 ekor pada bulan Agustus tahun tahun lalu. Hal ini diakibatkan karena domba-domba mengalami stress panas saat pengangkutan dan kelembaban yang ekstrem (detikNews, 5 April 2018). Di Indonesia sendiri cara memperlakukan ternak saat transportasi yang sesuai dengan kaidah kesrawan mulai dari proses pengangkutan naik ke atas kapal, selama perjalanan, dan hingga diturunkan masih banyak kekurangan. Hal ini yang membuat prihatin banyak pihak untuk meningkatkan penerapan kesejahteraan hewan dan sebagai dasar pemerintah untuk menemukan terobosan baru dalam sistem pengangkutan ternak. Disisi lain dinilai secara ekonomi tarif jasa angkut ternak yang mahal menjadikan beban tersendiri akan harga jual ternak yang meningkat di daerah penerima yang berpengaruh pada harga daging pada tingkat konsumen.

Kapal Ternak 1

Kapal Ternak KM Camara Nusantara 1

Sumber Ilustrasi ; Maritim News.com

Jalur Tol Laut yang di canangkan presiden beberapa tahun lalu merupakan salah satu alternative untuk mengatasi hal ini. Khusus kapal untuk pengangkutan ternak telah dipersiapkan sebuah kapal KM Camar Nusantara 1 yang dioperasikan oleh PT. Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) (Pelni).KM Camara Nusantara 1 memiliki panjang 68 meter dan lebar 14 meter yang dapat memuat sapi sejumlah 500 ekor. KM Camara Nusantara I dibangun sesuai dengan kaidah kesejahteraan hewan di Galangan Bangkalan, Madura. Setelah berjalan satu tahun pelayaran, hasil evaluasi pelayaran kapal ternak Camara Nusantara I menunjukan bahwa penyusutan bobot berat hidup ternak selama perjalanan rata-rata hanya mencapai 7-12% sedangkan jika dibandingkan dengan penyusutan bobot dengan menggunkan kapal kargo mencapai lebih dari 15-22%. Hal ini disebabkan karena KM Camara Nusantara I memiliki waktu tempuh 5 hari relatif lebih cepat, kondisi kapal, dan tatalaksana memperhatikan kaidah kesejahteraan hewan internasional. Dalam satu tahun kapal tersebut mampu mengangkut sekitar 11.731 ekor sapi (tahun 2016) dan 12.000 ekor sapi (tahun 2017) dengan rute yang telah ditetapkan. Tahun 2018 ini pemerintah akan menambah jumlah 5 kapal ternak (2 NTT, 2 NTB, dan 1Bali) dengan segala persiapan dan rute yang dilaluinya.

Kapal Ternak 2 copy

Sapi terpeleset saat menuruni kapal biasa terjadi dengan kapal konvensional tanpa fasilitas unloading

Sumber Ilustrasi : By Jonas Cullwick, http://dailypost.vu/news

Kapal Ternak 3

Penurunan sapi dari kapal yang memperhatikan aspek kesejahteraan hewan

Sumber ilustrasi ; Economy.okezone.com

Beberapa aspek penting yang menyangkut kesejahteraan hewan dalam proses pengangkutan ternak menggunakan kapal meliputi : desain kapal, kompetensi sumber daya manusia, cara pemuatan ternak (loading), penanganan ternak saat perjalanan, cara menurunkan ternak (unloading), dan kemungkinan tindakan emergensi bila terjadi sewaktu-waktu. Disisi lain diperlukan juga persiapan keberangkatan perjalanan kapal ternak meliputi; persiapan hewan, jenis kapal yang digunakan, route, estimasi lama perjalanan, persediaan pakan selama perjalanan, pencampuran hewan, tenaga medis, obat-obatan, prosedur emergency, dll. Petugas yang menangani hewan memiliki kompetensi yang baik dibidangnya minimal memahami perilaku dasar hewan dan dapat memperlakukan hewan dengan baik sehingga dapat meminimalisir kejadian stress. Pembagian tugas dan kewenangan dalam hal penanganan ternak selama proses pengangkutan ternak melalui jalur laut melibatkan pemilik hewan, eksportir, pelaku bisnis, tuan kapal, pengelola fasilitas kapal, pengelola fasilitas bongkar/muat, petugas penanganan hewan, otoritas veteriner di daerah asal dan tujuan.Kapal ternak harus dirancang dengan penerangan yang cukup sehingga ternak mudah diamati serta mudah dalam menjaga kebersihan dan disinfeksi. Kepadatan ternak disesuaikan dengan jenis ternak, kebutuhan ternak, dapat memberikan suasana ternak yang nyaman untuk berdiri, berbaring, tidak berdesak-desakan, dan kepala tidak bersentuhan dengan deg atas kapal.

Kapal Ternak 4

Kondisi ruang kapal pengangkut ternak KM Camara Nusantara 1

Sumber Ilustrasi ; Tribunnews.com

Selain desain kapal yang baik untuk pengangkutan ternak ketersediaan pakan selama proses perjalanan juga harus diperhatikan, dimana pakan ternak harus disimpan ditempat yang terlindung dengan baik dari bahaya tercemarnya air laut dan kemungkinan kebakaran. Proses penaikan dan penurunan hewan menjadi salah satu faktor dalam mengimplementasikan kesejahteraan hewan dengan baik. Tersedianya tempat untuk menaikkan dan menurunkan hewan dengan aman penting dipersiapkan sehingga hewan tidak tergelincir atau terjatuh yang dapat berakibat mencederai/melukai hewan dan stres. Proses penggiringan dan penanganan ternak dilakukan dengan hati-hati tanpa menimbulkan stress pada ternak. Penggunaan alat-alat penggiring ternak yang memperhatikan kesejahteran hewan dilakukan dengan sebaik mungkin. Memukul sapi dengan cambuk/tongkat tidak diperbolehkan karena dapat melukai ternak dimana melanggar kaidah kesejahteraan hewan ,serta penggunaan alat kejut (elektric shock) sebaiknya di hindari. Penggiringan ternak yang baik dapat menggunakan tongkat berbendera yang dilakukan perlahan mengikuti ritme pergerakan sapi sehingga sapi akan terarah dengan mudah sesuai area pandangan sapi (flight zone) menuju tempat yang kita inginkan. Semoga bermanfaat(red’18).

***Ditulis oleh : Puguh Wahyudi (Medik Veteriner Muda pada Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner)

Menjadikan Pasokan Daging Sapi dan Unggas Tetap Stabil Serta Berkualitas ASUH (Aman, Sehat, Utuh, dan Halal) Melalui Penerapan Sistem Rantai Dingin (Cold Chain System)

Oleh : drh. Imron Suandy, MVPH (Kepala Seksi Monitoring dan Surveilans)

Produk hewan merupakan salah satu sumber pangan yang kaya akan protein yang dibutuhkan untuk membangun masyarakat yang sehat dan cerdas. Akan tetapi rata-rata konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia diangka sekitar 10 kg/kapita/tahun, masih jauh tertinggal dari berbagai Negara lain bahkan di tingkat Asia. Hal ini tidak mengherankan jika Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia pada tahun 2016 berada di peringkat 133 dari 188 Negara. Produk pangan asal hewan merupakan salah satu produk yang dikategorikan sebagai produk yang mudah rusak (perishable food) dan berpotensi membawa bahaya bagi kesehatan konsumen (potentially hazardous). Organisasi kesehatan hewan internasional dan FAO menyebutkan setidaknya ada sekitar 250 jenis penyakit di hewan yang dapat ditularkan melalui konsumsi pangan asal hewan baik secara langsung maupun tidak langsung. Maka kita dapat disimpulkan bahwa produk pangan asal hewan selain dipikirkan ketersediaanya, juga harus ditangani dengan baik untuk dapat menjadi bermanfaat dan terjamin sehat dan aman untuk dikonsumsi, dan ini sejalan dengan semangat pemerintah dalam upaya mencapai ketahanan dan kemandirian pangan khususnya produk pangan hewani di Indonesia.

Cold Chain 1

Konsumsi produk hewan semakin meningkat seiring dengan peningkatan pertumbuhan penduduk dan pendapatan masyarakat, hal ini memberikan tekanan tersendiri bagi pemerintah dan pelaku usaha produk hewan untuk dapat menjamin ketersediaan pasokan dan distribusi produk secara Nasional. Mengingat wilayah produksi di Indonesia yang terkonsentrasi di wilayah Jawa, maka dibutuhkan intervensi agar produk hewan yang diedarkan terjaga kualitas dan kemananannya mulai dari tempat produksi sampai dengan siap dikonsumsi oleh masyarakat. Untuk itu pemerintah terus berupaya mendorong kesadaran stakeholders agar penerapan sistem rantai dingin (cold chain system) dalam penyediaan produk hewan dapat secara berkelanjutan diterapkan, disamping guna menjaga pasokan daging agar tetap stabil secara Nasional.Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner, Drh. Syamsul Ma’Arif M.Si meyampaikan “bahwa pada tahun 2014, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan telah melakukan kajian bekerjasama dengan para ahli di perguruan tinggi melalui Program Ketahanan Pangan kerjasama Pemerintah Indonesia dan Belanda, untuk mengidentifikasi berbagai faktor yang dapat menjadi kunci dalam penerapan sistem rantai dingin produk hewan, khusus untuk produk unggas potong yang dibutuhkan di wilayah DKI, hal ini juga dihubungkan dengan penerapan Perda Pemprov DKI No. 4 tahun 2007 terkait dengan pelarangan pemotongan unggas di daerah pemukiman”.

Dari hasil kajian diidentifikasi bahwa pilihan masyarakat pada umumnya belum menuntut ke arah produk yang aman sebagai pilihan utama, beberapa masih berfikir bahwa harga dan kemudahan akses dalam memperoleh produk merupakan motif dalam membeli produk daging unggas. Disamping itu, pada umumnya masyarakat DKI berpendapat bahwa produk beku memiliki kualitas yang tidak sebaik dengan produk segar. Selama ini masyarakat sering salah mengartikan jika daging segar lebih terjamin kualitasnya daripada daging beku, padahal jika daging segar tersebut tidak segara diolah, maka berpotensi besar terjadinya kontaminasi mikroba yang membuat daging menjadi tidak sehat dan aman. Secara mikrobiologis, bakteri akan tumbuh baik pada suhu ruang dan berkembang menjadi dua kalinya setiap 20 menit. Maka dari itu kampanye kepada masyarakat harus secara konsisten diupayakan agar masyarakat dapat menerima daging beku/dingin untuk dikonsumsi agar masyarakat memperoleh haknya dalam memperoleh pangan yang aman dan sehat.Lebih lanjut Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner juga menyampaikan, bahwa “saat ini pemerintah terus melakukan upaya penyeimbangkan supply demand pangan berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 32 Tahun 2017 tentang Penyediaan, Peredaran, dan Pengawasan Daging dan Telur Ayam Ras, dan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 20 Tahun 2018 Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 59/M-Dag/Per/8/2016 Tentang Ketentuan Ekspor Dan Impor Hewan Dan Produk Hewan”.   “Kedua regulasi tersebut mengatur tentang penerapan rantai dingin sebagai penanganan pasca panen daging sapi maupun daging ayam ras yang di dalamnya termasuk penggunaan cold storage.Penyimpanan daging dalam bentuk beku diharapkan dapatmenjadi bufferstock untuk menyeimbangkan supply-demand daging”.

Cold Chain 2

Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner, mendukung upaya Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan Kementerian Perdagangan pada acara Seminar Nasional dalam rangka konsolidasi dengan asosiasi pelaku usaha, forum penggerak PKK, dan Dinas Daerah terkait upaya penerapan rantai dingin yang berkelanjutan dengan tema bertema “Cold Chain System Menjadikan Daging Beku yang Aman, Sehat, dan Halal (ASUH) untuk Konsumsi Masyarakat dilaksanakan pada tanggal 29 Maret 2018, di Bogor. Dalam diskusi ini Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner menyampaikan “dari forum diskusi ini diharapkan adanya harmonisasi kesepahaman terkait motivasi di antara sektor, baik Pemerintah (terkait motivasi keamanan & stabilitas), Konsumen (terkait harga dan kemudahan akses/ketersediaan), dan Pelaku Usaha (terkait kepastian usaha), sehingga strategi pendekatan dengan melibatkan semua sektor dapat lebih efektif mendukung upaya tersebut” #red’18. #DirektoratKesehatanMasyarakatVeteriner

Kementerian Pertanian RI Raih Penghargaan Dalam Upaya Pengendalian Resistensi Antimikroba Di Indonesia

Oleh : drh. Imron Suandy, MVPH (Kepala Seksi Monitoring dan Surveilans)

Kesungguhan Pemerintah Indonesia dalam upaya pengendalian Resistensi Antimikroba (AMR) di sub sektor peternakan dan kesehatan hewan diapresiasi oleh dunia.Penghargaan diberikan oleh  Third World Network (TWN) dalam acara Regional Workshop Antibimicrobial Resistance (AMR) Asia Tenggara di Penang-Malaysia tanggal 26-28 Maret 2018.TWN merupakan organisasi internasional yang bergerak di bidang alternatif kajian dan penyusunan rekomendasi kebijakan. TWN memberikan penghargaan kepada Pemerintah Indonesia atas keberhasilannya membangun kebijakan yang baik dalam pengendalian penggunaan antibiotik di sub sektor peternakan dan kesehatan hewan.Penghargaan tersebut seyogyanya diterima oleh Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, namun karena Dirjen PKH berhalangan hadir maka diwakilkan oleh Ketua KomitePengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA) Kementerian Kesehatan RI.

AMR

Workshop yang diselenggarakan atas kerjasama TWN Malaysia & South Center Geneva didukung oleh Fleming Fund. Hadir dalam workshop tersebut perwakilan Departemen Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian di seluruh Asia. Beberapa delegasi dari Kementerian Kesehatan di kawasan regional dan para ahli kesehatan hewan internasional juga turut hadir dalam workshop tersebut untuk bersama-sama membahas langkah-langkah strategis yang dapat diformulasikan sebagai rekomendasi regional dalam pengendalianancaman resistensi antimikroba.Penghargaan ini diberikanberdasarkan pada upaya Pemerintah Indonesia dalam merespon resolusi global untuk memerangi laju perkembangan resistensi antimikroba. Dalam beberapa tahun terakhir ini, Indonesia dipandang sebagai salah satu Negara di Asia yang selangkah lebih maju dalam melakukan upaya terkait kebijakan pengendalian resistensi antimikroba di sub sektor peternakan dan kesehatan hewan. Hal ini dikaitkan dengan terbitnya Peraturan Menteri Pertanian Nomor 14 Tahun 2017 tentang Klasifikasi Obat Hewan sebagai implementasi dari amanat Undnag-Undang Nomor 41 Tahun 2014 Juncto Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 khususnya terkait dengan pelarangan penggunaan antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan atau growth promoter di usaha peternakan.

Langkah ke arah penerapan kebijakan tersebut dilaporkan telah menjadi kunci sukses, dimana  Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan bersama-sama dengan berbagai asosiasi pelaku usaha terkait (asosiasi peternakan, asosiasi obat hewan, dan asosiasi pengusaha pakan) membangun proses komunikasi dan menetapkan target bersama.Disamping itu, Kementerian Pertanian melalui Direktorat Peternakan dan Kesehatan Hewan telah bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Kementerian Pertahanan dalam penyusunan Rencana Aksi Nasional penanggulangan AMR melalui pendekatan One Health. Bentuk kerjasama dalam kegiatan juga diupayakan dengan institusi pendidikan tinggi dan Badan Pangan dan Pertanian Dunia (FAO of the United Nations) dalam melakukan kampanye peningkatan kepedulian masyarakat tentang ancaman AMR.

Dengan diraihnya penghargaan ini diharapkan dapat menambah semangat Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian serta pemangku kepentingan lainnya untuk terus semangat dan berkarya dalam upaya pengendalian resistensi antimikroba di Indonesia (red’18).

Sekapur Sirih 

Drh. Syamsul Maarif M.Si

Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh,

Kami dengan rasa gembira menyambut partisipasi Anda di situs web kami. Sejalan dengan semakin berkembangnya tuntutan masyarakat terhadap fungsi dan peran Kesehatan Masyarakat Veteriner serta seiring kemajuan teknologi informasi saat ini maka situs ini akan kami gunakan untuk melayani dan menghubungkan Anda dengan Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Read more: Sekapur Sirih

 

Polling Kesmavet 

Menjadi Direktorat yang Mampu Mewujudkan Pelayanan Kesehatan Masyarakat Veteriner Profesional dalam Menjamin Kesehatan dan Ketentraman Bathin Masyarakat.

Visi Kesmavet-Paspa

Pengunjung 

We have 43 guests and no members online

Video 

Pengelolaan dan Pelaksanaan Kurban Yang Benar, Aman, dan Nyaman ------------------------------------------------------------- Cara Memilih Hewan Kurban Yang Baik ------------------------------------------------------------- Metode Perobohan dan Pemotongan Hewan (Sapi) ------------------------------------------------------------- Desain Fasilitas Pemotongan Hewan Kurban(Portable) ------------------------------------------------------------- Pemeriksaan Antemortem Postmortem ------------------------------------------------------------- Kesejahteraan Hewan Kurban ------------------------------------------------------------- Nomor Kontrol Veteriner (NKV) ------------------------------------------------------------- Dialog Penerapan Kesejahteraan Hewan ------------------------------------------------------------- Waspada Penyakit Zoonosis ------------------------------------------------------------- Ayam dan Hormon ------------------------------------------------------------- Penggunaan Antimikrobial Yang Bijak -------------------------------------------------------------

Sebaran Pengunjung