Pencarian 

Kesmavet Produk.pnghewan.pngim1

Kesejahteraan Hewan Pada Peternakan Babi

Oleh : drh. Devi Yanti Sari (Fungsional Medik Veteriner Pada direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner)

Bagaimana Kondisi Peternakan Babi Saat Ini??

Babi merupakan salah satu ternak produksi yang dimanfaatkan manusia. Peternakan babi secara intensif di dunia telah dimulai sejak tahun 1950.Saat ini isu kesejahteraan hewan di peternakan babi mulai menjadi perhatian di dunia baik nasional maupun internasional. Selama ini peternakan babi dilakukan dengan semakin mengurangi luas kandang per/hewan, kepadatan yang tinggi terutama pada babi grower dan penggemukan. Lantai kandang licin atau berlubang dengan tanpa bedding atau alas dan sempit. Pakan konsentrat yang rendah serat. Induk babi ditempatkan pada kandang yang sempit untuk beranak dan laktasi. Semua ini dilakukan dengan alasan efisiensi namun disisi lain hal ini mengesampingkan aspek kesejahteraan hewan.

Babi 1

Gambar Ilustrasi peternakan babi

Menurut buku statistik peternakan ditjen PKH tahun 2017 populasi babi di Indonesia mencapai 7.903.450 ekor dengan populasi terbesar di propinsi NTT. Pada tahun 2017 ekspor babi di Indonesia mencapai 278.822 kg atau meningkat dari tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan industri peternakan babi di Indonesia sangat potensial dalam mendukung pasar ekspor. Saat ini Indonesia juga telah menjadi salah satu negara pengekspor babi ke Singapura yaitu dari Pulau Bulan.

Problema Peternakan Babi di Indonesia

Pengembangan industri peternakan babi di Indonesia mengalami berbagai masalah diantaranya karena masalah sosial religi, kurangnya ketersediaan bibit berkualitas, limbah peternakan dan implementasi kesejahteraan hewan. Kurangnya pengetahuan tentang penerapan kesejahteraan hewan menjadi tantangan tersendiri bagi peternakan babi di Indonesia. Penerapan kesejahteraan hewan telah menjadi salah satu syarat dalam melakukan ekspor babi. Hal ini sesuai dengan amanat Peraturan Menteri Pertanian Nomor 02/Permentan/PK.230 /1/2018 tentang Pengeluaran Ruminansia Kecil dan Babi dari wilayah Negara RI pasal (16)bahwa pelaku usaha yang melakukan pengeluaran ruminansia kecil dan/babi selain memenuhi persyaratan administrasi dan persyaratan teknis harus memenuhi kaidah kesejahteraan hewan dalam pengangkutan.

Pemahaman Perilaku Babi (Animal Behaviour)

Menurut informasi dari hasil penelitian bahwa dengan menerapkan kesejahteraan hewan maka produksi dan produktivitas sebuah peternakan akan meningkat. Sebelum menerapkan kesejahteraan hewan pada peternakan babi, kita perlu memahami perilaku alamiah babi. Secara umum babi hidup secara berkelompok yang terdiri dari beberapa betina dan anak-anaknya. Babi merupakan hewan yang sangat menyukai kebersihan. Aktif di pagi da=alam hari. Babi merawat kulitnya dengan perilaku menggosok-gosok badan dan berkubang. Mereka memerlukan kontak fisik dengan sesamanya khususnya saat tidur dan istirahat. Babi merupakan hewan omnivora oportunistik, memakan hampir semua jenis makanan dengan serat tinggi. Babi mengidentifikasi objek dengan mengendus, menggigit dan mengunyah sebelum makan. Defekasi dan urinasi babi di tempat tersendiri terpisah dari area berbaring. Babi betina biasanya meninggalkan kelompoknya untuk membangun sarang dan beranak. Setelah 1-2 hari beranak induk babi akan mulai meninggalkan anaknya dan kembali ke kelompok 1 sampai 2 minggu beranak. Salah satu hal yang menarik dari babi adalah setiap anak babi hanya akan menyusui pada satu puting yang sama posisinya selama periode menyusui.

Bagaimana Kesejahteraan Hewan Diterapkan??

Penerapan kerawan pada peternakan babi pada prinsipnya dilakukan dengan memenuhi 5 prinsip kebebasan hewan (five freedom) yaitu yaitu bebas dari rasa lapar dan haus (freedom from hunger and thirst), bebas dari rasa sakit, cidera dan penyakit   (freedom from pain, injury and disease), bebas dari rasa ketidak nyamanan, penganiayaan dan penyalahgunaan (freedom from discomfort), bebas dari rasa takut dan tertekan (freedom from fear and distress), bebas untuk mengekspesikan perilaku alamiah (freedom to express natural behaviour). Penerapan kerawan pada peternakan babi disesuaikan dengan tahapan pertumbuhan babi. Dari segi perkandangan kandang babi dibedakan sesuai tahapan perkembangan babi, seperti kandang starter, grower finisher, dan selain itu diperlukan juga kandang menyusui, kandang bunting dan beranak, serta kandang jantan. Masalah yang sering terjadi pada kandang babi menyusui adalah kecelakaan terinjak/tertindihnya anak babi oleh induk babi akibat kepadatan yang tinggi. Sehingga kandang babi menyusui harus didisain sedemikian rupa agar anak babi dapat menyusui dengan aman dan induk babi masih dapat leluasa bergerak, berbaring dan tidur secara nyaman.

Babi 2

 

Standar kepadatan ternak babi menurut Uni Eropa (Commision Directive 2001/93/EC) European Community (2003)

Selain perkandangan hal lain yang perlu diperhatikan adalah lantai kandang. lantai kandang harus didisain sedemikian rupa sehingga tidak licin. Pakan harus tersedia sesuai kebutuhan dan tahap perkembangan babi serta dapat diakses oleh semua babi. Air bersih juga harus diberikan secara ad libitum dan dapat diakses dengan mudah oleh semua babi. Pencahayaan dan tingkat kebisingan juga harus diperhatikan. Menurut standar uni eropa standar pencahayaan adalah 40 lux dan tingkat kebisingan 85 dB. Akses kubangan dan bermain (enrichment) juga harus disediakan. Manajemen kesehatan babi juga harus dilakukan diantaranya dengan pencegahan penyakit melalui vaksinasi, pengobatan terhadap hewan sakit maupun biosecurity yang baik. Pemotongan ekor dan kastrasi perlu mendapat perhatian (dilakukan dengan meminimalisir rasa sakit /dengan anestesi) dan waktu minimum lepas sapih (minimal umur 4 minggu).

BAbi 3

Beberapa contoh enrichment pada babi

Tanda Tidak Terpenuhinya Aspek Kesejahteraan Hewan

Salah satu gejala tidak terpenuhinya kesejahteraan hewan dalam peternakan babi adalah perilaku tail biting (menggigit ekor), jika kepadatan terlalu tinggi babi akan stres dan akan menggigit ekor atau bagian tubuh babi lainnya. Jika ditemukan kejadian tersebut maka babi yang menjadi korban pengigitan harus segera dipisahkan karena darah yang keluar dari luka gigitan akan memicu babi lain untuk menggigit babi tersebut. Selain tail biting gejala khas yang muncul dapat berupa hipersalivasi. jika dalam kandang tidak disediakan enrichment/alat bermain maka babi tidak ada aktivitas dan akan menggigit-gigit kandang atau terjadi hipersalivasi. Hipersalivasi dan waspada merupakan awal tanda kejadian stress pada babi dan hewan lainnya akhibat tidak terpenuhinya aspek kesejahteraan hewan. stress yang tidak segera ditangani secara berkepanjangan akan menimbulkan distress, yang dapat berakhibat buruk pada sebuah peternakan hingga dapat berujung menimbulkan kematian pada ternak.

Babi 4

Salah satu gejala hipersalivasi akibat stress pada babi

Penilaian Kesejahteraan Hewan Pada Peternakan Babi

Penilaian Kesejahteraan hewan pada peternakan babi dapat dilakukan dengan berbagai metode. Beberapa hal indikatorumum yang dapat dijadikan sebagai kriteria dalam melakukan penilaian penerapan kesejahteraan hewan pada peternakan babi yaitu mengukur BCS (Body Condition Score), kesehatan kuku perilaku babi, ketersediaan air, kualitas dan kemudahan akses pakan, jenis pakan, ketersediaan jerami atau material lain untuk hamparan alas (foraging), kualitas dan sirkulasi udara, kondisi anak babi (kastrasi/potong ekor, warna kulit status kesehatan) ada tidaknya penggigitan ekor, ada tidaknya kandang isolasi, dan biosecurity(Disarikan dari berbagai sumber).

Sekapur Sirih 

Drh. Syamsul Maarif M.Si

Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh,

Kami dengan rasa gembira menyambut partisipasi Anda di situs web kami. Sejalan dengan semakin berkembangnya tuntutan masyarakat terhadap fungsi dan peran Kesehatan Masyarakat Veteriner serta seiring kemajuan teknologi informasi saat ini maka situs ini akan kami gunakan untuk melayani dan menghubungkan Anda dengan Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Read more: Sekapur Sirih

 

Polling Kesmavet 

Menjadi Direktorat yang Mampu Mewujudkan Pelayanan Kesehatan Masyarakat Veteriner Profesional dalam Menjamin Kesehatan dan Ketentraman Bathin Masyarakat.

Visi Kesmavet-Paspa

Pengunjung 

We have 43 guests and no members online

Video 

Pengelolaan dan Pelaksanaan Kurban Yang Benar, Aman, dan Nyaman ------------------------------------------------------------- Cara Memilih Hewan Kurban Yang Baik ------------------------------------------------------------- Metode Perobohan dan Pemotongan Hewan (Sapi) ------------------------------------------------------------- Desain Fasilitas Pemotongan Hewan Kurban(Portable) ------------------------------------------------------------- Pemeriksaan Antemortem Postmortem ------------------------------------------------------------- Kesejahteraan Hewan Kurban ------------------------------------------------------------- Nomor Kontrol Veteriner (NKV) ------------------------------------------------------------- Dialog Penerapan Kesejahteraan Hewan ------------------------------------------------------------- Waspada Penyakit Zoonosis ------------------------------------------------------------- Ayam dan Hormon ------------------------------------------------------------- Penggunaan Antimikrobial Yang Bijak -------------------------------------------------------------

Sebaran Pengunjung