Pencarian 

Kesmavet Produk.pnghewan.pngim1

Pertemuan Regional Akselerasi Pencegahan Dan Pengendalian Neglected Foodborne Parasitic Zoonoses Disease Di Negara Asia (Tanggal 16-18 Oktober 2018 di Luang Prabang, Lao People’s Democratic Republic)

Oleh : drh. Puguh Wahyudi, MSi (Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner)

Pendahuluan

Neglected Foodborne Disease (NFD’s) merupakan penyakit yang sering terabaikan bersumber agen penyakit yang mengkontaminasi makanan. NFD’s berpotensi mengancam kesehatan manusia dan hewan terutama di daerah tropis kawasan Asia ternasuk Indonesia. NFD’s dapat terjadi akibat masuknya stadium larva/telur parasit melalui makanan terkontaminasi seperti taeniasis (cysticercosis), echinococosis, foodborne trematodiasis, dan helmintiasis lainnya. Tanpa disadari agen-agen parasit tersebut merupakan salah satu penyebab kanker hati/ductus biliverus, colangiocarcinoma, seizure, epilepsy (neurocysticercosis), dan kematian kehamilan premature pada manusia. Kelompok penyakit yang disebabkan oleh foodborne parasit ini sering disebut sebagai Neglected Foodborne Parasitic Zoonosis Disease.

Menurut WHO, Foodborne Parasitic Zoonosis Disease penting yang terjadi di kawasan Asia Tenggara yaitu cysticercosis, ascariosis, intestinal trematodiasis, congenital toxoplasmosis, aquired toxoplasmosis, ophistorciosis, cryptosporidiosis, dan entamubiasis. Target dalam road map WHO untuk mengatasi Neglected Tropical Disease (NTD) adalah berhasil mengendalikan morbiditas Food Borne Trematode Infection, taeniasis, dan cysticercosis secara global pada tahun 2020.

Untuk menyatukan persamaan langkah dalam mempercepat upaya pengendalian Neglected Foodborne Parasitic Zoonoses Disease di Negara Asia diadakan pertemuan regional yang diprakarsai oleh tiga organisasi besar didunia yaitu Office International Des Epizootica(OIE), World Health Organization (WHO), dan Food Agriculture Organization (FAO) pada tanggal 16-18, di Luang Prabang, Lao People’s Democratic Republic. Maksud pertemuan regional yang diselenggarakan oleh FAO-OIE-WHO ini adalah mempercepat upaya pengendalian Neglected Foodborne Parasitic Zoonoses Disease secara global khususnya di Negara Asia. Tujuan diselenggarakannya pertemuan ini adalah :mengkaji progress pencegahan, dan pengendalian Neglected Foodborne Parasitic Zoonoses di kawasan Asia, tukar menukar pengalaman, isu, tantangan dan kesempatan dalam meningkatkan rencana yang telah ada dan kerjasama lintas sector untuk mempercepat pencegahan dan pengendalian Neglected Foodborne Parasitic Zoonoses Disease di Negara-negara Asia, dan memprioritaskan aksi multisektoral untuk mengidentifikasi isu dan tantangan serta upaya aksi akselerasi pencegahan dan pengendalian Neglected Foodborne Parasitic Zoonoses di Negara Asia.

FOTO LAOS 1c

Hasil Pertemuan

Hadir dalam pertemuan ini adalah perwakilan delegasi Negara-negara Asia yaitu Bhutan, China, Indonesia, Laos, Kamboja, India, Malaysia, Mongolia, Nepal, Myanmar, Philipina, Korea, Thailand, Vietnam, dan pakar dari berbagai Negara yang diundang oleh FAO-OIE-WHO. Topik materi utama dalam pertemuan ini adalah country update regional dan global dalam upaya mencegah dan mengendalikan penyakit Neglected Foodborne Parasitic Zoonoses dalam rantai pangan; penguatan konsep one health; komunikasi risiko dan membangun kesadaran publik; pemetaan, monitoring dan evaluasi dalam kegiatan surveilans; dan prioritas kegiatan aksi dalam rangka percepatan pengendalian penyakit Neglected Foodborne Parasitic Zoonoses secara lintas sector.

Menurut sumber dari Kementerian Kesehatan banyaknya kejadian kasus taeniasis pada manusia di Indonesia terutama di wilayah yang mengkonsumsi daging babi seperti Sumatera utara, Bali dan Papua. Walaupun seringkali kejadian penyakitnya tidak mampu telusur sebagai contoh ditemukan pada manusia tetapi tidak ditemukan pada hewannya/sumbernya tidak jelas. Oleh karena itu dalam kegiatan aksi Kementerian Kesehatan mengambil wilayah Papua dalam upaya konsen pengendalian taeniasis yang juga telah pernah dilakukan pemetaan seperti di wilayah Freeport. Sebaiknya Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Cq. Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner juga bersinergi mendukung upaya pengendalian Neglected Foodborne Parasitic Zoonosis Disease di wilayah tertarget di Indonesia.    

Data yang di publikasikan pada hewan oleh OIE (data country report per 1 Oktober 2018) tahun 2015-2018 terhadap kasus infeksi Echinococcus granulosus, E. Multilocularis, dan Taenia solium (cysticercosis) tidak terlaporkan/tidak ada informasi. Sedangkan Trichinela Sp. menurut data tersebut pernah ada/terlapor ditemukan di Indonesia pada hewan domestik tahun 2017. Hal ini menunjukkan bahwa sebaiknya penguatan surveillans terkait Neglected Foodborne Parasitic Zoonosis Disease pada hewan dan produk hewan juga dilakukan mengingat beberapa kasus ditemukan pada manusia seperti taeniasis di Sumatera Utara, Kalimantan, Bali dan Papua. Hal ini mungkin erat kaitannya dengan kebiasaan mengkonsumsi daging babi yang belum diolah dengan benar.

Tidak hanya di Indonesia, Neglected Foodborne Parasitic Zoonosis Disease di kawasan Asia kenyataannya belum menjadikan prioritas dibandingkan agen foodborne disease lainnya seperti agen bakteri/residual yaitu Salmonela, Colliform, Streptococcus, Listeria, Camphylobacter, dll. Meskipun Indonesia sudah memasukkan sebagian Neglected Foodborne Parasitic Zoonosis Disease ke dalam Permentan Nomor 4971/2013 tentang Penyakit Zoonosis Prioritas yaitu Echinococosis, Taeniasis, dan Trichinelosis namun upaya implementasinya masih kurang. Kemungkinan transmisi Neglected Foodborne Parasitic Zoonosis Disease ini dapat terjadi melalui proses produksi (di peternakan), pengolahan, hingga saat penyiapan makanan. Kemungkinan juga adanya agen infeksi pada hewan domestik atau hewan liar.

Mengatasi Foodborne Tropical Disease (FBT) seringkali menemui banyak terkendala sebagai contoh Cysticercosis (T. solium), manusia hanya merupakan inang sementara (definitive), program efektif yang dilakukan saat ini adalah melakukan surveilan beserta pengobatan masal, beberapa negara tidak melakukannya (tanpa pengendalian yang tertarget). Dalam peternakan babi pengendalian FBT sangat berdampak secara ekonomi. Upaya pengendalian infeksi FBT pada manusia mungkin tidak efektif karena pada reservoir selain manusia tidak ditemukan dan beberapa kasus terjadi tanpa menunjukkan gejala klinis.

Pencegahan dan pengendalian yang efektif adalah mendeteksi, mencegah dan menghindari kontaminasi dengan meningkatkan kerjasama lintas sektoral (tripartite Concept) antara FAO-OIE-WHO. Kesenjangan yang terjadi dalam mengatasi masalah penyakit yang harus ditangani secara bersama-sama (lintas sektor) adalah kesenjangan dalam hal ilmu pengetahuan, implementasi, dan ambisi organisasi (Dr. Jong-Koo Lee-Seoul National University). Tindakan pencegahan dan pengendalian yang dapat dilakukan adalah saat pengolahan/preservasi makanan dengan memilih bahan produk asal hewan/ikan yang baik, meningkatkan praktik hygiene sanitasi saat pengolahan makanan, memasak bahan makanan lebih dari 600C dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Deworming, perilaku membuang feses di toilet, dan sanitasi lingkungan juga perlu di tingkatkan.

Kesimpulan dan saran

Tahap pertama untuk mewujudkan keamanan pangan adalah komunikasi risiko dan rencana aksi untuk di implementasikan dan dikembangkan. Penanganan Neglected Foodborne Parasitic Disease akan efektif bila dilakukan secara bersama-sama lintas sector antara kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan upaya perbaikan lingkungan.Pertemuan yang diselenggarakan oleh FAO-OIE-WHO ini penting dilakukan sebagai sarana dalam menambah wawasan, tukar pengalaman dan berbagai informasi baik dari Negara anggota maupun pakar yang hadir. Pertemuan ini juga memberikan kesempatan secara lintas sector untuk mengatasi Neglected Foodborne Parasitic Diseasesecara bersama-sama. Kunjungan praktik lapangan yang merupakan bagian dari serangkaian acara pertemuan ini memberikan gambaran bagi peserta untuk mengidentifikasi problem di masyarakat pedesaan dalam mengatasi Neglected Foodborne Parasitic Disease.Harapan ke depan Indonesia terus berupaya meningkatkan jaminan keamanan pangan sehingga terbebas dari agen yang dapat berpotensi sebagai Foodborne Parasitic Zoonosis Disease baik pada hewan dan manusia (Red’18).

 

Sekapur Sirih 

Drh. Syamsul Maarif M.Si

Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh,

Kami dengan rasa gembira menyambut partisipasi Anda di situs web kami. Sejalan dengan semakin berkembangnya tuntutan masyarakat terhadap fungsi dan peran Kesehatan Masyarakat Veteriner serta seiring kemajuan teknologi informasi saat ini maka situs ini akan kami gunakan untuk melayani dan menghubungkan Anda dengan Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Read more: Sekapur Sirih

 

Polling Kesmavet 

Menjadi Direktorat yang Mampu Mewujudkan Pelayanan Kesehatan Masyarakat Veteriner Profesional dalam Menjamin Kesehatan dan Ketentraman Bathin Masyarakat.

Visi Kesmavet-Paspa

Pengunjung 

We have 3 guests and no members online

Video 

Pengelolaan dan Pelaksanaan Kurban Yang Benar, Aman, dan Nyaman ------------------------------------------------------------- Cara Memilih Hewan Kurban Yang Baik ------------------------------------------------------------- Metode Perobohan dan Pemotongan Hewan (Sapi) ------------------------------------------------------------- Desain Fasilitas Pemotongan Hewan Kurban(Portable) ------------------------------------------------------------- Pemeriksaan Antemortem Postmortem ------------------------------------------------------------- Kesejahteraan Hewan Kurban ------------------------------------------------------------- Nomor Kontrol Veteriner (NKV) ------------------------------------------------------------- Dialog Penerapan Kesejahteraan Hewan ------------------------------------------------------------- Waspada Penyakit Zoonosis ------------------------------------------------------------- Ayam dan Hormon ------------------------------------------------------------- Penggunaan Antimikrobial Yang Bijak -------------------------------------------------------------

Sebaran Pengunjung