Pencarian 

Tulisan Ilmiah Populer

Media Website Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner menerima tulisan yang dikirim ke alamat redaksi melalui email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. . Tulisan bersifat orisinil, aktual dan informatif tentang kesehatan masyarakat veteriner diketik rapi 1,5 spasi. Panjang tulisan 2-3 halaman diketik format *.doc(words file) maksimal 7000 karakter termasuk spasi. Foto pendukung minimal 2 buah  dengan ukuran masing-masing maksimal sebesar 2MB. Sebelum diterbitkan tulisan di review dan disunting oleh Tim redaksi tanpa merubah isinya.  Perlu kami sampaikan sebelumnya pengiriman tulisan gratis dan tidak tersedia honor bagi penulis. 

Quo Vadis Kesehatan Masyarakat Veteriner : Perspektif Terhadap Tantangan Global

Drh. Yadi Cahyadi Sutanto, MS

Fungsional Medik Veteriner Muda

james h steele

 

Kesehatan Masyarakat Veteriner?

Ketika orang berpikir tentang dokter hewan, biasanya yang terlintas adalah tentang dokter yang mengobati hewan, akan tetapi sesungguhnya dokter hewan jauh lebih banyak perannya dari sekedar pengobatan hewan. Kedokteran hewan (veterinary medicine) juga turut berperan dalam upaya perbaikan kesehatan masyarakat yang berfokus pada pencegahan penyakit, memperpanjang hidup dan meningkatkan kesehatan masyarakat.  Salah satu cabang disiplin ilmu kedokteran hewanyang menghubungkan antara kesehatan masyarakat dan kedokteran hewan/veteriner adalah kesehatan masyarakat veteriner (Veterinary Public Health).

Veteriner (ve·te·ri·ner /véterinér/ a) menurut definisi Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah mengenai penyakit hewan (kedokteran hewan).  Di Indonesia, kesehatan masyarakat veteriner atau kesmavet didefinisikan dalam Undang Undang Republik Indonesia No. 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan sebagai segala urusan yang berhubungan dengan hewan dan produk hewan yang secara langsung atau tidak langsung memengaruhi kesehatan manusia. 

Read more: Quo Vadis Kesehatan Masyarakat Veteriner : Perspektif Terhadap Tantangan Global

Bahaya Biologis Pada Pangan Asal Hewan

Oleh drh. Diah Nurhayati, M.Si 

Fungsional Medik Veteriner Pertama

Pangan asal hewan seperti daging, susu, telur dan ikan, memiliki kandungan zat gizi yang tinggi terutama protein, yang sangat bermanfaat dalam pertumbuhan, kesehatan dan kecerdasan. Pangan asal hewan yang dikonsumsi harus layak dan memenuhi syarat jaminan keamanan pangan. Menurut Undang-undang No. 7 tahun 1996 tentang pangan, keamanan pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan dan membahayakan kesehatan manusia. 

Pangan asal hewan serta hasil olahannya umumnya bersifat mudah rusak (perishable food) dan memiliki potensi mengandung bahaya biologis, kimia dan/atau fisik (potentially hazardous food). Hal ini disebabkan karena pangan asal hewan memiliki pH, aktivitas air (aw), kadar air dan kandungan protein tinggi yang sesuai untuk pertumbuhan mikroorganisme(Jay et al., 2005).

Kontaminasi mikroorganisme (bahaya biologis) pada pangan dapat terjadi mulai dari peternakan, pada saat proses pengolahan, penyimpanan, pengepakan, transportasi, penanganan dan penyajian. Bakteri yang mengkontaminasi pangan terbagi menjadi dua golongan yaitu bakteri patogen (pathogenic bacteria) yang dapatmenyebabkan gangguan kesehatan manusia melalui mekanisme infeksi (food infection) dan intoksikasi (food intoxication), dan bakteri pembusuk (spoilage bacteria) yang dapat menyebabkan penurunan kualitas dari pangan sehingga pangan tidak layak dikonsumsi (Jay et al., 2005).

Read more: Bahaya Biologis Pada Pangan Asal Hewan

Mengenal Gelatin, Kegunaan dan Pembuatannya

Oleh: drh. Fety Nurrachmawati

Medik Veteriner Muda, Direktorat Kesmavet dan PP

 

Gelatin dengan nama ilmiah Hydrolised Collagen (C76H124O29N24) adalah zat kimia padat, tembus cahaya, tak berwarna, rapuh (jika kering), dan tak berasa. Gelatin umumnya digunakan sebagai zat pembuat gel pada makanan, industri farmasi, fotografi dan pabrik kosmetik. Dalam industri pangan, gelatin luas dipakai sebagai salah satu bahan baku dari permen lunak, jeli, dan es krim. Dalam industri farmasi, gelatin digunakan sebagai bahan pembuat kapsul. 

Gelatin merupakan senyawa turunan yang dihasilkan dari serabut kolagen jaringan penghubung, kulit, tulang dan tulang rawan yang dihidrolisis dengan asam atau basa, Gelatin diperoleh dari hidrolisis parsial kolagen. Gelatin merupakan protein yang larut yang bisa bersifat sebagai gelling agent (bahan pembuat gel) atau sebagai non gelling agent. Sumber bahan baku gelatin dapat berasal dari sapi (tulang dan kulit jangat), babi (hanya (kulit) dan ikan (kulit). Karena gelatin merupakan produk alami, maka diklasifikasikan sebagai bahan pangan bukan bahan tambahan pangan.

Permintaan gelatin di Indonesia cenderung meningkat seiring dengan perkembangan trend pola konsumsi masyarakat. Sampai saat ini kebutuhan gelatin di Indonesia dipenuhi dari produk impor, dimana negara pengimpor yang telah disetujui untuk pemasukan gelatin pangan diantaranya: India, China, Thailand, Australia, Brazil, Bangladesh dan New Zealand. Pemasukan gelatin pangan ke Indonesia diimpor dari produsen yang telah bersertifikat Halal.

Read more: Mengenal Gelatin, Kegunaan dan Pembuatannya

Metodologi Penilaian Risiko dan Identifikasi Indikator Hewan untuk Menilai Kesejahteraan Hewan di Tingkat Peternak

Oleh Drh Lili Darwita Medik Veteriner Muda

PENDAHULUAN

Metode ini adalah salah satu hasil penelitian menurut Standar Indikator Kesejahteraan Hewan. European Food Safety Authority (EFSA) bahwa aspek keamanan dari rantai pasokan (supply chain) pangan dan pakan  termasuk kesehatan hewan dan kesejahteraan hewan.

Kesehatan Hewan dan Kesejahteraan Hewan/ Animal Health and Animal Welfare (AHAW) menyangkut antara lain :

  • Hewan laboratorium
  • Metode Stunning dan penyembelihan
  • Transportasi ternak
  • kesejahteraan anak sapi
  • Resiko kesejahteraan waktu impor burung
  • Kesejahteraan babi
  • Kesejahteraan ikan
  • Aspek kesejahteraan dari stunning dan pemotongan ikan
  • Kesejahteraan sapi perah
  • seleksi genetik broiler
  • panen bulu angsa dari hidup

Read more: Metodologi Penilaian Risiko dan Identifikasi Indikator Hewan untuk Menilai Kesejahteraan Hewan...

Waspada Leptospirosis Pasca Banjir

WASPADA LEPTOSPIROSIS PASCA BANJIR

 

drh. Diah Nurhayati, MSi

Fungsional Medik Veteriner Pertama

Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Pascapanen

Intensitas hujan yang tinggi menyebabkan banjir di beberapa wilayah, termasuk Jakarta dan sekitarnya. Tidak hanya kerusakan materi, ancaman penyakit menular pun bermunculan pasca banjir. Air banjir dan lingkungan yang lembab menjadi media yang menyuburkan bakteri dan menimbulkan sejumlah penyakit. Setidaknya ada tujuh penyakit yang harus diwaspadai seiring datangnya musim hujan dan banjir. Tujuh penyakit tersebut antara lain diare, demam berdarah, leptospirosis, inspeksi saluran pernafasan akut (ISPA), penyakit kulit, demam tifoid, dan memburuknya penyakit kronis yang diderita sebelum musim hujan atau banjir.

Leptospirosis merupakan salah satu penyakit yang perlu diwaspadai saat musim hujan dan banjirLeptospirosis merupakan zoonosis yang tersebar luas di seluruh dunia terutama di daerah tropis termasuk Indonesia. Leptospirosis dikenal juga dengan nama Weil’s disease, Swamp fever, Mud fever, Autumn fever (Akiyami), Swineherd’s disease, Rice-field fever, Cane-cutter’s fever, Hemorrhagic jaundice, Stuttgart disease, Canicola fever  dan Redwater of calves.Leptospirosis dikategorikan sebagai penyakit terkait air atau water-related diseases oleh Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO).

Leptospirosis disebabkan oleh bakteri dari genus Leptospira yang termasuk dalam family Leptospiraceae. Klasifikasi organisme sebelum tahun 1989 membagi genus Leptospira menjadi 2 spesies yaitu L. interrogans dan L. biflexa. L.interrogans merupakan spesies patogen bagi manusia dan hewan sedangkan L. biflexa merupakan spesies saprofit yang hidup bebas dilingkungan dan jarang dikaitkan dengan infeksi pada mamalia. Genus Leptospira telah di reklasifikasi menjadi 16 spesies atau lebih. Serovar patogen ditemukan pada spesies L. interrogans, L. noguchii, L.santarosai, Lmeyeri, L. borgpetersenii, L. kirschneri, L. weilii, L. inadai, L. fanei dan Lalexanderi.

Read more: Waspada Leptospirosis Pasca Banjir

Sekapur Sirih 

Drh. Syamsul Maarif M.Si

Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh,

Kami dengan rasa gembira menyambut partisipasi Anda di situs web kami. Sejalan dengan semakin berkembangnya tuntutan masyarakat terhadap fungsi dan peran Kesehatan Masyarakat Veteriner serta seiring kemajuan teknologi informasi saat ini maka situs ini akan kami gunakan untuk melayani dan menghubungkan Anda dengan Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Read more: Sekapur Sirih

 

Polling Kesmavet 

Menjadi Direktorat yang Mampu Mewujudkan Pelayanan Kesehatan Masyarakat Veteriner Profesional dalam Menjamin Kesehatan dan Ketentraman Bathin Masyarakat.

Visi Kesmavet-Paspa

Pengunjung 

We have 42 guests and no members online

Video 

Pengelolaan dan Pelaksanaan Kurban Yang Benar, Aman, dan Nyaman ------------------------------------------------------------- Cara Memilih Hewan Kurban Yang Baik ------------------------------------------------------------- Metode Perobohan dan Pemotongan Hewan (Sapi) ------------------------------------------------------------- Desain Fasilitas Pemotongan Hewan Kurban(Portable) ------------------------------------------------------------- Pemeriksaan Antemortem Postmortem ------------------------------------------------------------- Kesejahteraan Hewan Kurban ------------------------------------------------------------- Nomor Kontrol Veteriner (NKV) ------------------------------------------------------------- Dialog Penerapan Kesejahteraan Hewan ------------------------------------------------------------- Waspada Penyakit Zoonosis ------------------------------------------------------------- Ayam dan Hormon ------------------------------------------------------------- Penggunaan Antimikrobial Yang Bijak -------------------------------------------------------------

Sebaran Pengunjung