Pencarian 

Tulisan Ilmiah Populer

Media Website Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner menerima tulisan yang dikirim ke alamat redaksi melalui email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. . Tulisan bersifat orisinil, aktual dan informatif tentang kesehatan masyarakat veteriner diketik rapi 1,5 spasi. Panjang tulisan 2-3 halaman diketik format *.doc(words file) maksimal 7000 karakter termasuk spasi. Foto pendukung minimal 2 buah  dengan ukuran masing-masing maksimal sebesar 2MB. Sebelum diterbitkan tulisan di review dan disunting oleh Tim redaksi tanpa merubah isinya.  Perlu kami sampaikan sebelumnya pengiriman tulisan gratis dan tidak tersedia honor bagi penulis. 

MENGENAL BEBERAPA BAKTERI PATOGEN PADA DAGING

Mengenal Beberapa Bakteri Patogen Pada Daging

Oleh:

Drh. Anis Trisna Fitrianti, MSi (Medik Veteriner Muda)

Daging dan produk olahannya merupakan pangan yang bersifat perishable food (pangan mudah rusak) karena sangat rentan terkontaminasi oleh mikroorganisme  pembusuk maupun mikroorganisme patogen.  Daging dan produk olahannya mengandung nutrisi yang baik bagi manusia.  Zat-zat nutrisi ini juga merupakan media pertumbuhan  yang sangat baik bagi mikroba.  Daging dan produk olahannya mudah sekali mengalami kerusakan mikrobiologi karena kandungan gizi dan kadar airnya yang tinggi, serta banyak mengandung vitamin dan mineral. Kerusakan mikrobiologi pada daging terutama disebabkan oleh pertumbuhan bakteri pembusuk. Beberapa tanda-tanda kerusakan pada daging di antaranya adalah perubahan warna, bau (bau menjadi tengik atau berbau busuk), terbentuknya lendir,rasa (menjadi asam). Kerusakan mikrobiologi pada daging kering (dendeng) dapat ditandai dengan tumbuhnya kapang.

Anis Food 1

Gambar 1. Daging yang siap diolah

Daging dan produk olahannya yang telah rusak dapat mengandung bakteri pathogen (bakteri yang dapat menyebabkan penyakit).Contoh bakteri yang bersifat patogen pada daging dan produk olahannya adalah Salmonella sp. yang dapat menyebabkan gangguan pencernaan,  Clostridium perfringens yang dapat menyebabkan sakit perut dan diare, Staphylococcus aureus yang menghasilkan racun enterotoksin yang dapat menyebabkan gejala keracunan seperti kekejangan pada perut dan muntah-muntah, dan Clostridium botulinum yang dapat menyebabkan keracunan fatal ditandai dengan lesu, sakit kepala, pusing, muntah dan diare. Beberapa gejala penyakit dapat  timbul setelah seseorang mengkonsumsi daging atau produk olahannya yang tercemar oleh mikroorganisme patogen. Mekanisme terjadinya keracunan bakteri pathogen akibat mengkonsumsi daging dan produk olahannya yaitu intoksikasi dan infeksi.

1. Intoksikasi

Intoksikasi adalah keracunan yang disebabkan oleh produk toksik bakteri patogen, baik itu oleh toksin maupun metabolit toksik lainnya. Bakteri tumbuh pada daging atau produk olahannya akan memproduksi toksin. Apabila toksin tersebut masuk ke dalam tubuh bersama daging dan produknya dapat menimbulkan gejala penyakit seperti keracunan pangan (intoksikasi) akibat bakteri Clostridium botulinum dan Staphylococcus aureus.

a. Clostridium botulinum ; merupakan bakteri Gram-positif yang dapat membentuk spora tahan panas, bersifat anaerobik, dan tidak tahan asam tinggi. Toksin yang dihasilkan dinamakan botulinum, bersifat meracuni saraf (neurotoksik) yang dapat menyebabkan paralisis. Toksin botulinum bersifat termolabil. Pemanasan pangan sampai suhu 80°C selama 30 menit cukup untuk merusak toksin. Sedangkan spora bersifat resisten terhadap suhu pemanasan normal dan dapat bertahan hidup dalam pengeringan dan pembekuan. Gejala keracunan botulinum yaitu mual, muntah, pening, sakit kepala, pandangan berganda, tenggorokan dan hidung terasa kering, nyeri perut, letih, lemah otot, paralisis, dan pada beberapa kasus dapat menimbulkan kematian. Gejala dapat timbul 12-36 jam setelah toksin tertelan. Masa sakit dapat berlangsung selama 2 jam sampai 14 hari. Tidak ada penanganan spesifik untuk keracunan ini kecuali mengganti cairan tubuh yang hilang. Kebanyakan keracunan dapat terjadi akibat cara pengawetan pangan yang keliru, khususnya di rumah atau industri rumah tangga. Misalnya pengalengan, fermentasi, pengawetan dengan garam, pengasapan, pengawetan dengan asam atau minyak. Bakteri ini dapat mencemari produk pangan dalam kaleng yang berkadar asam rendah, ikan asap, kentang matang yang kurang baik penyimpanannya, pie beku, telur ikan fermentasi, seafood, dan madu. Tindakan pengendalian khusus bagi industri terkait bakteri ini adalah penerapan sterilisasi panas dan penggunaan nitrit pada daging yang dipasteurisasi. Sedangkan bagi rumah tangga atau pusat penjualan makanan antara lain dengan memasak makanan dalam kaleng dengan seksama yaitu dengan direbus dan aduk selama 15 menit. Menyimpan makanan dalam lemari pendingin terutama untuk makanan yang dikemas hampa udara dan pangan segar atau yang diasap juga merupakan tindakan pengendalian kontaminasi bakteri ini. Penting untuk diperhatikan adalah, menghindari mengonsumsi makanan kaleng yang kemasannnya telah menggembung.

BOTULISM

Gambar 2. Clostridium botulinum

b. Staphylococcus aureus; terdapat sekitar 23 spesies Staphylococcus, tetapi Staphylococcus aureus merupakan bakteri yang paling banyak menyebabkan keracunan pangan. Staphylococcus aureus merupakan bakteri berbentuk kokus/bulat, tergolong dalam bakteri Gram-positif, bersifat aerobik fakultatif, dan tidak membentuk spora. Toksin yang dihasilkan bakteri ini bersifat tahan panas sehingga tidak mudah rusak pada suhu memasak normal. Bakteri dapat mati, tetapi toksin akan tetap tertinggal. Toksin dapat rusak secara bertahap saat pendidihan minimal selama 30 menit. Pangan yang dapat tercemar bakteri ini adalah produk pangan yang kaya protein, misalnya daging, ikan, susu, dan daging unggas; produk pangan matang yang ditujukan dikonsumsi dalam keadaan dingin, seperti salad, puding, dan sandwich; produk pangan yang terpapar pada suhu hangat selama beberapa jam; pangan yang disimpan pada lemari pendingin yang terlalu penuh atau yang suhunya kurang rendah; serta pangan yang tidak habis dikonsumsi dan disimpan pada suhu ruang. Gejala keracunan akibat toksin Staphylococcus aureus dapat terjadi dalam jangka waktu 4-6 jam setelah mengonsumsi pangan tercemar. Gejala dapat berupa mual, muntah (lebih dari 24 jam), diare, hilangnya nafsu makan, kram perut hebat, distensi abdominal, dan demam ringan. Pada beberapa kasus yang berat dapat timbul sakit kepala, kram otot, dan perubahan tekanan darah. Penanganan keracunannya adalah dengan mengganti cairan dan elektrolit yang hilang akibat muntah atau diare. Pengobatan antidiare biasanya tidak terlalu diperlukan. Untuk menghindari dehidrasi pada pasien perlu diberikan air minum dan larutan elektrolit. Untuk penanganan lebih lanjut sebaiknya pasien ditangani di puskesmas atau rumah sakit.

Staphylococcus 791x1024

 

Gambar 3. Staphylococcus aureus

2. Infeksi

Infeksi merupakan proses invasi dan multiplikasi berbagai mikroorganisme ke dalam tubuh. Bakteri patogen dapat menginfeksi tubuh melalui pangan yang dikonsumsi. Dalam hal ini, penyebab sakitnya seseorang adalah akibat masuknya bakteri patogen ke dalam tubuh melalui konsumsi pangan yang telah tercemar bakteri. Untuk dapat menimbulkan gejala sakit jumlah bakteri yang tertelan harus memadai. Hal ini dinamakan dosis infeksi. Beberapa bakteri patogen yang dapat menginfeksi tubuh melalui pangan sehingga menimbulkan sakit diantaranya adalah Salmonella sp., Clostridium perfringens, dan Enterohaemorragic Escherichia coli (EHEC).

a. Salmonella sp.; merupakan bakteri Gram-negatif, bersifat anaerob fakultatif, berbentuk batang bergerak dan tidak menghasilkan spora. Termasuk kelompok Enterobacteriaceae. Salmonella sp. tumbuh optimum pada suhu 35°C sampai 37°C, memecah berbagai jenis karbohidrat menjadi asam dan gas, dapat menggunakan sitrat sebagai satu-satunya sumber karbon, memproduksi H2S serta mendekarboksilasi lisin dan ornitin masing-masing menjadi kadaverin dan putresin. Mikroba ini bersifat oksidase negatif dan katalase positif. Salmonella  sp. dapat ditemukan pada bahan pangan mentah seperti telur dan daging ayam mentah serta akan bereproduksi apabila proses pamasakan tidak sempurna. Penyakit yang diakibatkan oleh bakteri Salmonella sp. disebut salmonellosis. Cara penularan yang utama adalah dengan menelan bakteri dalam pangan yang berasal dari pangan hewani yang terinfeksi misalnya daging. Pangan juga dapat terkontaminasi oleh orang yang menangani pangan yang terinfeksi, binatang peliharaan, lalat, atau melalui kontaminasi silang akibat higiene yang buruk. Penularan dari satu orang ke orang lain juga dapat terjadi selama infeksi. Salmonella sp. penyebab gastroenteritis ditandai dengan gejala-gejala yang umumnya nampak 12-36 jam setelah makan bahan pangan yang tercemar. Gejala-gejalanya antara lain diare, sakit kepala, muntah-muntah, dan demam. Gejala dapat berakhir selama 1-7 hari. Lokasi terdapatnya jenis mikroorganisme ini adalah pada alat-alat pencernaan hewan ternak. Oleh karena itu praktik penyembelihan hewan dan penanganan karkas/daging di rumah potong harus dilakukan secara higienis untuk meminimalisir kontaminasi. Ternak dapat tertular melalui padang rumput maupun pakan yang diberikan seperti tepung ikan, tepung daging maupun tepung tulang yang tercemar. Demikian juga selama proses penyembelihan dan penanganan karkas/daging terjadi pencemaran silang dari karkas yang tercemar ke karkas yang masih bersih melalui peralatan dan air pencucian. Oleh karena itu kondisi karkas/daging yang tercemar oleh Salmonella sp. lebih banyak sesudah proses penyembelihan daripada sebelumnya. Tingkat pencemaran Salmonella sp. pada karkas/daging yaitu jumlah sel per karkas, umumnya rendah dimana jumlah yang ada tidak cukup sebagai satu dosis infeksi yang biasanya sekitar 105-106 sel. Namun demikian, pencemaran dalam jumlah rendah ini tetap memberikan bahaya yang cukup besar bagi kesehatan masyarakat akibat pemasakan yang kurang sempurna dari produk tersebut kemudian akan mengakibatkan perkembangan sel-sel Salmonella sp. sampai pada tingkat dapat menimbulkan penyakit karena pengolahan yang salah. Keracunan pangan karena Salmonella sp. terutama berhubungan dengan daging sapi dan ayam yang baru dimasak yang oleh karena sesuatu hal telah dimasak kurang sempurna dan salah pengolahannya sebelum dikonsumsi. Gejala keracunan pada kebanyakan orang yang terinfeksi Salmonella sp. adalah diare, kram perut, dan demam yang timbul 8-72 jam setelah mengkonsumsi pangan yang tercemar. Gejala lainnya adalah menggigil, sakit kepala, mual, dan muntah. Gejala dapat berlangsung selama lebih dari 7 hari. Banyak orang dapat pulih tanpa pengobatan, tetapi infeksi Salmonella sp. ini juga dapat membahayakan jiwa terutama pada anak-anak, orang lanjut usia, serta orang yang mengalami gangguan sistem kekebalan tubuh. Penanganannya untuk pertolongan dapat diberikan cairan untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang. Lalu segera bawa korban ke puskesmas atau rumah sakit terdekat.

b. Clostridium perfringens;merupakan bakteri Gram-positif yang dapat membentuk spora, bersifat anaerobik dan berbentuk batang yang tidak bergerak. Bakteri ini terdapat di tanah, usus manusia dan hewan, daging mentah, unggas, dan bahan pangan kering. Clostridium perfringens dapat menghasilkan enterotoksin yang tidak dihasilkan pada makanan sebelum dikonsumsi tetapi dihasilkan oleh bakteri di dalam usus. Gejala keracunan dapat terjadi sekitar 8-24 jam setelah mengkonsumsi pangan yang tercemar bentuk vegetatif bakteri dalam jumlah besar. Di dalam usus, sel-sel vegetatif bakteri akan menghasilkan enterotoksin yang tahan panas dan dapat menyebabkan sakit. Gejala yang timbul berupa nyeri perut, diare, mual, dan jarang disertai muntah. Gejala dapat berlanjut selama 12-48 jam, tetapi pada kasus yang lebih berat dapat berlangsung selama 1-2 minggu (terutama pada anak-anak dan orang lanjut usia). Untuk penanganannya, tidak ada penanganan spesifik kecuali mengganti cairan tubuh yang hilang. Tindakan pengendalian khusus terkait keracunan pangan akibat bakteri ini bagi rumah tangga atau pusat penjual makanan antara lain dengan melakukan pendinginan dengan suhu yang tepat pada produk pangan matang dan pemanasan ulang yang benar dari masakan sebelum dikonsumsi.

c. Escherichia coli;Bakteri Escherichia coli merupakan mikroflora normal pada usus kebanyakan hewan berdarah panas. Bakteri ini tergolong bakteri Gram-negatif, berbentuk batang, tidak membentuk spora, kebanyakan bersifat motil (dapat bergerak) menggunakan flagela, ada yang mempunyai kapsul, dapat menghasilkan gas dari glukosa, dan dapat memfermentasi laktosa. Kebanyakan strain tidak bersifat membahayakan, tetapi ada pula yang bersifat patogen terhadap manusia seperti Enterohaemorragic Escherichia coli (EHEC). Escherichia coli tipe O157:H7 merupakan tipe EHEC yang terpenting dan berbahaya terkait dengan kesehatan masyarakat. Escherichia coli dapat masuk ke dalam tubuh manusia terutama melalui konsumsi pangan yang tercemar misalnya daging mentah, daging yang dimasak setengah matang, susu mentah, dan cemaran fekal pada air dan pangan. Gejala penyakit yang disebabkan oleh EHEC adalah kram perut, diare, pada beberapa kasus dapat timbul diare berdarah, demam, mual, dan muntah. Masa inkubasi berkisar 3-8 hari, sedangkan pada kasus sedang berkisar antara 3-4 hari.

Penanganan dan pencegahan cemaran mikroorganisme pada daging dan produk olahannya dapat dilakukan dengan menerapkan praktek higienis atau Good Hygiene Practice (GHP) untuk memenuhi konsepsafe from farm to table serta kontrol terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhannya misalnya pengendalian terhadap temperatur, pH, aw, keadaan lingkungan atmosfir, dan mikroba kompetitor. Dengan melakukan upaya pencegahan cemaran mikroorganisme dan penanganan yang baik pada daging dan produk olahannya,diharapkan diperoleh sumber protein hewani yang aman, sehat, utuh, dan halal (ASUH) sehingga aman dan layak dikonsumsi bagimasyarakat. (Artikel ini disarikan dari berbagai sumber). Semoga bermanfaat (red'17)

WASPADAI ANCAMAN INFEKSI VIRUS ZIKA DI INDONESIA

WASPADAI ANCAMAN INFEKSI VIRUS ZIKA DI INDONESIA

oleh : Drh. Devi Yanti Sari

Zika virus pertama kali diidentifikasi pada tahun 1947 di Uganda Afrika. Nama Zika berasal dari sebuah hutan di Uganda Afrika. Pada tahun 1952 kasus Zika Virus pertama kali didiagnosa pada manusia. Setelah itu kasus Zika virus dilaporkan terjadi di beberapa negara Afrika, Asia tenggara dan Pulau  Fasifik. Sebelum tahun 2007 setidaknya 14 kasus telah dilaporkan. Penyebaran virus Zika telah menyebar hinggaAmerika Selatan, Afrika, kepulauan pasifik dan Singapura. Berdasarkan laporan WHO hingga tanggal 8 September 2016 telah terjadi lebih dari 250 kasus virus Zika di Singapura.

Zika virus termasuk ke dalam golongan Famili Flaviviridae dan Genus Flavivirus, dan memiliki persamaan dengan virus dengue, yellow fever, Japanese encephalitis dan West Nile Virus. Virus Zika merupakan virus RNA memiliki envelope dan berbentuk icosahedral dan non segmen. Terdapat dua strain Zika virus yaitu strain Afrika dan strain Asia. Virus ini disinyalir menjadi salah satu penyebab kejadian microcephaly, dan dihubungkan dengan kejadian penyakit Guillain-Barré syndrome. Guillain-Barré syndrome merupakan penyakit yang ditandai dengan kelemahan otot di beberapa bagian tubuh akibat autoimunitas yang merusak sistem saraf perifer. Penyakit ini dapat menyebabkan paralysis yang berujung pada kematian.

197-Zika Virus-ZikaVirus.tif

Gambar virus Zika (Goodsell, D)

Penularan virus zika melalui gigitan nyamuk Aedes (A. Aegepty dan A. Albopticus). Penularan juga bisa terjadi dari ibu hamil ke janin (transplacenta). Infeksi saat kehamilan dapat menyebabkan cacat pada janin. Selain itu virus zika bisa menular melalui hubungan seksual dan transfusi darah.

Gejala infeksi zika virus pada umumnya mirip dengan penyakit ringan lainnya. Gejala yang terjadi bersifat ringan seperti demam, ruam kulit, sakit pada persendian, conjunctivitis (mata merah), nyeri otot dan sakit kepala. Sehingga sulit dibedakan dengan penyakit lain yang ditularkan melalui nyamuk seperti demam berdarah dengue (DBD) dan cikungunya. Gejala bisa berlangsung selama beberapa hari sampai satu minggu. Angka mortalitas (kematian) umumnya rendah. Jika seseorang pernah terinfeksi akan terbentuk kekebalan terhadap virus Zika.

Infeksi virus Zika saat kehamilan dapat menyebabkan cacat pada otak seperti microcephaly dan beberapa kelainan otak lainnya pada janin atau bayi seperti cacat pada mata, pengurangan pendengaran, dan pertumbuhan abnormal. Hal ini yang menyebabkan infeksi virus ini begitu ditakuti pada ibu hamil. Bahkan beberapa negara seperti Amerika Serikat saat itu mengeluarkan Travel advisory (saran penundaan berpergian) pada tanggal 29 September 2016 bagi warga negaranya terutama ibu hamil ke 11 negara di Asia Tenggara termasuk Indonesia.  

Diagnosa Penyakit Zika berdasarkan sejarah berpergian, gejala klinis dan tes laboratorium. Uji Laboratorium dapat dilakukan melalui Nucleic Acid Testing (NAT Testing) seperti RT-PCR dengan sampel darah dan urin untuk pada pasien dengan onset gejala penyakit kurang atau sama dengan 7 hari. Selain dengan RT PCR deteksi juga dapat dilakukan dengan mendeteksi IgM pada pada pasien dengan onset gejala lebih dari atau sama dengan 7 hari. Sampai saat ini belum ada vaksin atau obat untuk penyakit akibat virus Zika. Sejauh ini pengobatan yang dilakukan bersifat symptomatis. Namun penelitian sedang dilakukan pada antibodi manusia yang terbentuk akibat infeksi virus Zika.

ZIKA MAN

Cara terbaik untuk mencegah penyakit ini adalah dengan pencegahan terhadap gigitan nyamuk dan pengendalian vektor melalui pemberantasan sarang nyamuk dan surveilans epidemiologi vektor secara berkala. Sama halnya dengan pencegahan terhadap kasus penyakit DBD pencegahan gigitan nyamuk dapat dilakukan diantaranya melalui penggunaan antinyamuk danpelindung terhadap nyamuk. Di Indonesia sendiri gerakan pemberantasan sarang nyamuk sudah dilakukan sejak dulu dengan gerakan 3M ditambah dengankegiatan pemantauan pertumbuhan jentik nyamuk oleh jumantik (juru pematau jentik) dengan melibatkan partisipasi masyarakat sendiri sebagai jumantik. Dalam rangka antisipasi dan kewaspadaan terhadap virus di wilayah bandara Soekarno-Hatta digunakan thermal card dan pemasangan lavatrap pada bulan September 2016.

Nyamuk rumah mampu bertahan hidup selama 14 hari pada suhu 20 derajat Celcius dan 10 hari pada suhu 25 derajat Celcius. Nyamuk ini mampu terbang sejauh 0,3 km hingga 2,5 km. Pada akhir musim hujan Aedes aegypti  populasinya berkembang pesat. Telur diletakan pada air bersih seperti bak kamar mandi, botol botol dan kaleng kaleng bekas. Namun nyamuk ini dapat pula bertelur setiap saat tanpa mengenal musim. Prinsip utama dalam pengendalian nyamuk adalah bagaimana memutuskan mata rantai atau siklus kehidupan nyamuk.

LARVITRAP

Gambar lavitrap (dok kemenkes)

Salah satu cara untuk mengendalikan nyamuk dengan memutus rantai metamorphosis hidup nyamuk yaitu menggunakan perangkap larvitrap. Lavitrap atau perangkap larva adalah tempat perindukan nyamuk buatan yang berfungsi menjadi tempat nyamuk Aedes bertelur. Setelah telur berkembang menjadi larva, kemudian larva bergerak ke dasar dan terperangkap di bawah kasa sehingga larva tersebut tidak bisa berkembang menjadi nyamuk dewasa dan akhirnya mati.                                                                          

Pada awal tahun 2017 infeksi virus Zika dilaporkan terjadi di Angola (Reuters). Berdasarkan laporan WHO terakhir (tanggal 10 Maret 2017) Zika virus masih menyebar ke negara-negara dimana ada vektor virus Zika berada. WHO, Badan penanggulangan penyakit di Amerika dan Eropa telah mengklasifikasikan Area Penyebaran Virus Zika. Kategori 1 area dimana terjadi kasus baru atau kejadian berulang dengan infeksi yang masih berlangsung, Kategori 2 area baik dengan bukti sirkulasi virus sebelum tahun 2015 atau area dengan transmisi yang terus berlangsung yang sudah tidak masuk kedalam fase infeksi baru atau berulang, tetapi masih belum ada bukti dari gangguan. Kategori 3 area dimana terjadi interupsi transmisi dan daerah dengan terjadinya transmisi di masa datang. Kategori 4 area dimana terbentuknya vektor kompeten tetapi tidak diketahui transmisi di masa lampau atau masa sekarang.

 DISTRIBUSI ziKA 1024x598

Gambar penyebaran dan distribusi virus Zika (sumber : WHO)

Indonesia sendiri masuk kedalam wilayah Kategori 2 menurut WHO. Pada 2015, Lembaga Biologi Molekular Eijkman melaporkan adanya spesimen darah yang menunjukkan positif Zika dari pasien yang menunjukkan gejala demam pada saat outbreak Demam Berdarah di Jambi. Namun hingga kini, belum ditemukan lagi adanya bukti transmisi atau penularan Zika di Indonesia. Kewaspadaan terhadap penyebaran infeksi virus zika ke Indonesia perlu ditingkatkan mengingat nyamuk Aedessebagai vektor dari penyakit ini ada di Indonesia. Selain itu di negara tetangga seperti Singapura telah dilaporkan kejadian kasus akibat infeksi virus Zika. Hal ini menyebabkan potensi penyebaran virus Zika ke Indonesia semakin besar.

DAFTAR PUSTAKA

CDC Amerika Keluarkan Travel Consideration terkait Zika http://www.depkes.go.id/article/view/16101200004/-cdc-amerika-keluarkan-travel-consideration-terkait-zika.html

Cegah Zika KKP Soeta Lakukan Pemasangan Lavitrap. http://www.depkes.go.id/article/view/16091500002/cegah-zika-kkp-soeta-lakukan-pemasangan-lavitrap-.html#sthash.gjQ8noKo.dpuf

Goodsell, D. S. "Zika Virus". RCSB Protein Data Bank. Research Collaboratory for Structural Bioinformatics (RCSB). doi:10.2210/rcsb_pdb/mom_2016_5. Retrieved 6 June 2016

"Angola reports first two cases of Zika virus". Reuters. 2017-01-11. Retrieved 2017-01-18.

Knipe, David M.; Howley, Peter M. (2007).Fields Virology(5th ed.). Lippincott Williams & Wilkins. pp. 1156, 1199.ISBN978-0-7817-6060-7.

Situation report zika virus microcephaly guillain-barré syndrome 8 september 2016 (data as of 7 september 2016). http://apps.who.int/iris/bitstream/10665/250049/1/zikasitrep8Sep16-eng.pdf?ua=1

Zika situation report. 10 March 2017. http://www.who.int/emergencies/zika-virus/situation-report/10-march-2017/en/

Zika Virus Overview. https://www.cdc.gov/zika/about/overview.html

HAMA GUDANG DALAM PENYIMPANAN PRODUK PETERNAKAN

Pendahuluan

Gudang penyimpanan produk peternakan secara umum merupakan ruangan yang digunakan sebagai tempat untuk penyimpanan barang sementara waktu untuk diperdagangkan. Secara umum gudang penyimpanan produk peternakan harus memenuhi persyaratan-persyaratan teknis tertentu. Ketentuan tentang sistem resi gudang secara umum diatur dalam Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2011. Persyaratan teknis gudang juga telah diatur berdasarkan peraturan menteri terkait. Persyaratan-persyaratan teknis gudang berbeda-beda sangat tergantung dari jenis produk yang akan disimpan. Gudang penyimpanan untuk produk hasil pertanian seperti beras, tepung, jagung dan lain-lain tentunya berbeda dengan gudang untuk penyimpanan produk peternakan segar maupun produk yang sudah diolah. Gudang yang digunakan harus memiliki identitas pemilik yang jelas, diskripsi produk, terpisah dari jenis produk yang berbeda, catatan proses waktu keluar masuknya barang, sistem pengamanan yang baik, memenuhi persyaratan teknis tertentu sehingga dapat menjamin kwalitas mutu produk yang disimpan.

Ketentuan persyaratan teknis gudang untuk penyimpanan produk asal hewan berupa daging beku, produk susu, madu, produk telur, produk olahan peternakan tentu berbeda. Misalnya persyaratan penyimpanan untuk produk segar yang cepat membusuk seperti daging, harus disimpan dalam gudang berpendingin (cold storage) yang telah dilengkapi dengan pengontrol suhu otomatis hingga -180C (chilled). Untuk penyimpanan frozen cukup menggunakan suhu hingga -40C. Suhu ruang gudang penyimpanan akan mempengaruhi waktu masa simpan produk, biasanya semakin dingin semakin baik. Menurut literatur penyimpanan daging beku pada suhu -180C bisa bertahan hingga 6 bulan, pada suhu simpan -230C dapat bertahan hingga satu tahun, dan pada suhu simpan -280C dapat betahan hingga lebih dari satu tahun. Namun demikian apakah semakin lama daging yang disimpan tersebut masih layak konsumsi? Tanggal kedaluarsa menjadi tolok ukur yang penting dalam penetapan masa simpan produk peternakan yang sudah ditetapkan dengan memperhatikan berbagai faktor. Cara penataan barang di dalam gudang peyimpanan juga perlu diperhatikan yang mana dapat mempengaruhi kualitas barang yang disimpan agar tetap dalam keadaan aman dan layak dikonsumsi. Penempatan daging beku menggunakan alas (palet) dengan diberikan jarak yang mencukupi antara rak dan dinding gudang. Sedangkan produk segar yang tidak dapat disimpan lama seperti telur dan susu harus segera didistribusikan dan tidak perlu disimpan dalam gudang mengingat produk tersebut mudah rusak kecuali olahan telur dan susu yang sudah mengalami proses tertentu. Bahkan  penyimpanan produk olahan peternakan ada yang cukup disimpan dalam suhu kamar yang stabil sebelum distribusikan.

Hama Gudang dan Dampaknya

Kebanyakan hewan renik yang menyebabkan kerugian bagi manusia dianggap sebagai hama. Berbagai macam hama gudang yang kita kenal selama ini yaitu rodentia/tikus, aves/burung, serangga (Coleoptera, jenis kupu, semut), jamur, kapang, dll. Serangga merupakan hewan yang memiliki populasi terbesar di muka bumi. Serangga sangat mudah beradaptasi dalam berbagai kondisi lingkungan dan memiliki peranan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Sebagian dari serangga dianggap sebagai pest/pengganggu oleh manusia terutama yang mendiami tempat tertentu di dalam rantai ekosistem seperti lahan pertanian, pemukiman, gudang, lumbung penyimpanan pakan dan produk, dll. Adanya jenis hama dalam gudang tentu berakhibat tidak baik terhadap produk yang disimpan di dalamnya. Dengan populasi tertentu akan mengakhibatkan tingkat kerusakan pada produk yang disimpan. Produk menjadi rusak dan tidak layak untuk dikonsumsi. Disamping dapat merusak produk yang disimpan beberapa hama gudang dapat berperan menjadi vektor mekanis pembawa agen penyakit seperti TBC, disentri, tipus, leptospira, pes, dll.

Hama gudang seperti serangga tidak dapat diberantas/dihilangkan sama sekali tetapi hanya dapat ditekan dalam ambang batas tertentu yang tidak membahayakan. Karena serangga memiliki daya adaptasi yang sangat luar biasa terhadap paparan insektisida. Penggunaan insektisida pada gudang peternakan tidak begitu direkomendaikan mengingat kontaminasi produk. Secara naluri beberapa serangga yang terkena paparan insektisida pada dosis  tertentu akan mati, namun beberapa masih dapat bertahan hidup dan akirnya melahirkan gen-gen baru tangguh yang bersifat resisten terhadap insektisida tertentu. Oleh karena itu langkah yang tepat dalam mengendalikan populasi hama gudang yaitu biosekuriti yang ketat dalam mempertahankan sterilitas gudang.

Pencegahan dan Pengendalian

Untuk melakukan pencegahan dan pengendalian hama gudang sebaiknya kita memahami agen apa yang ada dalam gudang tersebut. Prinsip pengendalian hama terpadu harus diterapkan yaitu meliputi melakukan identifikasi hama sasaran, memahami bioekologinya, menentukan cara/strategi pengendalian, menentukan jenis zat kimia yang digunakan (bila terpaksa harus dengan cara kimiawi) dan evaluasi/kontrol  terhadap program pengendalian yang sudah dilakukan. Pelaksanaan pengendalian pengendalian hama gudang dalam sebuah perusahaan dapat di lakukan sendiri atau melalui jasa pengendali pest. Begitu pula peletakkan peralatan dan bahan yang digunakan untuk pengendalian harus di letakkan dalam tempat tersendiri agar tidak mencemari produk yang disimpan. Pemilihan metode pengendalian dalam gudang penyimpanan makanan harus tepat, berbeda dengan gudang pada umumnya.

Metode pengendalian hama gudang harus aman baik terhadap manusia, produk yang disimpan dan lingkungan. Beberapa strategi pengendalian hama gudang diantaranya dengan cara fisik, kimia, dan biologi :

a. Pengendalian secara fisik; pengendalian hama dengan menggunakan alat manual, perangkap, listrik, radiasi, gelombang elektromagmentik dll. Metode ini bisa digunakan pada pengendalian tikus, kecoa, lalat, nyamuk, dll. Pengendalian ini banyak diterapkan pada gudang penyimpanan produk peternakan seperti dengan memasang perangkap elektrik dan pemasangan tirai udara pada pintu-pintu masuk/ventilasi yang strategis bagi hama. Pengendalian serangga dengan perekat untuk mencegah lalat dan semut dapat dilakukan.

b. Pengendalian kimia; pengendalian dengan menggunakan bahan kimia tertentu. Dalam hal ini tentunya dengan perlakuan khusus dan bahan yang digunakan dipilih yang aman. Sebagai contoh pengendalian hama gudang dengan cara fumigasi menggunakan CO2. Caranya gudang yang diberi lapisan kedap udara secara keseluruhan dan dipastikan tidak bocor. Gas CO2 di hembuskan pada ruangan tersebut dalam waktu tertentu. Gas ini tidak beracun bagi produk tetapi akan mematikan makluk yang ada didalamnya dalam jangka waktu tertentu. Untuk pengendalian hama tikus beberapa produk bahan kimia jadi telah dibuat, namun hati-hati dalam penggunaannya terutama disekitar lokasi gudang agar tidak mencemari produk. Akan lebih bijak pengendalian hama tikus disekitar gudang menggunakan cara fisik seperti perangkap.

c. Pengendalian biologi; pengendalian ini dianggap paling ramah lingkungan dan dapat menjaga keseimbangan ekosistem alam. Pengendalian biologi hama tikus misalnya dengan memperbanyak predator pemakan tikus berupa burung hantu dan ular. Hal ini pernah dilakukan di persawahan padi sehingga ekosistem rantai makanan di habitat tersebut dapat berjalan dalam keseimbangan. Tikus tidak lagi menyerang lumbung-lumbung padi yang merupakan gudang penyimpanan produk oleh petani. Pengendalian biologis pada serangga juga dapat dilakukan dengan membuat strain serangga jantan mandul (sterile male insect). Hal ini dapat mengurangi/menekan populasi serangga hama pada ambang batas tertentu seperti lalat. Demikian semoga bermanfaat @puguhRed-17.

AMANKAH KONSUMSI DAGING DARI TERNAK YANG TERTULAR RABIES?

Amankah Konsumsi Daging Dari Ternak Yang Tertular Rabies?

Oleh : Drh. Cut Desna Aptriana

Medik Veteriner Pertama, Subdit Zoonosis, Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner

Penyakit Rabies merupakan salah satu penyakit zoonotik yang menyerang susunan syaraf pusat dan termasuk dalam penyakit zoonotik prioritas di Indonesia.  hal ini dikarenakan rabies dapat bersifat fatal dan dapat menimbulkan kematian serta dampak psikologis bagi orang yang terpapar.  Penyakit ini ditularkan umumnya melalui gigitan hewan pembawa Rabies.Berdasarkan data OIE, Rabies tersebar luas dua pertiga negara di dunia dan merupakan ancaman secara global. Setengah dari populasi dunia tinggal di daerah endemik dan lebih dari 80% kematian terjadi di daerah pedesaan. Rabies menyebabkan hampir 60.000 orang per tahun Lebih dari 95% kasus rabies manusia disebabkan oleh gigitan anjing.

rabies

Gambar 1. Peta Penyakit Strategis Kabupaten Tahun 2015 (ISIKHNAS, 2015) 
                                          Keterangan: Merah : positif, Kuning : mungkin positif, Warna lainnya : tidak terlapor/tidak ada surveillans  

Di Indonesia, Tahun 2015 terdapat 25 provinsi tertular rabies dari 34 provinsi di Indonesia. Sebanyak sembilan provinsi lainnya bebas rabies, lima diantaranya provinsi bebas historis (Papua, Papua Barat, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, dan NTB), dan empat provinsi dibebaskan (Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan DKI Jakarta). Kasus kematian karena rabies (Lyssa) di tahun 2015 mengalami penurunan dari 195 pada tahun 2009 menjadi 118 kasus Lyssa pada tahun 2015. Namun, kasus GHPR mengalami peningkatan pada tahun 2015 menjadi sebesar 80.433 kasus. Banyak kasus rabies tidak terdiagnosis karena umumnya korban tidak atau terlambat memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

Hewan penular virus rabies antara lain anjing, kucing, kera, kelelawar, musang, dan serigala.3,7,8 Di Indonesia, umumnya hewan penular virus rabies adalah anjing (98%), kucing, dan kera.4,7 Penularan rabies pada manusia sebagian besar berasal dari air liur hewan yang masuk melalui gigitan, atau jilatan pada kulit lecet ataupun mukosa/ selaput lendir (mata, mulut, hidung, anus, genital). Walaupun jarang, dapat pula melalui transplan organ dari orang terinfeksi, dan udara yang tercemar virus rabies. Semua hewan berdarah panas termasuk manusia rentan terhadap rabies. Di Indonesia, hewan rentan terhadap rabies yang pernah dilaporkan adalah pada kerbau, kuda, kucing, leopard, musang, meong congkok, sapi dan kambing. Hewan tersebut adalah hewan piaraan kecuali musang. Tikus liar dan kelelawar dapat diinfeksi virus secara buatan di laboratorium dan kasus pada tikus liar pernah ditemukan di BPPV Bukit Tinggi Tahun 1991. Statistik menunjukkan bahwa penyebar rabies yang utama adalah anjing (92%), kucing (6%), dan kera (3%). 

Ternak yang tertular penyakit rabies memiliki gejala klinis yang hampir sama dengan gejala klinis rabies pada anjing yaitu takut cahaya, takut angin, takut keramaian, berliur berlebihan, sampai berubah perilaku menjadi agresif seperti sapi gila.. Pada sapi, akan menunjukkan gejala mencakar-cakar tanah, lari kesana kemari tidak tentu arah dan menandukkan kepalanya pada benda lain. Selain itu terdapat pula gejala lain seperti melenguh, nafsu makan menurun, lepas atau memutuskan tali ikatan, jatuh atau roboh, merejan, gigi gemeretak, malas, mata memerah, lari atau kabur, berputar-putar, memakan benda-benda di sekitarnya, paralisis penis, dan kencing atau berak sambil berlari (Faizah, et al 2012). Pada kuda, akan menunjukkan gejala eksitasi sehingga dapat dikelirukan dengan gejala kolik. Biasanya gejala rabies pada hewan diawali dengan agresifitas dan kemudian disusul dengan gejala paralisa (kelumpuhan).

Masa inkubasi rabies pada hewan bervariasi, hal ini tergantung dari jumlah virus ditularkan, strain virus, tempat gigitan (gigitan yang dekat dengan kepala memiliki masa inkubasi yang lebih pendek), imunitas inang dan sifat luka. Pada anjing, kucing dan musang memiliki masa inkubasi biasanya kurang dari 6 bulan. Kebanyakan kasus pada anjing dan kucing gejala klinis terlihat antara 2 minggu dan 3 bulan. Pada sapi dan kelelawar jenis vampir dilaporkan memiliki masa inkubasi 25 hari sampai lebih dari 5 bulan.

Rabies tidak termasuk dalam kategori zoonotic foodborne disease yaitu penyakit zoonotik yang ditimbulkan oleh pangan yang terkontaminasi agen penyakit. Penyakit zoonotik yang tergolong dalam kategori foodborne disesase seperti Bovine Spongioform Encelopathy, Anthraks, Avian Influenza dan masih ada beberapa penyakit lainnya. Meskipun rabies tidak termasuk dalam kategori zoonotic foodborne disease, ternak yang tertular penyakit rabies tidak disarankan untuk dikonsumsi. Hal ini dapat membahayakan untuk kesehatan manusia.

Titik kritis dari mengkonsumsi ternak yang tertular rabies adalah pada saat menangani ternak tersebut untuk disembelih, saat menangani daging dan jeroan dari ternak tersebut dan saat mengolah dan memasak daging ternak tersebut.  Pada saat menangani ternak untuk disembelih dan saat penanganan daging dan jeroan ternak yang tertular dikhawatirkan air liur, susunan syaraf dan otak ternak yang telah terjangkit rabies tersebut dapat masuk ke tubuh manusia yang menanganinya melalui luka atau selaput lendir. Mekanisme penularan paling umum adalah melalui inokulasi perifer virus setelah gigitan hewan yang terinfeksi rabies. Selanjutnya, terjadi replikasi di jaringan perifer, sehingga virus tersebar di sepanjang saraf perifer dan medula spinalis menuju ke otak, kemudian terjadi diseminasi dalam Sistem Syaraf Pusat dan virus menyebar secara sentrifugal dari Sistem Syaraf Pusat menuju ke berbagai organ, termasuk kelenjar ludah.

rabies 1

Pada saat pengolahan dan pemasakan daging ternak yang tertular rabies dikhawatirkan dapat menularkan ke manusia dikarenakan proses pengolahan dan pemasakan yang tidak sempurna. Virus rabies bersifat labil dan tidak viable bila berada diluar inang. Virus menjadi tidak aktif bila terpapar sinar matahari, sinar ultraviolet, pemanasan 1 jam selama 50 menit, pengeringan, dan sangat peka terhadap pelarut alkalis seperti sabun, desinfektan, serta alkohol 70%. Dengan demikian, ternak yang tertular rabies tidak disarankan untuk dikonsumsi dan sebaiknya dilakukan pemusnahan. Daging tersebut tidak bersifat aman dan sehat untuk manusia sehingga tidak layak dikonsumsi.

 

Daftar Pustaka:

1.    Isikhnas. Peta Penyakit Strategis Kabupaten. 2017. [cited 2017 June 2]. Available from: www.isikhnas.com
2.    Kementerian Kesehatan RI. Profil kesehatan indonesia tahun 2015 [Internet]. 2015 [cited 2017 June 2]. Available from: http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/profil-kesehatan-indonesia/profil-kesehatan-Indonesia-2015.pdf
3.    Purnamasari, L & K.A  Darma Putra. Pengendalian dan Manajemen Rabies pada Manusia di Area Endemik. 2017. CDK-248/ vol. 44  no. 1  th. 2017.
 

REPORTASE Seminar Bulanan Tentang Sapi Sawit dan Penggunaan Antibiotik Growth Promotor (AGP) di Puslitbangnak, Bogor

REPORTASE Seminar Bulanan Tentang Sapi Sawit Dan Penggunaan Antibiotic Growth Promotor (AGP) di Puslitbangnak, Bogor

Seminar ini diselenggarakan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Kementerian Pertanian RI pada tanggal 24 Maret 2017 dengan tema Pengaruh Pakan Berbasis Sawit Terhadap Kualitas Karkas Sapi Bali disampaikan oleh Noor Hudhia Krishna S.Pt. M.Si. (Lolit Sapo) dan Perkembangan Penggunaan Antibiotik Growth Promotor (AGP) Secara Global dan Peluang Pemanfaatan Produk Lokal Sebagai Penggantinya disampaikan oleh Prof. Dr. Amold P. Sinurat (Balitnak).Dengan seminar ini diharapkan dapat menambah wawasan di bidang peternakan bagi yang membutuhkan. Peternakan yang berkonsep green farming di era modern menjadikan salah satu pilihan yang bijak karena mengedepankan prinsip keamanan produk peternakan. Konsep peternakan yang baik juga selalu menjaga keseimbangan alam antara hewan, manusia, dan lingkungan.

a. Pengaruh Pakan Berbasis Sawit Terhadap Kualitas Karkas Sapi Bali

Hal yang melatarbelakangi penelitian ini adalah banyaknya potensi sumberdaya lokal yang belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Menggali potensi hasil produk peternakan berupa karkas daging sapi bali yang diberi pakan dominan hasil samping kelapa sawit berupa daun/pelepah (hasil kebun) serta bungkil kelapa sawit (hasil samping industri). Penelitian ini mungkin dapat memberikan jawaban terhadap adanya anggapan bahwa sapi yang diberikan pakan berupa hasil samping perkebunan kelapa sawit memberikan hasil produksi yang buruk baik terhadap kualitas maupun kuantitasnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan informasi tentang kuantitas dan kualitas karkas serta daging sapi potong yang digemukkan menggunakan pakan berbasis hasil samping tanaman sawit. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu memberikan perlakuan pada tiga kelompok sampel ternak sapi bali yang diperlakukan sebagai kontrol (dengan pakan penggemukan standar), pakan berbasis sisa hasil agroindustri sawit dan pakan berbasis sisa hasil agroindustri sawit (optimal). Data hasil penelitian dilakukan analisis sidik ragam (anova) dengan selang kepercayaan 95%. Apabila terdapat perbedaan dilanjutkan dengan Uji Duncan.

collage-1490772433666

Sapi bali, pelepah daun sawit dan bungkil sawit

Dari hasil pengamatan tersebut dapat disimpulkan bahwa pemberian pakan dengan kualitas marginal (pakan hasil samping pertanian kelapa sawit) yang memiliki kadar serat tinggi seperti daun/pelepah kelapa sawit membutuhkan waktu yang lebih lama bagi ruminansia untuk beradaptasi mengkonsumsinya dibanding pemberian pakan normal (rumput/konsentrat). Kebutuhan konsumsi pakan akan naik perlahan seiring dengan kemampuan adaptasi dan lamanya pemberian pakan. Perbedaan kualitas pakan (nutrien makro), pada metode pemeliharaan yang singkat ini (penggemukan sapi sawit) secara umum tidak cukup mempengaruhi kuantitas karkas dan parameter kualitas daging yang dihasilkan. Parameter kualitas daging tersebut meliputi ; keliling otot longisimus dorsi, moisture, PH, marbling dan warna daging, kadar air, dan lemak. 

b. Perkembangan Penggunaan Antibiotic Growth Promotor (AGP) Secara Global Dan Peluang Pemanfaatan Produk Lokal

Hal yang menjadi latar belakang penelitian ini adalah tantangan industri peternakan untuk menghasilkan produk hewan yang aman meliputi cara mendapatkan pakan ternak yang aman, kebutuhan industri pakan ternak yang mempengaruhi harga pakan dan semakin tingginya polusi limbah ternak. Oleh karena itu tindakan singkat yang diambil kebanyakan pelaku usaha dibidang peternakan saat ini adalah memberikan bahan imbuhan pakan. Bahan imbuhan pakan adalah bahan yang tidak mengandung zat gizi tetapi digunakan untuk tujuan tertentu, sedangkan bahan pelengkap pakan adalah bahan yang mengandung zat gizi yang dibutuhkan oleh ternak. Imbuhan pakan bermanfaat untuk meningkatkan produktifitas dan efisiensi pakan (menekan biaya produksi). Menurut literatur sejarah penggunaan AGP berawal dari penggunaan ampas fermentasi chlortetrasiklin dari awal tahun 1940-an yang digunakan pakan ayam sehingga ayam menjadi tumbuh lebih cepat. Dengan berkembangnya dunia peternakan penggunaan bahan imbuhan pakan berkembang sampai saai ini tanpa mempedulikan efek negatifnya yang akan timbul.

collage-1490772337357

 

Bahan bioaktif tanaman sebagai antibakteri (cangkang jambu mete),

antifungi (daun cengkeh), dan imunnomodulator (daun meniran)

Bahan imbuhan pakan digunakan dengan mekanisme kerja yang berbeda-beda. Dampak penggunaan AGP yaitu residu dalam jaringan dan resistensi antibiotik akibat penggunaan antibiotik yang salah (kedaluarsa, efektifitas berkurang, tidak tepat dosis). Secara global ada kencenderungan mengurangi penggunaan AGP bahkan melarang/membatasi ternasuk Indonesia. Bahan imbuhan pakan yang baik adalah sesuai dengan keinginan konsumen, efektif, efisien, aman bagi ternak, konsumen, dan lingkungan. Jenis antibiotik yang diijinkan sampai saat ini diatur dalam kepmentan nomor 806 tahun 1994 tentang klasifikasi obat hewan. Dalam penggolongannya dikelompokan menjadi tiga ketegori yaitu obat keras, obat bebas terbatas dan obat bebas.

Sedangkan kategori jenis bahan imbuhan pakan yang telah digunakan di Indonesia saat ini adalah antibiotik, bioaktif tanaman, prebiotik, probiotik, enzim, dan bahan organik. Bahan alternatif yang dapat sebagai pengganti AGP meliputi probiotik, prebiotik, atau gabungan pro-prebiotik (simbiotik), enzim, herbal, asam organik, antipeptida dan antimicrobial peptide. Bahan lokal seperti bioaktif tanaman dan enzim produk lokal memiliki peluang untuk menggantikan AGP di Indonesia. Alternatif pendekatan penggunaan bioaktif tanaman yang dilakukan Balitbangnak dalam penelitian ini salah satu contohnya mengkombinasikan tiga fungsi penting bioaktif tanaman sebagai formula yang lengkap sebagai antibakteri (cuka asap cangkang jambu mete), antifungi (daun cengkeh) dan imunnomodulator (daun meniran). Dengan menggunakan formula yang alami tersebut diharapkan mampu menggantikan AGP yang beredar saat ini yang memiliki efek lebih baik terhadap produk ternak, manusia, dan lingkungan serta dapat diproduksi secara massal. Semoga bermanfaat (puguh@red-17).

 

Sekapur Sirih 

Drh. Syamsul Maarif M.Si

Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh,

Kami dengan rasa gembira menyambut partisipasi Anda di situs web kami. Sejalan dengan semakin berkembangnya tuntutan masyarakat terhadap fungsi dan peran Kesehatan Masyarakat Veteriner serta seiring kemajuan teknologi informasi saat ini maka situs ini akan kami gunakan untuk melayani dan menghubungkan Anda dengan Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Read more: Sekapur Sirih

 

Polling Kesmavet 

Menjadi Direktorat yang Mampu Mewujudkan Pelayanan Kesehatan Masyarakat Veteriner Profesional dalam Menjamin Kesehatan dan Ketentraman Bathin Masyarakat.

Visi Kesmavet-Paspa

Pengunjung 

We have 41 guests and no members online

Video 

Pengelolaan dan Pelaksanaan Kurban Yang Benar, Aman, dan Nyaman ------------------------------------------------------------- Cara Memilih Hewan Kurban Yang Baik ------------------------------------------------------------- Metode Perobohan dan Pemotongan Hewan (Sapi) ------------------------------------------------------------- Desain Fasilitas Pemotongan Hewan Kurban(Portable) ------------------------------------------------------------- Pemeriksaan Antemortem Postmortem ------------------------------------------------------------- Kesejahteraan Hewan Kurban ------------------------------------------------------------- Nomor Kontrol Veteriner (NKV) ------------------------------------------------------------- Dialog Penerapan Kesejahteraan Hewan ------------------------------------------------------------- Waspada Penyakit Zoonosis ------------------------------------------------------------- Ayam dan Hormon ------------------------------------------------------------- Penggunaan Antimikrobial Yang Bijak -------------------------------------------------------------

Sebaran Pengunjung