Pencarian 

Kesmavet Produk.pnghewan.pngim1

Antimicrobial Resistance (AMR) dan Dampaknya Bagi Kesehatan Manusia

Oleh : Drh. Septa Walyani (Medik Veteriner Pertama, Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner)

Pengertian Resistensi Antimikroba

Penemuan antibiotik pada pertengahan abad ke-20 telah membawa perubahan besar terhadap manajemen dan terapi infeksi bakteri. Penggunaan antibiotik dapat membantu menyembuhkan infeksi, sejak saat itu antibiotik telah menjadi obat bagi jutaan orang yang sakit. Hal ini terancam oleh kemunculan dan penyebaran bakteri yang resisten terhadap antibiotik dan terjadi sangat cepat menyebar ke seluruh dunia (Argudín et al. 2017). AMR atau resistensi antimikroba didefinisikan sebagai kebalnya mikroorganisme seperti bakteri, virus, parasit dan jamur terhadap obat antimikroba yang sebelumnya efektif untuk pengobatan infeksi. Masalah resistensi antibiotik telah menjadi masalah global. Perkembangan resistensi antibiotik yang cepat tidak diimbangi dengan penemuan agen antimikroba baru. Jika AMR tidak dikendalikan, diperkirakan bahwa sebagian besar antibiotik yang digunakan saat ini untuk mengobati infeksi manusia dan hewan akan sia-sia dalam lima sampai sepuluh tahun kedepan, sehingga situasi kesehatan akan kembali seperti ke era sebelum ditemukannya antibiotik (Argudin et al. 2017).

Proses Kejadian Resistensi

Resistensi dapat timbul secara spontan melaui proses mutasi, selain itu gen dapat diwariskan secara vertikal atau dapat diperoleh dari bakteri lain secara horizontal melalui unsur genetik seluler seperti plasmid. Horizontal gen transfer (HGT) bisa terjadi antara bakteri yang sangat berbeda. Mekanisme ini akan meningkatkan kemungkinan kejadian resistensi pada bakteri patogen lain di lingkungan. Mengingat banyaknya bakteri patogen yang tersebar di lingkungan dan secara bebas dapat kontak dengan bakteri yang telah mengalami resistensi, maka kemungkinan terjadinya multi drug resistance (MDR) pada bakteri patogen semakin meningkat.

AMR 1

 

Beberapa bukti epidemiologi dan molekuler telah menunjukkan bahwa AMR juga dipicu oleh penggunaan antibiotik yang luas di peternakan. Timbulnya AMR di peternakan memicu permasalahan kesehatan yang serius bagi manusia. Karena kemampuan bakteri bertahan hidup, bakteri resisten dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama di lingkungan dan di dalam tubuh hewan. Bakteri resisten bisa ditularkan ke manusia, penyebaran bakteri resisten dari hewan ternak dapat terjadi baik melalui konsumsi makanan asal hewan atau melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi serta mengkonsumsi hasil pertanian yang terkontaminasi bakteri resisten dari pupuk yang berasal dari kotoran hewan.

Dampak Resistensi

Penyakit yang diakibatkan oleh bakteri patogen yang resisten akan memicu penggunaan antibiotik dengan dosis lebih tinggi atau membutuhkan alternatif antibiotik golongan baru yang lebih toksik sehingga sangat mempengaruhi biaya yang dikeluarkan dan berdampak kepada kualitas kesehatan manusia. Penyakit yang ditimbulkan oleh bakteri yang resisten akan menjadi lebih sulit untuk diobati dan meningkatkan resiko kematian terutama pada anak-anak, manula dan golongan yang mengalami imunosupresi.

AMR 2

Beberapa dampak AMR bagi kesehatan manusia antara lain:

a. Meningkatnya angka morbiditas pada manusia

Tahun 2014 sebanyak 700 000 angka kematian terjadi akibat kasus penyakit infeksi bakteri yang resisten terhadap antibiotik (WHO 2017). Ada literature yang menyebutkan bahwa hingga 50 000 nyawa hilang setiap tahun karena infeksi bakteri yang resisten terhadap antibiotik di Eropa dan Amerika Serikat (O’Neill 2017). Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyatakan bahwa kejadian resistensi tiga strain bakteri patogen utama pada manusia seperti Salmonella, Campylobacter dan E. coli terkait erat dengan penggunaan antibiotik pada pakan. Tiga mikroorganisme ini adalah tiga dari lima penyebab foodborne disease utama atau penyebab sekitar 90% kematian akibat infeksi patogen bawaan makanan di Amerika Serikat. Menurut WHO jumlah bakteri Salmonella enteritidis dan Campylobacter spp. resisten terhadap kuinolon dari isolat manusia dan hewan   diketahui semakin meningkat. Beberapa Salmonella Typhimurium juga telah mengalami resisten terhadap ampisilin, kloramfenikol, streptomisin, sulfonamida dan tetrasiklin. Laporan menyebutkan hal ini terkait dengan tren penggunaan antimikroba subterapeutik di peternakan.

b. Meningkatnya angka mortalitas pada manusia

Helms et al. (2002) menemukan bahwa pasien terinfeksi dengan Salmonella Typhimurium resisten terhadap ampisilin, kloramfenikol streptomisin, sulfonamida dan tetrasiklin memiliki kemungkinan tingkat kematian 4,8 kali lebih tinggi (tingkat kepercayan 95%). Selanjutnya, Mereka menyatakan bahwa resistensi kuinolon dalam organisme ini dapat menyebabkan angka kematian 10.3 kali lebih tinggi dari populasi umum lainnya.

c. Menurunkan efikasi antibiotik pada pengobatan manusia

Resistensi antimikroba karena penggunaan antibiotik pada hewan ternak dapat menyebabkan turunnya tingkat efikasi sebagian besar atau semua anggota kelas antibiotik tersebut, sedangkan beberapa di antaranya mungkin sangat penting untuk pengobatan manusia. Hal ini terjadi karena kesamaan dari komponen struktural antibiotik tersebut, yang menyebabkan cross-recognition dan cross-resistance untuk semua atau sebagian besar antibiotik dari kelas yang sama.

Resistensi virginiamycin bereaksi silang dengan resistensi streptogramin yang dipakai di manusia dan resistensi terhadap quinupristin-dalfopristin (Hayes et al. 2001). Avoparcin dan vankomisin adalah antibiotik golongan glikopeptida, kedua antibiotik ini memiliki struktur yang mirip namun berbeda dalam penggunaan dan aplikasi. vancomycin secara klinis penting bagi manusia dan sering berfungsi sebagai obat pilihan terakhir untuk infeksi bakteri gram positif. Avoparcin digunakan pada hewan sebagai pemicu pertumbuhan di Uni Eropa. Resistensi vankomisin terjadi sebagai dampak penggunaan subterapeutik avoparcin pada hewan ternak, hal ini yang menyebabkan pelarangan penggunaan avoparcin di peternakan di UE.

AMR 3

d. Meningkatnya biaya kesehatan manusia

Dengan meningkatnya kejadian AMR dalam beberapa tahun terakhir menimbulkan dampak terjadi peningkatan pengeluaran biaya kesehatan yang jauh lebih tinggi. Kenaikan biaya kesehatan memiliki dampak yang signifikan di negara-negara miskin di mana sumber daya lebih terbatas dan efikasi antibiotik menurun menjadi faktor penting yang mempengaruhi morbiditas dan mortalitas manusia.Peningkatan biaya perawatan kesehatan dapat disebabkan oleh perawatan dengan menggunakan antibiotik tambahan, rawat inap yang lebih lama, tes diagnostik lebih kompleks, biaya jasa profesional yang lebih tinggi dan tindakan medis lainnya.

Kesimpulan

Mengingat dampak AMR yang signifikan terhadap kesehatan manusia, seluruh elemen harus terlibat dan tanggung jawab dalam upaya mencegah AMR, mengurangi kejadian, dan penyebaran AMR. Resistensi antimikroba adalah masalah global yang harus diselesaikan secara global dalam kesatuan aksi “One Health” yang berkesinambungan.

DAFTAR PUSTAKA

CDC] Centers for Disease Control and Prevention. 2015. About antimicrobial resistance [Internet]. [diunduh 2017 Mei 28]. Tersedia pada: https://www.cdc.gov/drugresistance/about.html

[WHO] World Health Organization. 2017. Highest Priority Critically Important Antimicrobials [Internet]. [diunduh 2018 Januari 20]. Tersedia pada: http://who.int/foodsafety/cia/en/

Argudín MA, Deplano A, Meghraoui A, Dodémont M, Heinrichs A, Denis O, Nonhoff N, Roisin S. 2017. Bacteria from Animals as a Pool of Antimicrobial Resistance Genes. [Internet]. [diunduh 2018 Januari 23].Tersedia pada:https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/28587316

Hayes JR., McIntosh AC, Qaiyumi S, Johnson JA, English LL, Carr LE, Wagner DD, Joseph SW. (2001). High-frequency recovery of quinupristin-dalfopristin-resistant Enterococcus faecium isolates from the poultry production environment. Journal of clinical microbiology, 39(6), 2298-9.

Helms, M., Vastrup, P., Gerner-Smidt, P., & Mølbak, K. (2002). Excess mortality associated with antimicrobial drug-resistant Salmonella typhimurium. Emerging infectious diseases, 8(5), 490-5.

Sekapur Sirih 

Drh. Syamsul Maarif M.Si

Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh,

Kami dengan rasa gembira menyambut partisipasi Anda di situs web kami. Sejalan dengan semakin berkembangnya tuntutan masyarakat terhadap fungsi dan peran Kesehatan Masyarakat Veteriner serta seiring kemajuan teknologi informasi saat ini maka situs ini akan kami gunakan untuk melayani dan menghubungkan Anda dengan Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Read more: Sekapur Sirih

 

Polling Kesmavet 

Menjadi Direktorat yang Mampu Mewujudkan Pelayanan Kesehatan Masyarakat Veteriner Profesional dalam Menjamin Kesehatan dan Ketentraman Bathin Masyarakat.

Visi Kesmavet-Paspa

Pengunjung 

We have 48 guests and no members online

Video 

Pengelolaan dan Pelaksanaan Kurban Yang Benar, Aman, dan Nyaman ------------------------------------------------------------- Cara Memilih Hewan Kurban Yang Baik ------------------------------------------------------------- Metode Perobohan dan Pemotongan Hewan (Sapi) ------------------------------------------------------------- Desain Fasilitas Pemotongan Hewan Kurban(Portable) ------------------------------------------------------------- Pemeriksaan Antemortem Postmortem ------------------------------------------------------------- Kesejahteraan Hewan Kurban ------------------------------------------------------------- Nomor Kontrol Veteriner (NKV) ------------------------------------------------------------- Dialog Penerapan Kesejahteraan Hewan ------------------------------------------------------------- Waspada Penyakit Zoonosis ------------------------------------------------------------- Ayam dan Hormon ------------------------------------------------------------- Penggunaan Antimikrobial Yang Bijak -------------------------------------------------------------

Sebaran Pengunjung