Pencarian 

Tulisan Ilmiah Populer

Media Website Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner menerima tulisan yang dikirim ke alamat redaksi melalui email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. . Tulisan bersifat orisinil, aktual dan informatif tentang kesehatan masyarakat veteriner diketik rapi 1,5 spasi. Panjang tulisan 2-3 halaman diketik format *.doc(words file) maksimal 7000 karakter termasuk spasi. Foto pendukung minimal 2 buah  dengan ukuran masing-masing maksimal sebesar 2MB. Sebelum diterbitkan tulisan di review dan disunting oleh Tim redaksi tanpa merubah isinya.  Perlu kami sampaikan sebelumnya pengiriman tulisan gratis dan tidak tersedia honor bagi penulis. 

PENGARUH CUACA EXSTREM TERHADAP KESEJAHTERAAN HEWAN

Pengaruh Cuaca Extrem Terhadap Kesejahteraan Hewan

Oleh : Puguh Wahyudi

Fungsional Medik Veteriner, Direktorat Kesmavet, Ditjennak

Perubahan suhu lingkungan merupakan salah satu faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi kesehatan bagi ternak. Perubahan suhu lingkungan yang ekstrem dapat mengakibatkan stress panas (heat strees) dan strees dingin (cold strees) bagi ternak. Kondisi stress panas atau dingin yang terjadi pada tubuh hewan dapat dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal berupa jenis hewan ternak, usia, kondisi tubuh, tingkat metabolisme, dan warna bulu serta kepadatan (density) pemeliharaan ternak dalam suatu peternakan dapat mempengaruhi tingkat kejadian heat stress (OIE, 2015). Faktor eksternal misalnya; suhu udara, kelembaban, dan kecepatan angin (Yani dan Purwanto, 2006).

Pemilihan Lokasi Peternakan

Salah satu pertimbangan lokasi yang dipilih sebagai lahan untuk usaha peternakan yaitu daerah yang memiliki potensi sumber bahan pakan dan air yang cukup melimpah begitu pula akses jalan yang dilalui penting untuk transportasi kebutuhan ternak. Oleh karena itu diperlukan sumber daya alam dan manusia yang baik untuk dapat mewujudkan peternakan yang terintegrasi sehingga usaha peternakan berhasil dengan optimal. Pemilihan bibit ternak yang akan dipelihara harus sesuai dengan keadaan lingkungan dan tujuan pemeliharaan. Ternak ruminansia yang dipelihara dengan tujuan tertentu misalkan ternak sebagai penghasil daging dan susu. Pemeliharaan ternak yang baik harus memperhatikan aspek kesejahteraan hewan. Aspek tersebut pada prinsipnya adalah memperlakukan hewan seperti layaknya manusia. Artinya prinsip five freedom for animals harus dipegang dengan baik yaitu bebas dari rasa haus dan lapar; bebas dari rasa tidak nyaman; bebas dari sakit, luka/cedera, penyakit; bebas dari rasa takut dan tertekan; bebas mengekspresikan perilaku normal dan alamiah. Dengan menerapkan lima prinsip tersebut diharapkan hewan menjadi sejahtera sehingga mendapatkan hasil yang optimal.

pict 1

 

Gambar 1. Alas Jerami Kering Memberikan Rasa Aman dan Nyaman Bagi Pedet

Beberapa wilayah di Indonesia adalah daerah pegunungan dimana gunung masih aktif mengeluarkan lava dan abu vulkanik sehingga membuat lereng pegunungan menjadi lahan yang sangat subur untuk berbagai jenis rumput dan tanaman. Jenis bahan pakan yang tersedia berupa rumput yang bervariasi, tanaman leguminoceae (kacang-kacangan) dan tanaman lain. Dengan sumber daya geografis dan musim yang dimiliki tersebut Indonesia tidak begitu bermasalah dengan kondisi cuaca yang berbeda kecuali terjadi bencana alam (erupsi gunung meletus/banjir di wilayah tertentu). Indonesia hanya memiliki dua musim yaitu musim kemarau dan penghujan. Musim yang cukup dikawatirkan adalah kemarau panjang yang dapat berdampak pada kekeringan lahan bahkan memicu terjadinya kebakaran lahan. Disisi lain dengan musim kemarau yang sangat panjang ternak akan kesulitan mendapatkan air dan pakan. Tidak seperti halnya di Negara Luar negeri yang memiliki empat musim (semi, panas, gugur, dan dingin). Negara-negara tersebut biasanya berada di daerah subtropis yang memiliki perbedaan variasi suhu yang cukup drastis.

Untuk menghadapi ancaman perubahan musim secara global di Indonesia metode pemeliharaan ternaknya harus juga disesuaikan. Biasanya ternak yang mendapat dampak cuaca ekstrem secara langsung adalah ternak yang dipelihara dengan sistem outdoor (padang penggembalaan) meskipun indoor juga mendapatkan akibatnya. Untuk ternak yang dipelihara dengan sistem indoor pemeliharaannya lebih mudah dimanipulasi/diatur karena area cukup terbatas. Ternak  ini memerlukan air yang berlimpah di terik cuaca yang panas disisi lain rumput-rumput sekitar sebagai bahan pakan telah mengering. Oleh karena itu di padang rumput harus dibuatkan kantong-kantong penampungan air atau tempat-tempat minum yang dialirkan secara berlebih. Disamping itu diperlukan tanaman peneduh atau naungan untuk berteduhnya ternak dari terik matahari sehingga tidak mengakhibatkan dehidrasi pada ternak. Kita ketahui bahwa hewan besar seperti sapi diperkirakan memiliki jarak tempuh jalan kaki (tracking) maksimal dalam sehari sejauh 30km sedangkan kambing/domba hingga 24 km dalam kondisi fit. Ini artinya dalam padang yang luas tersebut harus tersedia kantung-kantung air dan sumber minumnya ternak sambil beristirahat dalam jarak yang dapat terjangkau oleh ternak.

pict 3

Gambar 2. Sapi Di Padang Penggembalaan Musim Kering

Kebanyakan pemeliharaan peternakan rakyat di Indonesia biasanya hanya dikandangkan di halaman rumah pemiliknya atau di letakkan disuatu tempat secara bersama dalam satu kelompok ternak.  Dengan demikian tidak begitu kesulitan dalam pemberian makanan dan cara pengawasannya. Bangsa sapi yang dipelihara juga perlu disesuaikan dengan iklim yang sesuai. Jenis-jenis bangsa sapi yang cocok untuk daerah tropis seperti sapi Ongole, Peranakan Ongole, sapi Brahman, sapi Bali, sapi Madura, sapi Aceh dan sapi-sapi hasil persilangan. Sedangkan untuk daerah dingin biasanya cocok untuk sapi Charolais, FH atau PFH, Aberden angus, simetal, limosin, shorthorn, dan jenis-jenis sapi yang memiliki dual purpose.

Sebagai contoh pada pemeliharaan sapi FH dengan suhu udara dan kelembaban di Indonesia yang umumnya tinggi (24 – 34 oC dan kelembaban 60 - 90%), akan sangat mempengaruhi tingkat produktivitas sapi FH. Pada suhu dan kelembaban tersebut, proses penguapan dari tubuh sapi FH akan terhambat sehingga mengalami cekaman terhadap panas. Pengaruh akibat cekaman panas adalah : 1) penurunan nafsu makan; 2) peningkatan konsumsi minum; 3) penurunan metabolisme dan peningkatan katabolisme; 4) peningkatan pelepasan panas melalui penguapan; 5) penurunan konsentrasi hormone dalam darah; 6) peningkatan temperatur tubuh, respirasi dan denyut jantung, dan 7) perubahan tingkah laku seperti meningkatnya intensitas berteduh sapi (Yani dan Purwanto, 2006).

Pencegahan heat stress dan cold stress

Kondisi stress panas dapat dicegah dengan pemberian peneduh pada area kandang ternak, penyediaan akses air minum untuk ternak, dan penyemburan air dengan sprayer sehingga dapat mengurangi panasnya udara. Mencegah stress panas di padang rumput  dapat dilakukan dengan menanam tanaman pelindung sehingga dapat digunakan ternak sebagian tempat berteduh(OIE, 2012). Gejala yang nampak akhibat stress panas yaitu terjadi perubahan perilaku, nafas terengah-engah (panting), angka kesakitan bertambah dan meningkatnya mortalitas (kematian).

pict 2

Gambar 3. Atap Kandang Dapat Mengurangi Kejadian Stress Panas dan Stress Dingin 

Stress dingin tidak menutup kemungkinan terjadi dalam situasi iklim yang tak menentu. Kondisi stress dingin paling dirasa menyerang pada pedet/anak sapi yang baru lahir (neonatus) (OIE, 2012) karena bulu pedet dan organ-organ lainnya belum tumbuh secara sempurna. Gejala yang nampak akibat stress dingin yaitu perubahan perilaku (penampilan fisik), postur yang abnormal, menggigil, berkerumun, dan meningkatnya jumlah kematian. Stres dingin pada anakan sapi dapat di cegah dengan membuatkan kandang perlindungan untuk pedet. Pencegahan stress dingin pada ternak dewasa dapat dijaga dengan memperhatikan ketersediaan/asupan pakan dan minum yang cukup. Kita ketahui bersama bahwa salah satu faktor utama penentu keberhasilan dalam usaha peternakan adalah kecukupan pakan sesuai dengan kebutuhan ternak disamping faktor pendukung lain seperti genetik sapi, penyakit, metode pemeliharaan, faktor lingkungan, dll. Demikian semoga bermanfaat (Red-17).  

Daftar Pustaka

1. Yani, A dan Purwanto, B.P. 2006. Pengaruh Iklim Mikro Terhadap Respons Fisiologis Sapi Peranakan Fries Holland dan Modifikasi Lingkungan Untuk Meningkatkan 

                      Produktivitasnya. Media Peternakan. 29:1; 35-46.

2. Office International Des Epizootica (OIE). 2012. Animal welfare and beef cattle production systems, Chapter 7.9. Pp.1-13.

3. Office International Des Epizootica (OIE). 2015. Animal welfare and dairy cattle production systems, Chapter 7.11. Pp.1-14.

PROSES ANAEROBIK SEBAGAI ALTERNATIF UNTUK MENGOLAH LIMBAH CAIR RUMAH POTONG HEWAN RUMINANSIA

 PROSES ANAEROBIK SEBAGAI ALTERNATIF UNTUK
MENGOLAH LIMBAH CAIR RUMAH POTONG HEWAN RUMINANSIA
Oleh:
Drh. Anis Trisna Fitrianti, MSi - Medik Veteriner Muda

Rumah Potong Hewan Ruminansia (RPH-R) selain menghasilkan daging tentunya juga menghasilkan limbah. Limbah RPH-R terdiri atas limbah cair dan limbah padat. Limbah RPH-R sebagian besar berupa limbah organik yang mengandung protein, lemak, dan karbohidrat yang cukup tinggi sehingga berpotensi sebagai pencemar lingkungan (Manendar 2010). Limbah RPH-R yang tergolong limbah organik yaitu feses, isi rumen dan usus, urine, darah, dan lemak yang apabila tidak ditangani dengan baik akan berpotensi mencemari karkas atau daging dan bahkan lingkungan sekitar. Limbah padat seperti feses, isi rumen, dan sisa pakan umumnya dimanfaatkan kembali sebagai pupuk kandang. Limbah cair yang dihasilkan dari RPH-R sebagian besar dihasilkan dari air pembersihan ruang pemotongan, air pembersihan rumen dan usus, air pembersihanan kandang ternak, dan darah. Jumlah limbah cair yang dihasilkan dari proses pemotongan sapi berkisar 300 – 400 m3 per ekor sapi (Padmono 2005). Jumlah ini akan sangat tinggi apabila suatu RPH-R melakukan pemotongan hewan dengan jumlah yang cukup besar per harinya sehingga sistem pengolahan limbah yang benar harus diterapkan. Limbah cair RPH-R merupakan salah satu sumber pencemaran yang berpotensi dapat mencemari lingkungan karena memiliki tingkat COD, kandungan zat organik, dan BOD yang sangat tinggi sehingga pengelolaan limbah dapat menjadi tolok ukur baik buruknya pengelolaan suatu RPH-R. Oleh karena itu pengolahan limbah cair harus dilakukan dengan sangat baik agar pada saat dibuang ke lingkungan akuatik tidak akan menimbulkan masalah lingkungan yaitu pencemaran air yang dapat membahayakan kehidupan biotik, dimana manusia termasuk didalamnya. Pengolahan limbah cair secara anaerobik merupakan salah satu metode alternatif pengolahan limbah di RPH-R.
Limbah RPH-R mengandung senyawa organik yang dapat dirombak oleh mikroba dan dapat dikendalikan secara biologis. Pengendalian secara biologis dapat dilakukan dengan proses aerobik dan anaerobik. Proses aerobik biasanya digunakan untuk pengolahan limbah dengan beban organik yang tidak terlalu tinggi, sedangkan proses anaerobik digunakan umumnya untuk limbah dengan beban organik yang sangat tinggi. Limbah cair RPH-R merupakan limbah organik dengan perkiraan karakteristik nilai COD, zat organik, dan BOD yang sangat tinggi sehingga dalam pengolahannya dibutuhkan keterlibatan mikroorganisme sebagai faktor dominan dalam pengolahan limbah dengan beban bahan organik yang tinggi. Proses anaerobik umumnya digunakan untuk limbah cair dengan beban bahan organik yang tinggi, pengolahan lumpur, dan penyisihan NH3 pada proses denitrifikasi (Said & Firly 2005). Proses pengolahan limbah cair secara anaerobik adalah suatu metabolisme tanpa menggunakan oksigen dan dilakukan oleh bakteri anaerobik. Ciri khas dari proses secara anaerobik adalah terbentuknya gas metan (CH4). Selain itu proses anaerobik ini memiliki banyak keuntungan dan kelebihan dibandingkan proses aerobik.
Menurut Vegantara (2009), salah satu cara pengolahan limbah cair adalah dengan menggunakan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dengan sistem pencerna anaerob atau anaerob digester. Sistem pengolahan ini tidak memerlukan tempat yang luas serta memiliki biaya investasi yang lebih rendah, selain itu gas metan yang terbentuk selama proses fermentasi dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi baik sebagai bahan bakar ataupun dikonversi ke energi listrik. Kelebihan proses anaerobik adalah derajat stabilitas yang tinggi, produk lumpur buatan biologis rendah, kebutuhan nutrien rendah, dan dihasilkan gas metan yang dapat digunakan sebagai sumber energi.
Pengolahan limbah cair secara anaerobik dalam aplikasinya menggunakan media biofilter dalam reaktor anaerob. Media biofilter yang digunakan bertujuan untuk tempat melekatnya mikroorganisme sehingga berguna untuk perkembangbiakan mikroorganisme tersebut. Contoh proses pengolahan anaerobik yaitu sistem anaerobik filter atau dikenal juga dengan sebutan Fixed Bed Reactor atau Fixed Film Reactor. Fixed Bed Reactor adalah salah satu cara pengolahan limbah yang menerapkan proses biologis secara anaerob dengan menggunakan sistem pertumbuhan mikroorganisme melekat. Mikroorganisme tumbuh dan berkembang dengan menempel pada suatu media. Didalam reaktor dipilih sistem pertumbuhan mikroorganisme melekat pada media tumbuh dengan harapan distribusi mikroorganisme tersebar merata diseluruh reaktor tanpa bantuan energi (Padmono 2003).
Media yang digunakan bermacam-macam tetapi media yang baik adalah yang luas permukaannya (surface area) kira-kira 100 sampai 300 m2 per m3 volume yang ditempatinya. Pengolahan dengan sistem Fixed Bed Reactor ini lebih baik memilih media yang mempunyai luas permukaan yang besar dengan harapan hasilnya akan maksimal. Contoh media yang dapat digunakan misalnya tepung arang dan pasir, namun demikian biasanya media dengan butiran terlampau kecil akan memberikan tampilan yang baik selama beberapa hari saja. Selanjutnya dapat terjadi blocking atau penyumbatan yang diakibatkan oleh lapisan bakteri yang menempel dipermukaannya. Setelah terjadi penyumbatan, daya kerjanya akan menjadi kurang maksimal sehingga harus dilakukan pembongkaran untuk membersihkan biofilter ini yang tentunya merepotkan. Oleh karena itu, media harus diusahakan sedemikian rupa agar luas permukaannya cukup luas tetapi tidak sampai tersumbat atau terhambat.
Media tempat tumbuh mikroorganisme dapat berupa batu apung, plastik, glass ring, expanded clay, porselin bahkan bambu atau bahan lain yang inert kedalam reaktor sebagai bahan penunjang pertumbuhan mikroorganisme yang memiliki porositas sebesar mungkin dan luas permukaan spesifik seluas mungkin (Padmono 2003). Secara teknis media yang diperlukan adalah media yang mempunyai SSA (specific surface area) yang luas dan VR (void ratio) yang tinggi (Esaunggul 2012). Saat ini media ini telah dikembangkan oleh para ahli teknis dengan mencari bahan serta bentuk yang memberikan luas permukaana luas tetapi memiliki VR tinggi. Contoh media yang dimaksud misalnya biofilter dari bahan plastik PVC tipe sarang tawon. Beban COD yang dapat diolah oleh Fixed Bed Reactor dapat berkisar antara (4 – 16) kg/m3 per hari.

 Sarang Tawon

Gambar 1 Media plastik sarang tawon untuk pembiakan mikroorganisme dalam menguraikan zat organik

Proses anaerobik yang terjadi secara umum dibagi menjadi 3 tahap, yaitu tahap hidrolasi dan fermentasi; tahap pembentukan asam asetat; dan tahap pembentukan metana seperti ditunjukan dalam Gambar 2.

 Scan Alur Tawon

Gambar 2 Tiga tahap proses anaerobik (Padmono 2003)


Hidrolisis dan fermentasi adalah pengubahan senyawa organik yang bersifat kompleks menjadi bentuk sederhana dan bersifat organik terlarut. Perubahan senyawa ini dilakukan oleh bakteri fermentatif dengan menggunakan enzim yang diproduksinya. Tahap selanjutnya adalah asetogenik atau pembentukan asam asetat. Pada proses hidrolisis dan asidogenik selain dihasilkan asam lemak juga terbentuk senyawa-senyawa lain seperti senyawa alkohol, asam organik rantai panjang lain, senyawa unikarbon (HCOOH), dan senyawa multikarbon. Senyawa-senyawa dalam tahapan ini diubah menjadi asam asetat oleh bakteri asetogenik sebelum memasuki tahap pembentukan metana (Padmono 2003). Tahapan pembentukan asetat diatas juga menghasilkan hidrogen. Kedua macam senyawa tersebut merupakan bahan utama pembentuk gas metana. Pembentukan gas metana ini dilakukan oleh bakteri metanogen. Penguraian senyawa organik seperti karbohidrat, lemak dan protein yang terdapat dalam limbah cair dengan proses anaerobik akan menghasilkan biogas yang mengandung metana (50 – 70%), CO2 (25 – 45%), dan sejumlah kecil hidrogen, nitrogen, dan air.
Lingkungan memberikan pengaruh besar pada laju pertumbuhan mikroorganisme baik pada proses aerobik maupun anaerobik. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses anaerobik menurut Manurung (2004), antara lain temperatur, pH, konsentrasi substrat, dan zat beracun. Gas dapat dihasilkan jika suhu antara 4 – 60 °C dan suhu dijaga konstan. Bakteri akan menghasilkan enzim yang lebih banyak pada temperatur optimum. Bakteri penghasil metana sangat sensitif terhadap perubahan pH. Rentang pH optimum untuk jenis bakteri penghasil metana antara 6,4 - 7,4. Tahap pembentukan asam akan menurunkan pH awal. Jika penurunan ini cukup besar akan dapat menghambat aktivitas mikroorganisme penghasil metana. Penambahan kapur dapat dilakukan untuk meningkatkan pH. Sel mikroorganisme mengandung Karbon, Nitrogen, Phosfor, dan Sulfur dengan perbandingan 100:10:1:1. Pertumbuhan mikroorganisme membutuhkan unsur-unsur tersebut pada sumber makanannya atau substrat. Konsentrasi substrat dapat mempengaruhi proses kerja mikroorganisme. Kondisi yang optimum dicapai jika jumlah mikroorganisme sebanding dengan konsentrasi substrat. Zat organik maupun anorganik baik yang terlarut maupun tersuspensi dapat menjadi penghambat ataupun racun bagi pertumbuhan mikroorganisme jika terdapat pada konsentrasi yang tinggi. Bakteri penghasil metana lebih sensitif terhadap racun daripada bakteri penghasil asam.
Menurut Padmono (2003), pada pengolahan limbah cair RPH-R dapat dilakukan pengukuran atau pengamatan terhadap parameter yang meliputi COD, biogas, dan kandungan metana dalam biogas. Pengukuran COD yang dilakukan dalam pengamatan ini adalah solubel COD. COD solubel hanya ditinjau bahan yang bersifat terlarut dan merupakan bahan yang mudah didegradasi secara biologis. Pengukuran COD ini digunakan dalam menentukan kinerja reaktor dalam bentuk efisiensinya.
Pengukuran biogas yang dihasilkan oleh anaerobik Fixed Bed Reactor dilakukan dengan pembacaan langsung pada alat pengukur jumlah produksi gas pada pipa aliran gas dari reaktor menuju penampung gas. Data yang diperoleh dikonversikan kedalam bentuk normal pada suhu kamar. Pengukuran kandungan metana dilakukan dengan alat ukur gas metana. Biogas yang terbentuk ditampung dalam suatu penampung gas aluminium dengan volume 10 liter. Gas dialirkan dalam metana test-meter dan langsung dapat terbaca berapa prosentase kandungan metana dalam biogas.
Berdasarkan penelitian Indriyati (2004), debit air limbah yang masuk kedalam sistem reaktor adalah rata-rata berkisar antara 59 – 140 m3/hari dengan kandungan COD terlarut rata-rata setelah beberapa tahap penyaringan dan pengendapan sebesar 1967 mg/l. Setelah proses degradasi dicapai COD terlarut efluent sebesar 583 mg/l. Efisiensi yang dicapai adalah 70% dengan kandungan metan 80% dan jumlah produksi gas rata-rata antara 220 – 250 m3/hari. Biogas yang dihasilkan dari Fixed Bed digester digunakan untuk memproduksi listrik dengan menggunakan generator. Mesin tersebut berjalan bersamaan dengan jaringan listrik PLN.
Proses penurunan kadar COD ini menurut Said dan Firly (2005) disebabkan adanya proses adaptasi dari mikroorganisme yang tumbuh melekat pada media biofilter dalam reaktor kemudian terjadi proses degradasi senyawa-senyawa organik sehingga kadar COD turun. Proses anaerobik akan memberikan kontribusi yang besar pada pengolahan limbah untuk menurunkan kadar COD. Selain itu, proses anaerobik juga mampu mendegradasi dan menurunkan kadar zat-zat organik yang terkandung dalam limbah seperti KMnO4, lebih besar daripada proses aerobik serta menurunkan Total Suspensed Solids (TSS). Kadar BOD dapat diturunkan pada waktu tinggal hidrolik 24 jam dan 48 jam dengan kisaran 78 – 84% pada proses anaerobik ini.
Setiap penurunan kadar COD, BOD, TSS, maupun zat organik pada proses pengolahan limbah cair maka proses anaerobik memberikan kontribusi terbesar dibandingkan pada proses aerobik. Hal ini dikarenakan proses anaerobik adalah proses multi tahap yang melibatkan bakteri anaerobik. Beban pengolahan pada limbah pada proses anaerobik sangat besar dan senyawa-senyawa organik yang terkandung didalam limbah didegradasi secara mikrobiologis menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana dengan melalui tahapan hidrolisis, asetogenesis, dan metanogenesis. Hasil akhir dari proses ini adalah gas metan dan karbondioksida. Berbeda dengan proses anaerobik, proses aerobik lebih sederhana dengan beban pengolahan limbah yang jauh lebih ringan dan merupakan upaya lanjutan untuk mendegradasi senyawa-senyawa organik. Hasil pengolahan limbah pada proses anaerobik masih mengandung zat organik dan nutrisi yang dapat diubah menjadi sel-sel baru, hidrogen, karbondioksida, dan produk-produk akhir lainnya. Menurut Said (2002), hasil pengolahan dengan proses anaerobik masih menimbulkan sedikit bau dan efluen agak keruh serta berwarna kuning muda. Oleh karena itu, untuk selanjutnya diperlukan adanya penambahan proses secara aerobik agar kualitas efluen menjadi lebih baik lagi dengan tidak ada lagi bau dan lebih bening.

                                            IPAL Sarang Tawon     Instalasi Sarang Tawon

 

Sumber: http://www.expo-net.dk/English/News/Latest%20News.aspx?M=News&PID=4559&NewsID=104

DAFTAR PUSTAKA

  1. Esaunggul. 2012. Pengolahan limbah cair. [terhubung berkala]. http://ikk357.blog.esaunggul.ac.id/files/2012/11/Limbah-Cair-Industri1.pdf [31 Oktober 2016].
  2. Indriyati. 2004. Penerapan teknologi produksi bersih di Rumah Potong Hewan Cakung. [terhubung berkala]. http://produksibersih.wordpress.com/2011/07/27/penerapan-teknologi-produksi-bersih-di-RPH-R-cakung/ [31 Oktober 2016].
  3. Manendar R. 2010. Pengolahan limbah cair Rumah Potong Hewan (RPH-R) dengan metode fotokatalitik TiO2 : pengaruh waktu kontak terhadap kualitas BOD5, COD, dan pH efluen. [tesis]. Bogor: Sekolah Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor.
  4. Manurung R. 2004. Proses anaerobik sebagai alternatif untuk mengolah limbah sawit. Jurnal e-USU Repository Universitas Sumatera Utara: 1-9.
  5. Padmono D. 2003. Pengaruh beban organik terhadap efisiensi Anaerobic Fixed Bed Reactor dengan sistem aliran catu up-flow. Jurnal Teknologi Lingkungan P3TL-BPPT. Volume 4, Nomor 3 : 148 – 154.
  6. Padmono D. 2005. Alternatif pengolahan limbah Rumah Potong Hewan-Cakung (suatu studi kasus). Jurnal Teknologi Lingkungan P3TL-BPPT. Volume 6, Nomor 1 : 303 – 310.
  7. Said NI. 2002. Aplikasi teknologi biofilter untuk pengolahan air limbah industri kecil tekstil. Jurnal JAI. Volume 3, Nomor 1 : 135 – 143.
  8. Said NI, Firly. 2005. Uji performance biofilter anaerobik unggun tetap menggunakan media biofilter sarang tawon untuk pengolahan air limbah Rumah Potong Ayam. Jurnal JAI. Volume 1, Nomor 3 : 289 – 303.
  9. Vegantara DA. 2009. Pengolahan limbah cair tapioka menggunakan kotoran sapi perah dengan sistem anaerobik. [skripsi]. Bogor: Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

 

MEMPERINGATI PEKAN KESADARAN ANTIBIOTIK DUNIA (WORLD ANTIBIOTIC AWARENESS WEEK)

MEMPERINGATI PEKAN KESADARAN ANTIBIOTIK DUNIA (WORLD ANTIBIOTIC AWARENESS WEEK)

16 – 22 NOVEMBER 2015

Oleh:

Drh. Yadi C. Sutanto, MS(Medik Veteriner Muda)

 

'Drug resistance follows the drug like a faithful shadow’

Ungkapan di atas dikemukakan oleh Paul Ehrlich (1854-1915), seorang dokter berkebangsaan Jerman, peraih Nobel bidang Fisiologi/Kedokteran pada tahun 1908 dan dikenal sebagai Pungawa Kemoterapi Modern dengan memulai “Era Antibiotik” bersama Alexander Fleming.

Baca selengkapnya...

Keracunan Makanan

Drh.Yudi Prastowo

Medik Veteriner Madya, Dit. Kesmavet

Setiap tahun di Amerika Serikat, penyakit yang bertalian dengan makanan menyebabkan sekitar 48 juta terpapar penyakit, dengan rincian 128.000 rawat inap, 3.000 kematian dan lebih dari 1.000 wabah. Makanan terpapar agent penyakit memiliki dampak ekonomi yang besar di seluruh bangsa di dunia, yang menyebabkan jutaan dolar pendapatan yang hilang. Bagaimana kejadian di Indonesia? Data penyakit saluran pencernaan tidak pernah dinvestigasi penyebabnya dan pemberitaan keracunan makanan di berbagai mass media hilang dengan begitu saja, tanpa analisis preventif dan kerugian ekonomi yang diakibatkannya.

Makanan yang kita makan dan minuman yang kita minum, termasuk air yang digunakan dapat terkontaminasi oleh bakteri, virus, parasit, racun atau bahan kimia yang dapat menyebabkan penyakit yang ditularkan melalui makanan atau keracunan makanan. Kebanyakan orang telah mengalami setidaknya radang saluran pencernaan pada suatu saat dalam kehidupan mereka sebagai akibat dari makan makanan atau minuman yang tidak disimpan atau disiapkan dengan baik.

Apa itu "keracunan makanan"?

Secara umum, istilah "keracunan makanan (food poisoning)" ditandai dengan gejala klinis umum untuk setiap penyakit yang melibatkan kombinasi dari gejala umum seperti sakit kepala, mual, muntah dan diare. Namun, istilah "keracunan makanan" terkadang juga menyesatkan, karena disebabkan oleh sekelompok agen penyakit yang hampir sama dengan gejala penyakit asal makanan dengan gejala umum diatas dan bukan disebabkan oleh agen patogen penyakit seperti racun.

Penyakit yang bertalian dengan makanan dapat juga disebabkan oleh berbagai agen penyakit patogen dan racun.  Mikroba atau racun yang memasuki tubuh melalui saluran pencernaan, gejala yang paling umum dari penyakit ini adalah pusing, mual, muntah, diare dan kram perut. Namun demikian, penyakit akibat karena mengkonsumsi makanan dapat bervariasi terjadinya, dan dapat terjadi secara dramatis tergantung dalam hal seberapa cepat gejala dimulai setelah mengkonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi, lamanya menderita penyakit, dan kapan dan seberapa besar respon seseorang dapat segera pulih. Disamping itu juga kuman atau agen patogen yang dapat mencemari makanan dapat ditularkan melalui kontak dengan hewan yang terinfeksi, kontak dengan orang sakit, atau bahkan sebagai hasil dari kecelakaan laboratorium.

Read more: Keracunan Makanan

PULAU KARANTINA HEWAN

PULAU KARANTINA HEWAN

 

Oleh : drh. Yudi Prastowo

Medik Veteriner Madya, Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner, Ditjen Peternakan danKesehatan Hewan

Kementerian Pertanian

Silahkan UNDUH untuk membaca lebih lanjut

Sekapur Sirih 

Drh. Syamsul Maarif M.Si

Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh,

Kami dengan rasa gembira menyambut partisipasi Anda di situs web kami. Sejalan dengan semakin berkembangnya tuntutan masyarakat terhadap fungsi dan peran Kesehatan Masyarakat Veteriner serta seiring kemajuan teknologi informasi saat ini maka situs ini akan kami gunakan untuk melayani dan menghubungkan Anda dengan Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Read more: Sekapur Sirih

 

Polling Kesmavet 

Menjadi Direktorat yang Mampu Mewujudkan Pelayanan Kesehatan Masyarakat Veteriner Profesional dalam Menjamin Kesehatan dan Ketentraman Bathin Masyarakat.

Visi Kesmavet-Paspa

Pengunjung 

We have 46 guests and no members online

Video 

Pengelolaan dan Pelaksanaan Kurban Yang Benar, Aman, dan Nyaman ------------------------------------------------------------- Cara Memilih Hewan Kurban Yang Baik ------------------------------------------------------------- Metode Perobohan dan Pemotongan Hewan (Sapi) ------------------------------------------------------------- Desain Fasilitas Pemotongan Hewan Kurban(Portable) ------------------------------------------------------------- Pemeriksaan Antemortem Postmortem ------------------------------------------------------------- Kesejahteraan Hewan Kurban ------------------------------------------------------------- Nomor Kontrol Veteriner (NKV) ------------------------------------------------------------- Dialog Penerapan Kesejahteraan Hewan ------------------------------------------------------------- Waspada Penyakit Zoonosis ------------------------------------------------------------- Ayam dan Hormon ------------------------------------------------------------- Penggunaan Antimikrobial Yang Bijak -------------------------------------------------------------

Sebaran Pengunjung