Pencarian 

Kesmavet Produk.pnghewan.pngim1

Tulisan Ilmiah Populer

Media Website Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner menerima tulisan yang dikirim ke alamat redaksi melalui email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. . Tulisan bersifat orisinil, aktual dan informatif tentang kesehatan masyarakat veteriner diketik rapi 1,5 spasi. Panjang tulisan 2-3 halaman diketik format *.doc(words file) maksimal 7000 karakter termasuk spasi. Foto pendukung minimal 2 buah  dengan ukuran masing-masing maksimal sebesar 2MB. Sebelum diterbitkan tulisan di review dan disunting oleh Tim redaksi tanpa merubah isinya.  Perlu kami sampaikan sebelumnya pengiriman tulisan gratis dan tidak tersedia honor bagi penulis. 

Kesejahteraan Hewan Pada Peternakan Babi

Oleh : drh. Devi Yanti Sari (Fungsional Medik Veteriner Pada direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner)

Bagaimana Kondisi Peternakan Babi Saat Ini??

Babi merupakan salah satu ternak produksi yang dimanfaatkan manusia. Peternakan babi secara intensif di dunia telah dimulai sejak tahun 1950.Saat ini isu kesejahteraan hewan di peternakan babi mulai menjadi perhatian di dunia baik nasional maupun internasional. Selama ini peternakan babi dilakukan dengan semakin mengurangi luas kandang per/hewan, kepadatan yang tinggi terutama pada babi grower dan penggemukan. Lantai kandang licin atau berlubang dengan tanpa bedding atau alas dan sempit. Pakan konsentrat yang rendah serat. Induk babi ditempatkan pada kandang yang sempit untuk beranak dan laktasi. Semua ini dilakukan dengan alasan efisiensi namun disisi lain hal ini mengesampingkan aspek kesejahteraan hewan.

Babi 1

Gambar Ilustrasi peternakan babi

Menurut buku statistik peternakan ditjen PKH tahun 2017 populasi babi di Indonesia mencapai 7.903.450 ekor dengan populasi terbesar di propinsi NTT. Pada tahun 2017 ekspor babi di Indonesia mencapai 278.822 kg atau meningkat dari tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan industri peternakan babi di Indonesia sangat potensial dalam mendukung pasar ekspor. Saat ini Indonesia juga telah menjadi salah satu negara pengekspor babi ke Singapura yaitu dari Pulau Bulan.

Problema Peternakan Babi di Indonesia

Pengembangan industri peternakan babi di Indonesia mengalami berbagai masalah diantaranya karena masalah sosial religi, kurangnya ketersediaan bibit berkualitas, limbah peternakan dan implementasi kesejahteraan hewan. Kurangnya pengetahuan tentang penerapan kesejahteraan hewan menjadi tantangan tersendiri bagi peternakan babi di Indonesia. Penerapan kesejahteraan hewan telah menjadi salah satu syarat dalam melakukan ekspor babi. Hal ini sesuai dengan amanat Peraturan Menteri Pertanian Nomor 02/Permentan/PK.230 /1/2018 tentang Pengeluaran Ruminansia Kecil dan Babi dari wilayah Negara RI pasal (16)bahwa pelaku usaha yang melakukan pengeluaran ruminansia kecil dan/babi selain memenuhi persyaratan administrasi dan persyaratan teknis harus memenuhi kaidah kesejahteraan hewan dalam pengangkutan.

Pemahaman Perilaku Babi (Animal Behaviour)

Menurut informasi dari hasil penelitian bahwa dengan menerapkan kesejahteraan hewan maka produksi dan produktivitas sebuah peternakan akan meningkat. Sebelum menerapkan kesejahteraan hewan pada peternakan babi, kita perlu memahami perilaku alamiah babi. Secara umum babi hidup secara berkelompok yang terdiri dari beberapa betina dan anak-anaknya. Babi merupakan hewan yang sangat menyukai kebersihan. Aktif di pagi da=alam hari. Babi merawat kulitnya dengan perilaku menggosok-gosok badan dan berkubang. Mereka memerlukan kontak fisik dengan sesamanya khususnya saat tidur dan istirahat. Babi merupakan hewan omnivora oportunistik, memakan hampir semua jenis makanan dengan serat tinggi. Babi mengidentifikasi objek dengan mengendus, menggigit dan mengunyah sebelum makan. Defekasi dan urinasi babi di tempat tersendiri terpisah dari area berbaring. Babi betina biasanya meninggalkan kelompoknya untuk membangun sarang dan beranak. Setelah 1-2 hari beranak induk babi akan mulai meninggalkan anaknya dan kembali ke kelompok 1 sampai 2 minggu beranak. Salah satu hal yang menarik dari babi adalah setiap anak babi hanya akan menyusui pada satu puting yang sama posisinya selama periode menyusui.

Bagaimana Kesejahteraan Hewan Diterapkan??

Penerapan kerawan pada peternakan babi pada prinsipnya dilakukan dengan memenuhi 5 prinsip kebebasan hewan (five freedom) yaitu yaitu bebas dari rasa lapar dan haus (freedom from hunger and thirst), bebas dari rasa sakit, cidera dan penyakit   (freedom from pain, injury and disease), bebas dari rasa ketidak nyamanan, penganiayaan dan penyalahgunaan (freedom from discomfort), bebas dari rasa takut dan tertekan (freedom from fear and distress), bebas untuk mengekspesikan perilaku alamiah (freedom to express natural behaviour). Penerapan kerawan pada peternakan babi disesuaikan dengan tahapan pertumbuhan babi. Dari segi perkandangan kandang babi dibedakan sesuai tahapan perkembangan babi, seperti kandang starter, grower finisher, dan selain itu diperlukan juga kandang menyusui, kandang bunting dan beranak, serta kandang jantan. Masalah yang sering terjadi pada kandang babi menyusui adalah kecelakaan terinjak/tertindihnya anak babi oleh induk babi akibat kepadatan yang tinggi. Sehingga kandang babi menyusui harus didisain sedemikian rupa agar anak babi dapat menyusui dengan aman dan induk babi masih dapat leluasa bergerak, berbaring dan tidur secara nyaman.

Babi 2

 

Standar kepadatan ternak babi menurut Uni Eropa (Commision Directive 2001/93/EC) European Community (2003)

Selain perkandangan hal lain yang perlu diperhatikan adalah lantai kandang. lantai kandang harus didisain sedemikian rupa sehingga tidak licin. Pakan harus tersedia sesuai kebutuhan dan tahap perkembangan babi serta dapat diakses oleh semua babi. Air bersih juga harus diberikan secara ad libitum dan dapat diakses dengan mudah oleh semua babi. Pencahayaan dan tingkat kebisingan juga harus diperhatikan. Menurut standar uni eropa standar pencahayaan adalah 40 lux dan tingkat kebisingan 85 dB. Akses kubangan dan bermain (enrichment) juga harus disediakan. Manajemen kesehatan babi juga harus dilakukan diantaranya dengan pencegahan penyakit melalui vaksinasi, pengobatan terhadap hewan sakit maupun biosecurity yang baik. Pemotongan ekor dan kastrasi perlu mendapat perhatian (dilakukan dengan meminimalisir rasa sakit /dengan anestesi) dan waktu minimum lepas sapih (minimal umur 4 minggu).

BAbi 3

Beberapa contoh enrichment pada babi

Tanda Tidak Terpenuhinya Aspek Kesejahteraan Hewan

Salah satu gejala tidak terpenuhinya kesejahteraan hewan dalam peternakan babi adalah perilaku tail biting (menggigit ekor), jika kepadatan terlalu tinggi babi akan stres dan akan menggigit ekor atau bagian tubuh babi lainnya. Jika ditemukan kejadian tersebut maka babi yang menjadi korban pengigitan harus segera dipisahkan karena darah yang keluar dari luka gigitan akan memicu babi lain untuk menggigit babi tersebut. Selain tail biting gejala khas yang muncul dapat berupa hipersalivasi. jika dalam kandang tidak disediakan enrichment/alat bermain maka babi tidak ada aktivitas dan akan menggigit-gigit kandang atau terjadi hipersalivasi. Hipersalivasi dan waspada merupakan awal tanda kejadian stress pada babi dan hewan lainnya akhibat tidak terpenuhinya aspek kesejahteraan hewan. stress yang tidak segera ditangani secara berkepanjangan akan menimbulkan distress, yang dapat berakhibat buruk pada sebuah peternakan hingga dapat berujung menimbulkan kematian pada ternak.

Babi 4

Salah satu gejala hipersalivasi akibat stress pada babi

Penilaian Kesejahteraan Hewan Pada Peternakan Babi

Penilaian Kesejahteraan hewan pada peternakan babi dapat dilakukan dengan berbagai metode. Beberapa hal indikatorumum yang dapat dijadikan sebagai kriteria dalam melakukan penilaian penerapan kesejahteraan hewan pada peternakan babi yaitu mengukur BCS (Body Condition Score), kesehatan kuku perilaku babi, ketersediaan air, kualitas dan kemudahan akses pakan, jenis pakan, ketersediaan jerami atau material lain untuk hamparan alas (foraging), kualitas dan sirkulasi udara, kondisi anak babi (kastrasi/potong ekor, warna kulit status kesehatan) ada tidaknya penggigitan ekor, ada tidaknya kandang isolasi, dan biosecurity(Disarikan dari berbagai sumber).

DAMPAK SALMONELLOSIS TERHADAP KESEHATAN, SOSIAL DAN EKONOMI

Oleh: drh. Risky Aprillian *) Wirdanila, A.Md **)

APA ITU SALMONELLA??

Salmonella sp adalah agen etiologi yang dapat mengakibatkan salmonellosis pada manusia dan hewan. Salmonellosis merupakan penyakit enterik yang umum dan tersebar luas di dunia. Bakteri ini adalah penyebab diare akut dan kronis bahkan kematian yang signifikan dibanyak spesies hewan maupun manusia (McGavin et al, 2001). Salmonella sp adalah bakteri gram negatif berbentuk batang yang merupakan salah satu penyebab infeksi tersering di daerah tropis, khususnya di tempat-tempat dengan higiene yang buruk. (Brooks et al, 2001). Sumber infeksi dari Salmonella adalah dari feses ataupun urine manusia dan hewan karier, pencemaran air minum, makanan yang tercemar, tiram dan ikan serta dapat juga diperantara oleh lalat dan debu (Thomas, 1973). Salmonella juga dapat bersumber dari dalam tubuh hewan yang terinfeksi (Lawrie, 2003).

Kejadian pada manusia dalam sebuah penelitian dicatat bahwa kejadian salmonellosis di dunia pada tahun 2000, dilaporkan 21,6 juta kasus dengan 216 ribu meninggal, dan lebih dari 90% terjadi di Asia (Crump et al, 2004). Swiss pada tahun 2001 melaporkan terjadinya 2.677 serangan salmonellosis pada manusia (tingkat insiden 32 kasus/100.000 penduduk/tahun), kejadian ini meningkat 8 persen dari tahun 2000 (Statistic of the Swiss Federal Office for Public Health, 2002). Salah satu spesies bakteri ini yang sering menimbulkan masalah kesehatan penting adalah Salmonella typhi yang menyebabkan penyakit tifus. Bopp (2003) memperkirakan Salmonella Typhi menjadi penyebab dari kurang lebih 16,6 juta kasus dan 600.000 kematian di seluruh dunia setiap tahunnya. Berdasarkan laporan Ditjen Pelayanan Medis Depkes RI, pada tahun 2008, demam tifoid menempati urutan kedua dari 10 penyakit terbanyak pasien rawat inap di rumah sakit di Indonesia dengan jumlah kasus 81.116 dengan proporsi 3,15%, urutan pertama ditempati oleh diare dengan jumlah kasus 193.856 dengan proporsi 7,52% (Depkes RI, 2009).

Sedangkan pada hewan, salmonellosis menjadi penyakit infeksius yang paling berpengaruh terhadap produksi unggas komersial. Keadaan di Swiss, Irlandia, Thailand, dan Korea dimana produk-produk unggas khususnya daging ayam broiler terkontaminasi oleh Salmonella, yaitu 13,7 persen, 26,4 persen, 66,0 persen dan 36,0 persen. Salmonella pullorum, Salmonella gallinarum, Salmonella typhimurium, Salmonella enteritidis adalah agen patogen yang sering menyebabkan penyakit salmonellosis pada unggas komersial. Berdasarkan hasil uji RSA di laboratorium pada sampel serum DOC ayam pedaging yang di jual oleh beberapa perusahaan di Kabupaten Lamongan diperoleh persentase antibodi positif Salmonella pullorum sebesar 20% (Dyantoro dan Wulandari, 2017).

Terjadinya pencemaran mikroba patogen pada daging ayam disebabkan oleh berbagai faktor, seperti sanitasi yang buruk di peternakan, rumah potong unggas atau tempat pengolahan daging ayam. Daging ayam dapat terkontaminasi mikroorganisme patogen akibat menggunakan air bersanitasi yang buruk untuk proses pengelolaan maupun produksi daging ayam (Kornacki dan Johnson 2001). Penularan penyakit diketahui melalui makanan (80,1persen), air (3,2 persen), antar individu manusia (6,3 persen), dan kontak dengan hewan (4,3 persen). Khusus untuk penularan melalui makanan, ayam dan unggas lainnya menjadi sumber penularan yang paling sering dilaporkan (ayam 37,3 persen; telur 10,5 persen; unggas lainnya 4,5 persen).

DAMPAK TERHADAP KESEHATAN

Beberapa kelompok orang yang lebih beresiko antara lain ibu hamil, bayi dan balita, orang lanjut usia, dan orang yang sedang sakit. Orang yang mengalami infeksi bakteri salmonella dapat mengalami gejala – gejala berupa sakit pada perut bagian atas, diare dan muntah parah, demam tinggi, sakit kepala, serta adanya darah pada tinja. Gejala ini dapat berlangsung 4 - 7 hari dan dapat sembuh dengan sendirinya tanpa antibotik. Namun, beberapa orang dapat mengalami diare yang sangat parah. Akibat paling buruk dari infeksi ini adalah tersebarnya infeksi dari usus ke pembuluh darah dan organ tubuh lain. Kondisi ini dapat menyebabkan kematian jika tidak segera ditangani.

DAMPAK EKONOMI

Dalam pandangan ekonomi, salah satu penyakit utama salmonellosis pada ayam pedaging adalah penyakit pullorum. Penyakit pullorum merupakan penyakit menular pada ayam yang menimbulkan kerugian ekonomi yang besar, menyebabkan kematian yang sangat tinggi terutama pada anak ayam umur 1-10 hari. Pada ayam dewasa umumnya penyakit ini tidak memperlihatkan tanda-tanda klinis yang jelas dan tidak menyebabkan kematian namun sebagai reservoir, sehingga dapat menularkan kepada ayam yang sehat secara vertikal dan horizontal (Shane, 2005). USDA Economic Research Service (ERS) pada tahun 1989 mempublikasikan perkiraan biaya komprehensif kerugian yang disebabkan infeksi Salmonella diperkirakan untuk biaya medis dan kerugian produktivitas setiap tahun meningkat dari $ 1,188 miliar menjadi lebih dari $ 11,588 miliar. Kerugian ini berdasarkan perkiraan 1,92 juta kasus dan diantara 960-1,920 kematian akibat salmonellosis. ERS mengupdate kerugian akibat 4 (empat) agen patogen (Campylobacter, Salmonella, E.Coli dan Listeria monocytogenes) pada tahun 2000 berdasarkan perkiraan baru dari food borne diseases tahunan oleh CDC, dan menempatkan biaya total di Amerika Serikat untuk empat patogen ini pada $ 6,5 miliar per tahun. Baru-baru ini, pada tahun 2007, diperkirakan bahwa biaya tahunan semua food borne diseases di Amerika Serikat adalah $ 1,4 triliun (Marler Clark Food Safety Law Firm, 2018). Sebuah penelitian di Kanada dan Jerman menyebutkan bahwa perkiraan kerugian akibat salmonellosis yaitu sekitar DM 108 juta untuk biaya infeksi manusia dan DM 132 juta lebih lanjut untuk biaya infeksi hewan di Jerman dan $84 juta di Kanada (Socket dan Roberts, 1991).

KERUSAKAN TELUR

Beberapa bakteri patogen yang mungkin terdapat pada kulit telur adalah Salmonella, Campylobacter dan Listeria. Dari berbagai jenis pathogen tersebut, Salmonella merupakan patogen utama yang mengontaminasi telur dan produk olahan telur. Genus Salmonella termasuk dalam family Enterobacteriaceae, yaitu bakteri gram negative berbentuk batang langsing (0.7 - 1.5 x 2-5 µm), fakultatif anaerobik, oksidase negatif dan katalase positif.

Kemungkinan kerusakan telur oleh bakteri terjadi karena bakteri yang masuk ke dalam telur, baik sejak telur berada di dalam maupun sudah berada di luar tubuh induknya. Kerusakan telur oleh bakteri sejak berada di dalam tubuh induknya terjadi karena induk terinfeksi Salmonella (Salmonellosis). Sedangkan masuknya bakteri ke dalam telur setelah telur berada diluar tubuh induknya dapat disebabkan oleh kotoran yang menempel pada kulit telur. Kotoran tersebut diantaranya berupa feses, tanah, atau bahan yang banyak mengandung bakteri perusak. Namun, pada umumnya salmonella terbawa akhibat cemaran dari luar.

BAGAIMANA PENANGANANNYA

Melihat permasalahan di atas, maka perlu dilakukan kontrol terhadap infeksi Salmonella. Menurut Wegener et al. (2003) program ini dilakukan dengan prinsip top-down eradication , yaitu membebaskan piramid breeding broiler dari strata puncak sampai strata terbawah. Flock yang terinfeksi dimusnahkan dan unggas yang terinfeksi dipotong. Program pengujian dikembangkan terus dengan tujuan mempertinggi keamanan pangan. Agen patogen penyebab salmonelosis tersebut dapat bertahan hidup diluar tubuh inang, yang dapat menginfeksi unggas domestik dan unggas liar baik secara vertikal maupun secara horizontal, dan unggas yang terserang biasanya tidak menunjukkan gejala klinis. Akibatnya, agen patogen tersebut sulit dikendalikan sehingga penerapan biosekuriti yang ketat diperlukan untuk mencegah masuknya patogen tersebut ke dalam peternakan ayam komersial (Berchieri et al., 2001). Di rantai produksi dan pemasaran ayam broiler, karena daging ayam merupakan daging yang cukup murah dan terbeli oleh sebagian besar masyarakat, serta pemanfaatannya tidak hanya untuk konsumsi rumah tangga atau pesta, tetapi juga untuk warung-warung makan, restoran dan industri olahan makanan (Wegener et al, 2003).

PENCEGAHAN

Perilaku masyarakat mengkonsumsi telur mentah atau telur setengah matang untuk alasan pengobatan berisiko mengandung bakteri Salmonela. Untuk mencegah infeksi Salmonella, sebaiknya tidak mengkonsumsi telur dalam keadaan mentah atau setengah matang. Proses memasak telur dengan matang adalah cara yang tepat untuk mencegah bakteri Salmonella. Untuk penggunaan telur mentah sebagai bahan baku makanan seperti misalnya dalam pembuatan salad, mousse, atau es krim sebaiknya menggunakan telur pasteurisasi yang telah dipanaskan sampai suhu 1600 C untuk memastikan Salmonella dan bakteri lain telah mati. Pemanasan yang disarankan untuk membunuh Salmonella di dalam makanan umumnya adalah pemanasan selama 12 menit pada suhu 66°C atau 78 – 83 menit pada suhu 60°C (red’18).

*) Calon Medik Veteriner Pertama

**) Paramedik Veteriner

 

DAFTAR PUSTAKA

Berchieri, J.A., Murphy, C.K., Marston, K., Barrow, P.A. 2001. Observation on the Persistense and Vertical Transmission Salmonella enterica serovars Pullorum and Gallinarum in Chickens; Effect of bacterial and host genetic background Aeran Pathology. 30: 221–231.

Bopp, C., 2003. Manual for the Laboratory Identification and Antimicrobial Testing of Bacterial Pathogens of Public Health Importance in the Developing World. USAID-WHO-CDC, Atlanta.

Brooks, G.F., J.S. Butel, and S.A Morse. 2001. Medical Microbiology. 22nd ed. USA: Appleton & Lange. p. 219, 225 -227.

Crump, J.A., S.P. Luby, and E.D. Mintz. 2004. The Global Burden Of Typhoid Fever. Bull World Health Organ 82:346-353.

Diyantoro, Shelly Wulandari. 2017. Deteksi Antibodi Salmonella Pullorum Dan Mycoplasma Gallisepticum Pada Anak Ayam (DOC) Pedaging Beberapa Perusahaan Yang Dijual Di Kabupaten Lamongan. Surabaya: Universitas Airlangga.

Kornacki, J.L., and J.L. Johnson. 2001. Enterobacteriaceae, Coliforms and Escherichia coli as Quality and Safety Indicators. Di dalam: Downes FP, Ito K, editor. Compendium of Methods for The Microbiological Examination of Foods. Ed ke-4. Washington DC: American Public Health Association. p. 69-82.

Lawrie, R.A. 2003. Ilmu Daging. Edisi Kelima. Universitas Indonesia Press, Jakarta. h. 132-157.

Marler Marler Clark Food Safety Law Firm. 2018. The Economic Impact of Salmonella Infections. https://about-salmonella.com/the-economic-impact-of-salmonella-infections.

McGavin, D.M., W.W. Carlton, and J.F Zachary. 2001. Thompson’s Special Veterinary Pathology. 3rd ed. Mosby, an affiliate of Elsevier’s (health) Sciences Right Department, Philadelphia, USA, p. 43-46.

Shane, S.M. 2005. Handbook on poultry diseases. 2nd Ed. American Soybean Association (US). pp. 112–113.

Sockets, P. N. Dan J. A. Roberts. 1991. The social and economic impact of salmonellosis A report of a national survey in England and Wales of laboratory-confirmed salmonella infections. Great Britain.

Wegener, H.C., T. Hald, D.L.F. Wong, M. Madsen, H. Korsgaard, F. Bager, P. Gerner-Smidt, and K. Mølbak, 2003. Salmonella Control Programs in Denmark. Diperoleh dari URL: htpp://www.cdc.gov/ncidod/EID/vol9no7/03-0024.htm.

Antimicrobial Resistance (AMR) dan Dampaknya Bagi Kesehatan Manusia

Oleh : Drh. Septa Walyani (Medik Veteriner Pertama, Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner)

Pengertian Resistensi Antimikroba

Penemuan antibiotik pada pertengahan abad ke-20 telah membawa perubahan besar terhadap manajemen dan terapi infeksi bakteri. Penggunaan antibiotik dapat membantu menyembuhkan infeksi, sejak saat itu antibiotik telah menjadi obat bagi jutaan orang yang sakit. Hal ini terancam oleh kemunculan dan penyebaran bakteri yang resisten terhadap antibiotik dan terjadi sangat cepat menyebar ke seluruh dunia (Argudín et al. 2017). AMR atau resistensi antimikroba didefinisikan sebagai kebalnya mikroorganisme seperti bakteri, virus, parasit dan jamur terhadap obat antimikroba yang sebelumnya efektif untuk pengobatan infeksi. Masalah resistensi antibiotik telah menjadi masalah global. Perkembangan resistensi antibiotik yang cepat tidak diimbangi dengan penemuan agen antimikroba baru. Jika AMR tidak dikendalikan, diperkirakan bahwa sebagian besar antibiotik yang digunakan saat ini untuk mengobati infeksi manusia dan hewan akan sia-sia dalam lima sampai sepuluh tahun kedepan, sehingga situasi kesehatan akan kembali seperti ke era sebelum ditemukannya antibiotik (Argudin et al. 2017).

Proses Kejadian Resistensi

Resistensi dapat timbul secara spontan melaui proses mutasi, selain itu gen dapat diwariskan secara vertikal atau dapat diperoleh dari bakteri lain secara horizontal melalui unsur genetik seluler seperti plasmid. Horizontal gen transfer (HGT) bisa terjadi antara bakteri yang sangat berbeda. Mekanisme ini akan meningkatkan kemungkinan kejadian resistensi pada bakteri patogen lain di lingkungan. Mengingat banyaknya bakteri patogen yang tersebar di lingkungan dan secara bebas dapat kontak dengan bakteri yang telah mengalami resistensi, maka kemungkinan terjadinya multi drug resistance (MDR) pada bakteri patogen semakin meningkat.

AMR 1

 

Beberapa bukti epidemiologi dan molekuler telah menunjukkan bahwa AMR juga dipicu oleh penggunaan antibiotik yang luas di peternakan. Timbulnya AMR di peternakan memicu permasalahan kesehatan yang serius bagi manusia. Karena kemampuan bakteri bertahan hidup, bakteri resisten dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama di lingkungan dan di dalam tubuh hewan. Bakteri resisten bisa ditularkan ke manusia, penyebaran bakteri resisten dari hewan ternak dapat terjadi baik melalui konsumsi makanan asal hewan atau melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi serta mengkonsumsi hasil pertanian yang terkontaminasi bakteri resisten dari pupuk yang berasal dari kotoran hewan.

Dampak Resistensi

Penyakit yang diakibatkan oleh bakteri patogen yang resisten akan memicu penggunaan antibiotik dengan dosis lebih tinggi atau membutuhkan alternatif antibiotik golongan baru yang lebih toksik sehingga sangat mempengaruhi biaya yang dikeluarkan dan berdampak kepada kualitas kesehatan manusia. Penyakit yang ditimbulkan oleh bakteri yang resisten akan menjadi lebih sulit untuk diobati dan meningkatkan resiko kematian terutama pada anak-anak, manula dan golongan yang mengalami imunosupresi.

AMR 2

Beberapa dampak AMR bagi kesehatan manusia antara lain:

a. Meningkatnya angka morbiditas pada manusia

Tahun 2014 sebanyak 700 000 angka kematian terjadi akibat kasus penyakit infeksi bakteri yang resisten terhadap antibiotik (WHO 2017). Ada literature yang menyebutkan bahwa hingga 50 000 nyawa hilang setiap tahun karena infeksi bakteri yang resisten terhadap antibiotik di Eropa dan Amerika Serikat (O’Neill 2017). Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyatakan bahwa kejadian resistensi tiga strain bakteri patogen utama pada manusia seperti Salmonella, Campylobacter dan E. coli terkait erat dengan penggunaan antibiotik pada pakan. Tiga mikroorganisme ini adalah tiga dari lima penyebab foodborne disease utama atau penyebab sekitar 90% kematian akibat infeksi patogen bawaan makanan di Amerika Serikat. Menurut WHO jumlah bakteri Salmonella enteritidis dan Campylobacter spp. resisten terhadap kuinolon dari isolat manusia dan hewan   diketahui semakin meningkat. Beberapa Salmonella Typhimurium juga telah mengalami resisten terhadap ampisilin, kloramfenikol, streptomisin, sulfonamida dan tetrasiklin. Laporan menyebutkan hal ini terkait dengan tren penggunaan antimikroba subterapeutik di peternakan.

b. Meningkatnya angka mortalitas pada manusia

Helms et al. (2002) menemukan bahwa pasien terinfeksi dengan Salmonella Typhimurium resisten terhadap ampisilin, kloramfenikol streptomisin, sulfonamida dan tetrasiklin memiliki kemungkinan tingkat kematian 4,8 kali lebih tinggi (tingkat kepercayan 95%). Selanjutnya, Mereka menyatakan bahwa resistensi kuinolon dalam organisme ini dapat menyebabkan angka kematian 10.3 kali lebih tinggi dari populasi umum lainnya.

c. Menurunkan efikasi antibiotik pada pengobatan manusia

Resistensi antimikroba karena penggunaan antibiotik pada hewan ternak dapat menyebabkan turunnya tingkat efikasi sebagian besar atau semua anggota kelas antibiotik tersebut, sedangkan beberapa di antaranya mungkin sangat penting untuk pengobatan manusia. Hal ini terjadi karena kesamaan dari komponen struktural antibiotik tersebut, yang menyebabkan cross-recognition dan cross-resistance untuk semua atau sebagian besar antibiotik dari kelas yang sama.

Resistensi virginiamycin bereaksi silang dengan resistensi streptogramin yang dipakai di manusia dan resistensi terhadap quinupristin-dalfopristin (Hayes et al. 2001). Avoparcin dan vankomisin adalah antibiotik golongan glikopeptida, kedua antibiotik ini memiliki struktur yang mirip namun berbeda dalam penggunaan dan aplikasi. vancomycin secara klinis penting bagi manusia dan sering berfungsi sebagai obat pilihan terakhir untuk infeksi bakteri gram positif. Avoparcin digunakan pada hewan sebagai pemicu pertumbuhan di Uni Eropa. Resistensi vankomisin terjadi sebagai dampak penggunaan subterapeutik avoparcin pada hewan ternak, hal ini yang menyebabkan pelarangan penggunaan avoparcin di peternakan di UE.

AMR 3

d. Meningkatnya biaya kesehatan manusia

Dengan meningkatnya kejadian AMR dalam beberapa tahun terakhir menimbulkan dampak terjadi peningkatan pengeluaran biaya kesehatan yang jauh lebih tinggi. Kenaikan biaya kesehatan memiliki dampak yang signifikan di negara-negara miskin di mana sumber daya lebih terbatas dan efikasi antibiotik menurun menjadi faktor penting yang mempengaruhi morbiditas dan mortalitas manusia.Peningkatan biaya perawatan kesehatan dapat disebabkan oleh perawatan dengan menggunakan antibiotik tambahan, rawat inap yang lebih lama, tes diagnostik lebih kompleks, biaya jasa profesional yang lebih tinggi dan tindakan medis lainnya.

Kesimpulan

Mengingat dampak AMR yang signifikan terhadap kesehatan manusia, seluruh elemen harus terlibat dan tanggung jawab dalam upaya mencegah AMR, mengurangi kejadian, dan penyebaran AMR. Resistensi antimikroba adalah masalah global yang harus diselesaikan secara global dalam kesatuan aksi “One Health” yang berkesinambungan.

DAFTAR PUSTAKA

CDC] Centers for Disease Control and Prevention. 2015. About antimicrobial resistance [Internet]. [diunduh 2017 Mei 28]. Tersedia pada: https://www.cdc.gov/drugresistance/about.html

[WHO] World Health Organization. 2017. Highest Priority Critically Important Antimicrobials [Internet]. [diunduh 2018 Januari 20]. Tersedia pada: http://who.int/foodsafety/cia/en/

Argudín MA, Deplano A, Meghraoui A, Dodémont M, Heinrichs A, Denis O, Nonhoff N, Roisin S. 2017. Bacteria from Animals as a Pool of Antimicrobial Resistance Genes. [Internet]. [diunduh 2018 Januari 23].Tersedia pada:https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/28587316

Hayes JR., McIntosh AC, Qaiyumi S, Johnson JA, English LL, Carr LE, Wagner DD, Joseph SW. (2001). High-frequency recovery of quinupristin-dalfopristin-resistant Enterococcus faecium isolates from the poultry production environment. Journal of clinical microbiology, 39(6), 2298-9.

Helms, M., Vastrup, P., Gerner-Smidt, P., & Mølbak, K. (2002). Excess mortality associated with antimicrobial drug-resistant Salmonella typhimurium. Emerging infectious diseases, 8(5), 490-5.

BAHAYAKAH MENGKONSUMSI DAGING ANJING ???

Oleh : Drh. Lutfi N.A.(Calon Fungsional Medik Veteriner)

PENDAHULUAN

Daging anjing akhir-akhir ini menjadi perhatin publik baik diberbagai media baik nasional maupun internasional. Tidak hanya di Indonesia, daging anjing juga di konsumsi dibeberapa Negara dengan alasan tertentu sejak jaman dahulu seperti di Korea, Laos, Kamboja, Vietnam, Thailand, China, dll. Konsumsi daging anjing di Indonesia oleh kalangan tertentu terjadi di beberapa wilayah khusus di Indonesia yaitu Medan, Manado, Nusa Tenggara Timur, DKI, Yogyakarta, Solo, Bandung dan Bali.

SERBA SERBI DAGING ANJING

Menurut hasil penelitian Widyastuti dkk. tahun 2015 menyimpulkan bahwa terdapat beberapa alasan masyarakat mengkonsumsi daging anjing di Bali yaitu bahwa bagian-bagian tertentu dari anjing berkhasiat untuk penyembuhan secara tradisional, misalnya jantung digunakan untuk menyembuhkan penyakit asma. Selain itu, konsumsi daging anjing juga dipercaya meningkatkan libido pria karena dapat memberikan kekuatan magis dan meningkatkan keperkasaan seksual. Oleh karena itu, Anjing memiliki nilai secara ekonomi dan kultural yang tinggi di Pulau Flores (Hutabarat dkk., 2003). Anjing digunakan sebagai sumber protein hewani, pengobatan, menjaga rumah dan kebun. Anjing juga sebagai menu populer pada saat pesta perayaan maupun upacara tradisional di pulau tersebut.

Anjing

Gambar 1. Daging anjing dipanggang untuk konsumsi manusia (Garba dkk., 2013)

Sampai saat ini belum ada aturan jelas yang mengatur terkait daging anjing, bahkan dalam Undang-Undang Nomor 18 tahun 2012 tentang Pangan, daging anjing tidak termasuk dalam definisi tersebut sehingga daging anjing bukan merupakan kategori pangan. Daging anjing juga rentan menjadi faktor pembawa penyakit yang berpotensi zoonosis bagi hewan dan manusia. Letak titik kritisnya saat proses produksi daging anjing yaitu sejak dimulai dari penangkapan (handling), transportasi, pembunuhan, pengolahan, penjajaan hingga konsumsi. Proses penangkapan, penanganan, transportasi, dan pembunuhan dilakukan dengan cara kasar dan melanggar aspek kesejahteraan hewan. Dalam press information WSAVA, menyebutkan bahwa risiko mengkonsumsi daging anjing terhadap kesehatan manusia antara lain terjangkitnya penyakit rabies, cholera, trichinellosis. residu antimikroba dan bahkan zat farmasetikal/kimia. Tertularnya toxoplasmosis juga merupakan risiko dari mengkonsumsi daging anjing (Sharma dkk., 2017).

APA SIH DAMPAKNYA MENGKONSUMSI DAGING ANJING??

Hasil penelitian kasus-kasus rabies dan potensi penularannya terkait dengan penjualan daging anjing yang terjadi di Vietnam akibat mengkonsumsi daging anjing dalam Risk Assessment (Asian Canine Protection Alliance) menyebutkan bahwa :

$    1. Penelitian oleh National Institute of Hygiene and Epidemiology (NIHE) tahun 2007 mengungkap bahwa sepuluh laboratorium mengonfirmasi kasus rabies pada manusia dari beberapa rumah sakit di wilayah utara, salah satu dari pasien kasus tersebut memiliki riwayat mengonsumsi daging anjing.

$    2. Penelitian oleh National Institute of Hygiene and Epidemiology (NIHE) tahun 2007-2009 mengungkap bahwa 23 pasien yang dikonfirmasi positif rabies oleh laboratorium. Sejumlah 22% tidak memiliki riwayat gigitan anjing atau kucing, tetapi akhibat mengolah serta mengkonsumsi daging anjing dan kucing.

     3. Penelitian oleh Wertheim dkk. dalam Wellcome Trust of Great Brain tahun 2009 telah mempublikasi studi kasus tentang dua orang yang meninggal dan telah dikonfirmasi oleh laboratorium positif menderita rabies setelah membunuh, mengolah, menyiapkan dan mengkonsumsi hewan yang terinfeksi rabies.

Sumber penelitian lain di Tiongkok, menyebutkan selama tahun 2000-2003 terjadi 17 kali outbreak trichinellosis pada manusia, 11,77% diantaranya disebabkan oleh konsumsi daging anjing mentah (Wang dan Shu, 2006). Penelitian oleh Wang dan Shen (2007) juga menyebutkan bahwa antara tahun 1937 hingga 2004 trichinellosis pada anjing ditemukan di 13 area dengan rata-rata prevalensi pada anjing yang dibunuh di tempat penyembelihan adalah 16,2% (5654/34.983), kejadiannya berkisar antara 1,2% hingga 44,8%. Prevalensi pada daging anjing yang dijual di pasar adalah 3,5% (988/27.898) ditemukan di 5 area. Kejadian outbreak trichinellosis di tahun-tahun sebelumnya dilaporkan juga berkaitan dengan konsumsi daging anjing.

Info grafis daging anjing

Gambar 2. Infografis Tentang Perdagangan Daging Anjing

KESIMPULAN

Mengingat hanya kalangan tertentu yang mengkonsumsi daging anjing di Indonesia, bisa saja konsumen keliru memilih jenis daging apabila penjajaannya sembarangan tanpa label/papan nama di restorannya. Dalam upaya memperketat pengawasan/peredaran daging anjing tersebut Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan telah menerbitkan Surat Edaran Nomor: 9874/SE/pk.420/F/09/2018 tentang Peningkatan Pengawasan Terhadap Peredaran/Perdagangan Daging Anjing. Surat Edaran tersebut dimaksudkan untuk agar dapat digunakan sebagai pedoman dalam meningkatkan pengawasan perdagangan daging anjing baik oleh pemerintah maupun masyarakat, Tujuannya yaitu meningkatkan komitmen seluruh stakeholder dan menjamin ketenteraman batin masyarakat dalam mendapatkan pangan asal hewan yang aman dan sehat melalui peningkatan pengawasan terhadap peredaran/perdagangan daging anjing.

Berbagai penelitian diatas telah mengungkap dampak yang ditimbulkan akibat mengkonsumsi daging anjing dengan berbagai alasan yaitu mengkonsumsi daging anjing berkaitan dengan mitos kasiat daging anjing, persembahan upacara adat, kebutuhan pribadi, dan bahkan diperdagangkan. Pemerintah dalam hal ini Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan sangat berhati-hati dalam melakukan pengaturan konsumsi daging anjing di Indonesia mengingat berbagai dimensi hukum, SARA, budaya, ekonomi, dan bahkan politik. Oleh karena itu, mari kita bantu sadarkan masyarakat untuk tidak mengonsumsi daging anjing mengingat dampak yang dapat ditimbulkan terkait penyakit dan moral publik. Demikian, semoga bermanfaat.

REFERENSI

Asian Canine Protection Alliance. 2013. Risk Assessment – The Risk the Dog Meat Trade Poses to Rabies Transmission and the ASEAN Plus 3 Countries’ Pledge to Eliminate Rabies by 2020

Garba A, Dzikwi AA, Okewole PA, Chitunya-Wilson BB, Tirmidhi AB, Kazeem HM dan Umoh JU. 2013. Evaluation of Dog Slaughter and Consumption Practices Related to The Control of Rabies in Nigeria. Journal of Exp Biol and Agri Sci, June – 2013; Volume – 1 (2S)

Hutabarat T, Geong M, Newsome A, Ruben A, Cutter S. 2003. Rabies and dog ecology in Flores. Urban Animal Management Conference Proceedings. Australia Veterinary Association.

Sharma R, Singh BB, Gill JPS, Jenkins E, dan Singh B. 2017. Canine Parasitic Zoonoses in India: Status and Issues. Rev Sci Tech Off Int Epiz., 2017,36(3), No. 20062017-00101-EN

Wang ZQ dan Shen LJ. 2007. The Epidemiology of Animal Trichinellosis in China. The Vet Journal 2007,173(2):391-398

Wang ZQ dan Xu BL. The Epidemiology of Human Trichinellosis in China During 2000-2003. Acta Trop 2006,97(3):247-251

Wertheim HFL, Nguyen TQ, Nguyen KAT, de Jong MD, Taylor WRJ, Le TV, Nguyen HH, Nguyen HTH, Farrar J, Horby P, Nguyen H. 2009. Furious Rabies After an Atypical Exposure. PLoS Medicine 2009,6(3):e1000044

Widyastuti MDW, Bardosh KL, Sunandri, Basri C, Basuno E, Jatikusumah A, Arief RA, Putra AAG, Rukmantara A, Estoepangestie ATS, Willyanto I, Natakesuma IKG, Sumantra IP, Grace D, Unger F, Gilbert J. 2015. On Dogs, People, and A Rabies Epidemic: Results from A Sociocultural Study in Bali, Indonesia. Infect Dis of Pov, 2015;4:30. DOI 10.1186/s40249-015-0061-1

WSAVA Press Information. 2017. WSAVA Position Statement on The Dog and Cat Meat Trade.

Pertemuan Regional Akselerasi Pencegahan Dan Pengendalian Neglected Foodborne Parasitic Zoonoses Disease Di Negara Asia (Tanggal 16-18 Oktober 2018 di Luang Prabang, Lao People’s Democratic Republic)

Oleh : drh. Puguh Wahyudi, MSi (Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner)

Pendahuluan

Neglected Foodborne Disease (NFD’s) merupakan penyakit yang sering terabaikan bersumber agen penyakit yang mengkontaminasi makanan. NFD’s berpotensi mengancam kesehatan manusia dan hewan terutama di daerah tropis kawasan Asia ternasuk Indonesia. NFD’s dapat terjadi akibat masuknya stadium larva/telur parasit melalui makanan terkontaminasi seperti taeniasis (cysticercosis), echinococosis, foodborne trematodiasis, dan helmintiasis lainnya. Tanpa disadari agen-agen parasit tersebut merupakan salah satu penyebab kanker hati/ductus biliverus, colangiocarcinoma, seizure, epilepsy (neurocysticercosis), dan kematian kehamilan premature pada manusia. Kelompok penyakit yang disebabkan oleh foodborne parasit ini sering disebut sebagai Neglected Foodborne Parasitic Zoonosis Disease.

Menurut WHO, Foodborne Parasitic Zoonosis Disease penting yang terjadi di kawasan Asia Tenggara yaitu cysticercosis, ascariosis, intestinal trematodiasis, congenital toxoplasmosis, aquired toxoplasmosis, ophistorciosis, cryptosporidiosis, dan entamubiasis. Target dalam road map WHO untuk mengatasi Neglected Tropical Disease (NTD) adalah berhasil mengendalikan morbiditas Food Borne Trematode Infection, taeniasis, dan cysticercosis secara global pada tahun 2020.

Untuk menyatukan persamaan langkah dalam mempercepat upaya pengendalian Neglected Foodborne Parasitic Zoonoses Disease di Negara Asia diadakan pertemuan regional yang diprakarsai oleh tiga organisasi besar didunia yaitu Office International Des Epizootica(OIE), World Health Organization (WHO), dan Food Agriculture Organization (FAO) pada tanggal 16-18, di Luang Prabang, Lao People’s Democratic Republic. Maksud pertemuan regional yang diselenggarakan oleh FAO-OIE-WHO ini adalah mempercepat upaya pengendalian Neglected Foodborne Parasitic Zoonoses Disease secara global khususnya di Negara Asia. Tujuan diselenggarakannya pertemuan ini adalah :mengkaji progress pencegahan, dan pengendalian Neglected Foodborne Parasitic Zoonoses di kawasan Asia, tukar menukar pengalaman, isu, tantangan dan kesempatan dalam meningkatkan rencana yang telah ada dan kerjasama lintas sector untuk mempercepat pencegahan dan pengendalian Neglected Foodborne Parasitic Zoonoses Disease di Negara-negara Asia, dan memprioritaskan aksi multisektoral untuk mengidentifikasi isu dan tantangan serta upaya aksi akselerasi pencegahan dan pengendalian Neglected Foodborne Parasitic Zoonoses di Negara Asia.

FOTO LAOS 1c

Hasil Pertemuan

Hadir dalam pertemuan ini adalah perwakilan delegasi Negara-negara Asia yaitu Bhutan, China, Indonesia, Laos, Kamboja, India, Malaysia, Mongolia, Nepal, Myanmar, Philipina, Korea, Thailand, Vietnam, dan pakar dari berbagai Negara yang diundang oleh FAO-OIE-WHO. Topik materi utama dalam pertemuan ini adalah country update regional dan global dalam upaya mencegah dan mengendalikan penyakit Neglected Foodborne Parasitic Zoonoses dalam rantai pangan; penguatan konsep one health; komunikasi risiko dan membangun kesadaran publik; pemetaan, monitoring dan evaluasi dalam kegiatan surveilans; dan prioritas kegiatan aksi dalam rangka percepatan pengendalian penyakit Neglected Foodborne Parasitic Zoonoses secara lintas sector.

Menurut sumber dari Kementerian Kesehatan banyaknya kejadian kasus taeniasis pada manusia di Indonesia terutama di wilayah yang mengkonsumsi daging babi seperti Sumatera utara, Bali dan Papua. Walaupun seringkali kejadian penyakitnya tidak mampu telusur sebagai contoh ditemukan pada manusia tetapi tidak ditemukan pada hewannya/sumbernya tidak jelas. Oleh karena itu dalam kegiatan aksi Kementerian Kesehatan mengambil wilayah Papua dalam upaya konsen pengendalian taeniasis yang juga telah pernah dilakukan pemetaan seperti di wilayah Freeport. Sebaiknya Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Cq. Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner juga bersinergi mendukung upaya pengendalian Neglected Foodborne Parasitic Zoonosis Disease di wilayah tertarget di Indonesia.    

Data yang di publikasikan pada hewan oleh OIE (data country report per 1 Oktober 2018) tahun 2015-2018 terhadap kasus infeksi Echinococcus granulosus, E. Multilocularis, dan Taenia solium (cysticercosis) tidak terlaporkan/tidak ada informasi. Sedangkan Trichinela Sp. menurut data tersebut pernah ada/terlapor ditemukan di Indonesia pada hewan domestik tahun 2017. Hal ini menunjukkan bahwa sebaiknya penguatan surveillans terkait Neglected Foodborne Parasitic Zoonosis Disease pada hewan dan produk hewan juga dilakukan mengingat beberapa kasus ditemukan pada manusia seperti taeniasis di Sumatera Utara, Kalimantan, Bali dan Papua. Hal ini mungkin erat kaitannya dengan kebiasaan mengkonsumsi daging babi yang belum diolah dengan benar.

Tidak hanya di Indonesia, Neglected Foodborne Parasitic Zoonosis Disease di kawasan Asia kenyataannya belum menjadikan prioritas dibandingkan agen foodborne disease lainnya seperti agen bakteri/residual yaitu Salmonela, Colliform, Streptococcus, Listeria, Camphylobacter, dll. Meskipun Indonesia sudah memasukkan sebagian Neglected Foodborne Parasitic Zoonosis Disease ke dalam Permentan Nomor 4971/2013 tentang Penyakit Zoonosis Prioritas yaitu Echinococosis, Taeniasis, dan Trichinelosis namun upaya implementasinya masih kurang. Kemungkinan transmisi Neglected Foodborne Parasitic Zoonosis Disease ini dapat terjadi melalui proses produksi (di peternakan), pengolahan, hingga saat penyiapan makanan. Kemungkinan juga adanya agen infeksi pada hewan domestik atau hewan liar.

Mengatasi Foodborne Tropical Disease (FBT) seringkali menemui banyak terkendala sebagai contoh Cysticercosis (T. solium), manusia hanya merupakan inang sementara (definitive), program efektif yang dilakukan saat ini adalah melakukan surveilan beserta pengobatan masal, beberapa negara tidak melakukannya (tanpa pengendalian yang tertarget). Dalam peternakan babi pengendalian FBT sangat berdampak secara ekonomi. Upaya pengendalian infeksi FBT pada manusia mungkin tidak efektif karena pada reservoir selain manusia tidak ditemukan dan beberapa kasus terjadi tanpa menunjukkan gejala klinis.

Pencegahan dan pengendalian yang efektif adalah mendeteksi, mencegah dan menghindari kontaminasi dengan meningkatkan kerjasama lintas sektoral (tripartite Concept) antara FAO-OIE-WHO. Kesenjangan yang terjadi dalam mengatasi masalah penyakit yang harus ditangani secara bersama-sama (lintas sektor) adalah kesenjangan dalam hal ilmu pengetahuan, implementasi, dan ambisi organisasi (Dr. Jong-Koo Lee-Seoul National University). Tindakan pencegahan dan pengendalian yang dapat dilakukan adalah saat pengolahan/preservasi makanan dengan memilih bahan produk asal hewan/ikan yang baik, meningkatkan praktik hygiene sanitasi saat pengolahan makanan, memasak bahan makanan lebih dari 600C dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Deworming, perilaku membuang feses di toilet, dan sanitasi lingkungan juga perlu di tingkatkan.

Kesimpulan dan saran

Tahap pertama untuk mewujudkan keamanan pangan adalah komunikasi risiko dan rencana aksi untuk di implementasikan dan dikembangkan. Penanganan Neglected Foodborne Parasitic Disease akan efektif bila dilakukan secara bersama-sama lintas sector antara kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan upaya perbaikan lingkungan.Pertemuan yang diselenggarakan oleh FAO-OIE-WHO ini penting dilakukan sebagai sarana dalam menambah wawasan, tukar pengalaman dan berbagai informasi baik dari Negara anggota maupun pakar yang hadir. Pertemuan ini juga memberikan kesempatan secara lintas sector untuk mengatasi Neglected Foodborne Parasitic Diseasesecara bersama-sama. Kunjungan praktik lapangan yang merupakan bagian dari serangkaian acara pertemuan ini memberikan gambaran bagi peserta untuk mengidentifikasi problem di masyarakat pedesaan dalam mengatasi Neglected Foodborne Parasitic Disease.Harapan ke depan Indonesia terus berupaya meningkatkan jaminan keamanan pangan sehingga terbebas dari agen yang dapat berpotensi sebagai Foodborne Parasitic Zoonosis Disease baik pada hewan dan manusia (Red’18).

 

Sekapur Sirih 

Drh. Syamsul Maarif M.Si

Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh,

Kami dengan rasa gembira menyambut partisipasi Anda di situs web kami. Sejalan dengan semakin berkembangnya tuntutan masyarakat terhadap fungsi dan peran Kesehatan Masyarakat Veteriner serta seiring kemajuan teknologi informasi saat ini maka situs ini akan kami gunakan untuk melayani dan menghubungkan Anda dengan Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Read more: Sekapur Sirih

 

Polling Kesmavet 

Menjadi Direktorat yang Mampu Mewujudkan Pelayanan Kesehatan Masyarakat Veteriner Profesional dalam Menjamin Kesehatan dan Ketentraman Bathin Masyarakat.

Visi Kesmavet-Paspa

Pengunjung 

We have 23 guests and no members online

Video 

Pengelolaan dan Pelaksanaan Kurban Yang Benar, Aman, dan Nyaman ------------------------------------------------------------- Cara Memilih Hewan Kurban Yang Baik ------------------------------------------------------------- Metode Perobohan dan Pemotongan Hewan (Sapi) ------------------------------------------------------------- Desain Fasilitas Pemotongan Hewan Kurban(Portable) ------------------------------------------------------------- Pemeriksaan Antemortem Postmortem ------------------------------------------------------------- Kesejahteraan Hewan Kurban ------------------------------------------------------------- Nomor Kontrol Veteriner (NKV) ------------------------------------------------------------- Dialog Penerapan Kesejahteraan Hewan ------------------------------------------------------------- Waspada Penyakit Zoonosis ------------------------------------------------------------- Ayam dan Hormon ------------------------------------------------------------- Penggunaan Antimikrobial Yang Bijak -------------------------------------------------------------

Sebaran Pengunjung