Pencarian 

Tulisan Ilmiah Populer

Media Website Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner menerima tulisan yang dikirim ke alamat redaksi melalui email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. . Tulisan bersifat orisinil, aktual dan informatif tentang kesehatan masyarakat veteriner diketik rapi 1,5 spasi. Panjang tulisan 2-3 halaman diketik format *.doc(words file) maksimal 7000 karakter termasuk spasi. Foto pendukung minimal 2 buah  dengan ukuran masing-masing maksimal sebesar 2MB. Sebelum diterbitkan tulisan di review dan disunting oleh Tim redaksi tanpa merubah isinya.  Perlu kami sampaikan sebelumnya pengiriman tulisan gratis dan tidak tersedia honor bagi penulis. 

Konsep Ecohealth dalam Pengendalian Zoonosis

KONSEP ECOHEALTH
DALAM PENGENDALIAN ZOONOSIS

Drh.
Diah Nurhayati
Fungsional Medik Veteriner Pertama
Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Pascapanen

Indonesia dan semua negara di dunia masih menghadapi permasalahan penyakit hewan yang secara alami dapat menular ke manusia atau sebaliknya yang disebut zoonosis. Masalah zoonosis perlu dikendalikan karena dalam kondisi tertentu dapat berpotensi menjadi wabah atau pandemi. Ancaman zoonosis di Indonesia maupun di dunia cenderung meningkat dan berimplikasi pada aspek sosial, ekonomi, keamanan, dan kesejahteraan rakyat. Beberapa tahun belakangan ini, muncul penyakit yang disebut emerging and re-emerging diseases yang dipicu oleh perubahan iklim, habitat, serta faktor kepadatan populasi yang mempengaruhi induk semang, patogen dan vektor. Emerging zoonoses merupakan penyakit zoonosis yang baru muncul, dapat terjadi dimana saja di dunia dan dampaknya berpotensi menjadi parah,sedangkan re-emerging zoonoses merupakan penyakit zoonosis yang sudah pernah muncul dan menunjukkan tanda mulai meningkat kembali.

Penyakit zoonosis yang masuk ke dalam daftar penyakit hewan menular strategis di Indonesia yaitu rabies, anthrax, avian influenza, salmonellosis dan brucellosis. Penyakit zoonosis yang penting lainnya dan perlu mendapatkan perhatian antara lain schistosomiasis, cysticercosis/taeniasis, tuberculosis, leptospirosis, toxoplasmosis, Japanese encephalitis, streptococosis/staphylococosis, dan clostridium (tetanus).Penyakit zoonosis yang berkaitan dengan keamanan pangan (food borne disease) di Indonesia antara laincamphylobacteriosis, salmonellosis, shigella, yersinia, verocyto toxigenic Escherichia coli (VTEC), dan listeriosis. Penyakit zoonosis eksotik untuk Indonesia adalah bovine spongiform encephalopathy (BSE), Nipah virus, ebola virus, dan rift valley fever (RVF) (Naipospos 2005).

Dampak kerugian penyakit zoonosis antara lain gangguan kesehatan bagi masyarakat (kematian), pembatasan eksport ternak dan produknya, penurunan produktifitas ternak dan manusia yang tertular, kerugian ekonomi seperti penurunan perdagangan, beban biaya pengobatan, penurunan wisatawan, serta mengganggu ketenteraman manusia. Sehingga perlu tindakan pengendalian dan pemberantasan penyakit zoonosis.

Perkembangan pengendalian zoonosis di dunia saat ini mengarah kepada konsep baru yaitu one world, one medicine, one health yang mengedepankan kerjasama yang lebih terintegrasi dan sinergis antara dokter hewan dan dokter dalam mengantisipasi penyakit-penyakit zoonosis yang berpotensi epidemik yang dikenal dengan konsep one health. Kemudian muncul konsep ecohealthyang dianggap sejalan dengan konsep one health yang juga, akan tetapi konsep ecohealth dikatakan memperluas konsep one healthPilar dalam konsep one health adalah profesi kedokteran hewan, kedokteran manusia dan kesehatan masyarakat, sedangkan konsep ecohealth lebih bersifat mulitidisiplin dimana ilmu-ilmu lain ikut dilibatkan seperti lingkungan, ekonomi, sosial dan budaya.

Read more: Konsep Ecohealth dalam Pengendalian Zoonosis

Kerja Sama ASEAN di Bidang Pangan, Pertanian, dan Kehutanan

Kerja Sama ASEAN di Bidang Pangan, Pertanian, dan Kehutanan

 

Oleh : drh. Dinal Rifqi, M.Si
Kasie Teknologi Pascapanen, Subdirektorat Pascapanen
Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Pascapanen
 

ASEAN kini menjalani proses pembangunan suatu Masyarakat Ekonomi ASEAN atau ASEAN Economic Community(AEC) pada tahun 2015 yang akan menjadi pasar tunggal dan basis produksi. Dalam proses mewujudkan AEC ini, peningkatan daya saing pangan, pertanian dan produk kehutanan di pasar internasional, dan pemberdayaan petani melalui promosi koperasi pertanian telah menjadi prioritas regional. Isu-isu baru dan lintas sektoral seperti masalah ketahanan pangan, mitigasi dan adaptasi perubahan iklim untuk sektor pertanian dan kehutanan, dan sanitary and phytosanitary(SPS) juga merupakan bagian dari prioritas.

Prakarsa Menuju Perwujudan Integrasi ASEAN

Melalui harmonisasi kualitas dan standar, jaminan keamanan pangan, dan standardisasi sertifikasi perdagangan, produk pertanian ASEAN diharapkan siap bersaing di pasar global dengan menawarkan makanan yang aman, sehat dan berkualitas. ASEAN telah mengembangkan Good Agricultural Practices (GAP), Good Animal Husbandry Practices (GAHP), Good Hygiene Practices (GHP), Good Manufacturing Practices (GMP), and Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP), standar untuk produksi, penanganan panen dan pasca-panen produk pertanian, batasan residu maksimum pestisida, kriteria untuk akreditasi usaha ternak dan produk ternak, pedoman GMP untuk udang, dan ”code of conduct” untuk usaha perikanan yang bertanggungjawab, untuk digunakan sebagai referensi dalam mengembangkan prioritas nasional dan sarana untuk mendukung pembangunan industri-agro.

Read more: Kerja Sama ASEAN di Bidang Pangan, Pertanian, dan Kehutanan

Seputar Kesejahteraan Hewan Pada Saat Kurban

SEPUTAR KESEJAHTERAAN HEWAN PADA SAAT KURBAN

 

Oleh : drh. Christ Tamboss

Fungsional Medik Veteriner Muda

Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Pascapanen

 

Umat muslim di dunia baru saja merayakan Hari Raya Idul Kurban termasuk di Indonesia. Meskipun sudah berlalu namun masih hangat menjadi perbincangan mengenai pelaksanaan penyembelihan hewan kurban. Dalam konteks Indonesia, pelaksanaan hewan kurban menjadi menarik untuk dikaji lebih lanjut mengingat banyaknya umat muslim yang berkurban, terbatasnya sarana dan prasarana, serta banyaknya tradisi yang kemudian dijadikan keharusan sehingga pelaksanaan penyembelihan hewan kurban menjadi sangat beragam antar lokasi dan antar daerah. Dalam tulisan ini akan diulas sedikit mengenai beberapa aturan pelaksanaan hewan kurban beberapa fakta mengenai hewan kurban yang mungkin belum banyak diketahui oleh masyarakat awam.

Dalam tulisan drh. Supratikno, M.Si disebutkan bahwa seorang peneliti dari Jerman yaitu Prof Wilhelm Schulze yang menyatakan penyembelihan secara syariat Islam tidak menimbulkan rasa sakit. Beliau menyatakan bahwa hewan mungkin tidak seratus persen tidak merasakan sakit, tapi minimal derajat kesakitannya tidak parah dan dalam waktu yang sangat singkat yaitu kurang dari 10 detik dimana hewan tersebut sudah kehilangan 30% darah. Hewan akan kehilangan kesadaran atau kehilangan respon rasa sakit sehingga kejadian meronta itu hanya merupakan reflek spinal dan upaya tubuh menarik darah kembali ke jantung. Tetapi dalam penelitian itu kondisi rapi dan prosedur penyembelihannya betul-betul diatur supaya tidak menimbulkan stress dan menggunakan fasilitas penyembelihan yang sangat baik serta pisau yang sangat tajam. Hal ini dapat menjadi point penting dalam kaitan penerapan kesejahteraan hewan (animal welfare) di Indonesia.

Inggris memiliki sejarah yang mencatat paling lama mengenai perlindungan hewan (animal protection) semenjak tahun 1500-an, tidak berbeda jauh dengan perkembangan di Benua Eropa dan Amerika Utara. Jeremy Bentham adalah pelopor diabad 18-an, yang mempertanyakan tentang hewan ‘apakah mereka bisa menderita?’, yang merupakan konsep dasar dari perkembangan kesejahteraan hewan (European Communities, 2007). Pada tahun 1824, berdiri organisasi asal Inggris yang bernama Society for the Prevention of Cruelty to Animals (SPCA), yang melindungi dan mencegah kekerasan pada kuda sebagai transportasi (Compassion in World Farming, 2012).

Read more: Seputar Kesejahteraan Hewan Pada Saat Kurban

Kehidupan Mikrobial pada Daging

KEHIDUPAN MIKROBIAL PADA DAGING

 

Oleh : drh. Christ Tamboss

Fungsional Medik Veteriner Muda

Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Pascapanen

Pada dasarnya semua jenis makanan alami dapat dimakan dalam keadaan segar harus segera dikonsumsi. Hal tersebut dikarenakan bakteri, jamur dan kapang yang berkembang pada makanan secara cepat menyebabkan kerusakan pada makanan dengan merubah lemak,  protein dan karbohidrat menjadi komponen lain yang memiliki bau atau rasa yang tidak menyenangkan.  Enzim yang ada dalam semua makanan secara alami juga berkontribusi terhadap kerusakan makanan tersebut.

Daging adalah produk makanan yang baik untuk tubuh manusia namun sangat rentan terhadap cemaran  mikrobiologi yang dapat diperoleh sebagai akibat buruknya penanganan, packing, distribusi dan penyimpanan.  Tanda-tanda terjadinya cemaran mikrobiologi pada daging yaitu:

1.       Bau tidak sedap

2.       Pembentukan gas

3.       Lendir atau daging yang tersa lengket

4.       Perubahan warna  (ex. Menjadi kehijauan)

5.       Perubahan konsistensi (terasa lebih basah)

Cemaran mikrobiologi biasanya terjadi di permukaan, sehingga dengan men-trim daerah daging yang tercemar pada saat prose boning di RPH membuat daging yang dibawahnya layak dikonsumsi.  Meskipun secara umum cemaran mikrobiologi dapat terlihat secara visual, bagi mikroorganisme yang menyebabkan keracunan pada makanan (food – poisoning) secara umum tidak memberikan indikasi apapun pada makanan.  Terkadang cemaran mikrobiologi disebabkan oleh organisme yang tidak berbahaya, namun menyebabkan daging secara fisik terlihat tidak enak dilihat dan sehingga keutuhannya diragukan oleh konsumen.

Read more: Kehidupan Mikrobial pada Daging

WASPADA TERHADAP PEREDARAN ILEGAL DAGING CELENG

WASPADA TERHADAP PEREDARAN ILEGAL DAGING CELENG

Oleh : Drh. Widarto, MP., Drh. Dinal Rifqi, M.Si, Drh. Lili Darwita, Drh. Christ Tamboss

 

Beberapa tahun terakhir banyak terjadi peredaran ilegal daging celeng yang dicampur dengan daging sapi baik di jual segar di pasar tradisional atau dibuat menjadi bahan olahan seperti bakso, abon, dendeng, dll.  

Daging celeng sulit dibedakan dengan daging sapi, bahkan oleh pedagang daging di pasar. Untuk mengalabui konsumen daging celeng dilumuri dengan darah segar ternak sapi, sehingga bau khas daging celeng sulit ditentukan.

$1A.           CARA BEDAKAN ANTARA DAGING SAPI DAN CELENG

Ada 5 (lima) beberapa perbedaan mendasar antara daging celeng dan sapi yang dikenali secarakasat mata yaitu warna, serat daging, tipe lemak, aroma dan textur.

Read more: WASPADA TERHADAP PEREDARAN ILEGAL DAGING CELENG

Sekapur Sirih 

Drh. Syamsul Maarif M.Si

Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh,

Kami dengan rasa gembira menyambut partisipasi Anda di situs web kami. Sejalan dengan semakin berkembangnya tuntutan masyarakat terhadap fungsi dan peran Kesehatan Masyarakat Veteriner serta seiring kemajuan teknologi informasi saat ini maka situs ini akan kami gunakan untuk melayani dan menghubungkan Anda dengan Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Read more: Sekapur Sirih

 

Polling Kesmavet 

Menjadi Direktorat yang Mampu Mewujudkan Pelayanan Kesehatan Masyarakat Veteriner Profesional dalam Menjamin Kesehatan dan Ketentraman Bathin Masyarakat.

Visi Kesmavet-Paspa

Pengunjung 

We have 24 guests and no members online

Video 

Pengelolaan dan Pelaksanaan Kurban Yang Benar, Aman, dan Nyaman ------------------------------------------------------------- Cara Memilih Hewan Kurban Yang Baik ------------------------------------------------------------- Metode Perobohan dan Pemotongan Hewan (Sapi) ------------------------------------------------------------- Desain Fasilitas Pemotongan Hewan Kurban(Portable) ------------------------------------------------------------- Pemeriksaan Antemortem Postmortem ------------------------------------------------------------- Kesejahteraan Hewan Kurban ------------------------------------------------------------- Nomor Kontrol Veteriner (NKV) ------------------------------------------------------------- Dialog Penerapan Kesejahteraan Hewan ------------------------------------------------------------- Waspada Penyakit Zoonosis ------------------------------------------------------------- Ayam dan Hormon ------------------------------------------------------------- Penggunaan Antimikrobial Yang Bijak -------------------------------------------------------------

Sebaran Pengunjung