Pencarian 

Tulisan Ilmiah Populer

Media Website Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner menerima tulisan yang dikirim ke alamat redaksi melalui email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. . Tulisan bersifat orisinil, aktual dan informatif tentang kesehatan masyarakat veteriner diketik rapi 1,5 spasi. Panjang tulisan 2-3 halaman diketik format *.doc(words file) maksimal 7000 karakter termasuk spasi. Foto pendukung minimal 2 buah  dengan ukuran masing-masing maksimal sebesar 2MB. Sebelum diterbitkan tulisan di review dan disunting oleh Tim redaksi tanpa merubah isinya.  Perlu kami sampaikan sebelumnya pengiriman tulisan gratis dan tidak tersedia honor bagi penulis. 

Dampak Aflatoksin M1 Dalam Susu Bagi Kesehatan

Ditulis Oleh:

Drh. Diah Nurhayati; Medik Veteriner Pertama - Dit. Kesmavet dan Pascapanen

 

Susu merupakan bahan pangan bernilai gizi tinggi yang dapat diperoleh dari hasil pemerahan hewan seperti sapi, kerbau, kambing dan kuda, namun yang lazim dikonsumsi umumnya adalah susu yang berasal dari sapi. Susu biasanya dikenal sebagai minuman penguat tulang dan gigi karena kandungan kalsium yang dimilikinya. Susu mengandung protein, asam lemak, mineral, dan vitamin yang bermanfaat bagi tubuh. Manfaat susu bagi manusia antara lain menunjang pertumbuhan, mencegah osteoporosis, dan berbagai manfaat lain, sehingga baik dikonsumsi sepanjang usia. Untuk dapat dikonsumsi susu harus memenuhi persyaratan keamanan pangan karena susu mudah terkontaminasi oleh mikroorganisme baik patogen maupun non patogen dari lingkungan. Menurut Undang-undang No. 7 tahun 1996 keamanan pangan didefinisikan sebagai kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan dan membahayakan kesehatan manusia. Gangguan kesehatan atau penyakit yang terjadi akibat mengonsumsi pangan yang mengandung mikroorganisme patogen dikenal dengan foodborne disease atau foodborne illness. Penyakit yang ditularkan melalui makanan (foodborne diasease) dapat terjadi akibat intoksikasi makanan (food intoxication), infeksi makanan (food infection), dan toksikoinfeksi (toxicoinfection). Intoksikasiterjadi akibat mengkonsumsi pangan yang mengandung toksin yang dihasilkan oleh mikroorganisme seperti toksin dari Clostridium botulinum, dan mikotoksin dari kapang.

Read more: Dampak Aflatoksin M1 Dalam Susu Bagi Kesehatan

Teknologi Pengolahan dan Pemanfaatan Kulit Sapi

Oleh:

Drh. Dinal Rifki; Kepala Seksi Teknologi Pascapanen

Pemanfaatan kulit Sapi untuk kepentingan manusia itu  berjalan searah dengan perkembangan peradaban manusia. Dari keseluruhan produk sampingan hasil pemotongan ternak, maka  kulit merupakan produk yang memiliki nilai ekonomis yang paling tinggi.  Berat kulit pada sapi, kambing  dan kerbau memiliki kisaran 7-10% dari berat tubuh.  Secara ekonomis kulit memiliki harga berkisar 10-15% dari harga ternak.

Sejak masa prasejarah  pemanfaatan kulit telah dikenal oleh masyarakat.  Hal tersebut terbukti dari peninggalan tertulis maupun pahatan/relief pada batu yang menunjukkan bagaimana proses pengolahan kulit dan kegunaannya pada manusia sebagai pakaian serta rumah tenda dari bahan kulit (bangsa Indian).Di Semenanjung Asia terutama India dan China ditemukan  bukti tertulis.  Di Afrika khususnya Mesir ditemukan pakaian dari kulit yang dipakai untuk membungkus mummy.  Di Eropa, pengembaraan bangsa Moor telah membawa budayanya sampai Spanyol sehingga teknologi pengolahan kulit berkembang sampai negara-negara Eropa lainnya. Di Museum Berlin disimpan batu yang menggambarkan proses pengolahan kulit harimau.  Demikian pula di British Museum kini tersimpan pakaian dan sepatu dari kulit (mummy) dari masa prasejarah.  Perkembangan proses pengolahan kulit secara sederhana dan pemanfaatannya di Asia disebarkan ke Asia dan Afrika oleh Marcopolo. Potensi hasil ikutan berupa kulit di Indonesia masih sangat besar, hal ini disebabkan masih sedikitnya industri besar yang mengelola secara intensif.  Kalaupun ada kapasitasnya belum mampu memenuhi permintaan pasar. Sebagai contoh industri kulit hanya mampu menghasilkan 350.000.000 sqft/tahun sedangkan permintaan untuk industri alas kaki maupun untuk barang jadi sebesar 673.000.000 sqft/tahun sehingga setiap tahunnya  terjadi kekurangan 323.000.000 sqft.

Read more: Teknologi Pengolahan dan Pemanfaatan Kulit Sapi

Sekilas Residu Hormon Anabolik SIntetik Pada Daging dan Hati Sapi Yang Beredar di Indonesia

Ditulis oleh:

Drh. Zaza Famia dan Drh. Laksmi Widyastuti

Medik Veteriner Pertama, Direktorat Kesmavet dan Pascapanen

Obat1Di surat kabar banyak sekali diberitakan mengenai hormon anabolik sintetik. Nah...mari kita ulas apa sih hormon anabolik sintetik itu? Kebijakan apa saja yang diambil oleh pemerintah terkait hal itu trus apa juga efeknya?

 

Sebenarnya penggunaan hormon anabolik pada ternak itu bertujuan untuk merangsang pertumbuhan atau sebagai growth promoter, dimana hormon dapat membantu efisiensi sistem metabolisme ternak dalam mengkonfersi pakan menjadi daging. Hal ini merupakan pengembangan dari praktek penggunaan hormon di lapangan, yang mana pada awalnya hanya digunakan untuk pengobatan penyakit.

Namun demikian dalam prakteknya, preparat hormon pemacu pertumbuhan digunakan dalam bentuk implan yang berbentuk kecil di bawah kulit pada bagian belakang telinga. Implan hormon akan melepaskan hormon ke dalam sirkulasi tubuh secara perlahan dalam dosis yang kecil selama periode penggunaan umumnya antara 100 – 200 hari, tergantung dari jenis produknya.

Read more: Sekilas Residu Hormon Anabolik SIntetik Pada Daging dan Hati Sapi Yang Beredar di Indonesia

Produk Daging Beku dan Thawing yang Aman

Ditulis oleh:

Drh. Lili Darwita; Medik Veteriner Muda-Direktorat Kesmavet dan Pascapanen

  

Daging merupakan salah satu bahan pangan asal ternak yang mengandung zat-zat gizi bernutrisi tinggi yang sangat layak dikonsumsi manusia. Kandungan gizi daging sebagian besar terdiri dari air (65-80)%, protein (16-22)%, lemak (1,5- 13)%, substansi non protein nitrogen sekitar 1,5 %, karbohidrat dan mineral sebesar 1,0 %. Kandungan gizi yang cukup tinggi di dalam daging tersebut merupakan media yang ideal bagi pertumbuhan mikroorganisme dan aktivitas enzim, sehingga daging merupakan bahan pangan yang cepat mengalami kerusakan yang diakibatkan oleh aktivitas mikrobia dan proses enzimatis yang berlanjut, dan jika tidak segera mendapatkan penanganan tertentu maka dalam batas waktu 24 jam pada temperatur ruang setelah pemotongan daging sudah mengalami kerusakan, oleh karena itu, suatu pengawetan segera dilakukan untuk mencegah kerusakan daging.

Kerusakan yang terjadi didalam daging dapat dicegah dengan menggunakan beberapa cara pengawetan antara lain pendinginan, pembekuan, pengasinan, pengasapan, pengeringan, irradiasi dan penambahan bahan-bahan lain.

Cara-cara tersebut prinsipnya adalah untuk menekan aktivitas mikrobia dan mengurangi proses enzimatis yang dapat mempercepat kerusakan daging.

Read more: Produk Daging Beku dan Thawing yang Aman

Harmonisasi Penyembelihan Ternak Halal dalam Syar'i Islam dengan Standard Kesejahteraan Hewan, OIE

Ditulis Oleh:

Drh. H. Yudi Prastowo

Medik Veteriner Madya, DIrektorat Kesmavet dan Pascapanen

 

Kebanyakan masyarakat Muslim kurang peduli terhadap perlakuan kejam pada ternak yang akan disembelih, dimulai dari sejak selama pengangkutan, perlakuan sebelum disembelih dan saat disembelih. Padahal dalam kitab Al-Quran dan Hadist mengajarkan kepada kepedulian kesejahteraan hewan melalui perlakuan baik dan belas kasih. Sebagai contoh hadist Rasullulah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah SWT mewajibkan berbuat baik kepada segala hal. Oleh karena itu, jika kalian membunuh, maka bunuhlah dengan baik. Jika kalian menyembelih, maka sembelihlah dengan baik. Hendaknya salah seorang kalian menenangkan hewan yang akan disembelih dan menajamkan pisaunya (Diriwayatkan Muslim, At Tirmizi, An- Nash, Abu Dawud dan Ahmad).

Read more: Harmonisasi Penyembelihan Ternak Halal dalam Syar'i Islam dengan Standard Kesejahteraan Hewan, OIE

Sekapur Sirih 

Drh. Syamsul Maarif M.Si

Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh,

Kami dengan rasa gembira menyambut partisipasi Anda di situs web kami. Sejalan dengan semakin berkembangnya tuntutan masyarakat terhadap fungsi dan peran Kesehatan Masyarakat Veteriner serta seiring kemajuan teknologi informasi saat ini maka situs ini akan kami gunakan untuk melayani dan menghubungkan Anda dengan Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Read more: Sekapur Sirih

 

Polling Kesmavet 

Menjadi Direktorat yang Mampu Mewujudkan Pelayanan Kesehatan Masyarakat Veteriner Profesional dalam Menjamin Kesehatan dan Ketentraman Bathin Masyarakat.

Visi Kesmavet-Paspa

Pengunjung 

We have 25 guests and no members online

Video 

Pengelolaan dan Pelaksanaan Kurban Yang Benar, Aman, dan Nyaman ------------------------------------------------------------- Cara Memilih Hewan Kurban Yang Baik ------------------------------------------------------------- Metode Perobohan dan Pemotongan Hewan (Sapi) ------------------------------------------------------------- Desain Fasilitas Pemotongan Hewan Kurban(Portable) ------------------------------------------------------------- Pemeriksaan Antemortem Postmortem ------------------------------------------------------------- Kesejahteraan Hewan Kurban ------------------------------------------------------------- Nomor Kontrol Veteriner (NKV) ------------------------------------------------------------- Dialog Penerapan Kesejahteraan Hewan ------------------------------------------------------------- Waspada Penyakit Zoonosis ------------------------------------------------------------- Ayam dan Hormon ------------------------------------------------------------- Penggunaan Antimikrobial Yang Bijak -------------------------------------------------------------

Sebaran Pengunjung